TANGGUNG JAWAB DAN KEADILAN

 

A. Pengertian Tanggung Jawab

Menurut W.J.S Purwadarminta dalam kamus Bahasa Indone­sia memberikan defenisi tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Bertanggung jawab berarti berbuat sesuatu yang di dasarkan pada apa, mengapa dan untuk siapa melakukan sesuatu itu (Mustopo,1988:191).

Perbuatan yang di maksud dalam hal ini adalah perbua­tan atau tingkah laku yang di sengaja ataupun yang tidak di sengaja. Maka pengertian dari tanggung jawab dalam kehidupan sehari‑hari yaitu beban fisik (kejiwaan) yang melandasi pelaksanaan kewajiban dari tugas tertentu. Dan kesanggupan seseorang terhadap tugas tertentu tersebut merupakan kewaji­ban, dan akan berakibat suatu celaan atau menerima akibat tertentu jika tidak di laksanakan. Apabila mereka melupakan tugas wajib dapat diartikan mereka melupakan atau tidak bertanggung jawab. Jadi dengan adanya kewajiban itu ia memiliki tanggung jawab karena ia mempnyai kewajiban berbe­da‑beda dan tanggung jawab yang berbeda pula. Dengan kata lain tanggung jawab merupakan sikap yang di tuntut dalam jiwa atas dasar pelaksanaan suatu pekerjaan, dimana sikap yang ada menjamin antara seorang yang membutuhkan suatu pekerjaan dengan orang yang memberikan pekerjaan tersebut agar lebih terjalin hubungan saling mempercayai diantara keduanya.

Dalam suatu tanggung jawab tidak terlepas pada hak dan kewajiban seseorang kepada orang lain. Dimana hak dan kewaj­iban inilah yang dapat mendukung seseorang untuk mengaktual­kan sikap tanggung jawab pada sesuatu pekerjaan yang ada.

Menurut Austin Fagothey, hak didefenisikan sebagai wewenang moral untuk mengerjakan, meninggalkan, memiliki, mempergunakan atau menuntut sesuatu (Mustopo,1988:194). Dengan kata lain hak merupakan panggilan kepada kemauan orang lain dengan perantaraan akalnya, perlawanan dengan kekuasaan atau kekuasaan fisik. Demikian halnya manusia mampu mengorbankan apa saja untuk segelintir hak yang di tuntutnya dari orang lain.

Manusia memiliki hak di dalam kehidupannya kendatipun demikian manusia juga mempunyai kewajiban yang harus di penuhi, dimana diantara hak dan kewajiban saling berkeseim­bangan, saling memenuhi, sehingga suatu kewajiban yang di laksanakan seseorang mampu untuk mendapatkan hak yang diha­rapkannya.

Problema yang utama di rasakan pada masa sekarang ini sehubungan dengan masalah tanggung jawab adalah rusaknya peranan moral dan rasa hormat diri terhadap tanggung jawab. orang yang bertanggung jawab itu adil atau mencoba berbuat adil, tetapi adakalanya orang yang bertanggung jawab tidak dianggap adil, karena runtuhnya nilai‑nilai yang dipegang­nya. orang yang demikian tentu akan mempertanggung jawabkan segala sesuatunya kepada Tuhan, Dia tidak tampak tapi Ia menggerakkan dunia ini dan mengaturnya. jadi orang semacam ini akan bertanggung jawab kepada Tuhannya.

 

B. Macam‑ macam tangung jawab

               Kita telah mengetahui bersama bahwasanya manusia itu adalah makhluk yang selalu dapat berinteraksi dengan ling­kungannya yang tempatinya. Dengan demikian dimana manusia berada secara tidak langsung manusia di tuntut untuk dapat bertanggung jawab atas apa yang ada pada lingkungan sekitar­nya. Oleh sebab itu ada beberapa tanggung jawab yang perlu diketahui dalam kehidupan manusia, dalam hal ini kami mengu­pas masalah tanggung jawab menurut Islam.

 

1. Tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Tanggung jawab pada diri sendiri berkaitan dengan kewajiban yang mendasar pada diri pribadi. Manusia dalam hidup dan kehidupannya sangat membutuhkan bantuan manusia lain manusia di lahirkan dalam keadaan suci tanpa dosa bagaikan selembar kertas putih yang belum tergores noda tinta sedikitpun. Dengan demikian pada dasarnya perbuatan baik dan buruk ada pada manusia, kendatipun telah ada qadha dan qadar Allah sebagai Khalik, namun manusia mampu merubah sikap dan perbuatan tersebut dengan ikhtianya yang ada.

Segala perbuatan manusia juga harus dapat bertanggung jawab pada dirinya sendiri, dengan kata lain manusia harus memenuhi segala yang dibutuhkan jasmani dan rohaninya demi mencukupi kodratnya sebagai makhluk hidup. Dapat kita con­tohkan dari kebutuhan manusia akan pangan. Hal ini didukung oleh firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 142.

“Dan diantara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makan­lah dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu dan janganlah kamu mengikuti langkah‑langkah syaitan, sesung­guhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu

Dari dalil diatas dapat kita artikan bahwasanya Allah telah memberikan beraneka ragam tanaman, tumbuh‑tumbuhan dan buah‑buahan, kemudian macam‑macam binatang ternak yang berbeda‑beda manfaatnya, yang pada dasarnya untuk dimanfaat kan bagi manusia, itulah rizki yang di berikan Allah kepada manusia (Ahmad dkk,1991:39‑41). Agar manusia mendapatkan pangan yang cukup di dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya, sehingga tanggung jawab pada dirinya tercapai. Dengan adanya pangan yang cukup bagi tubuh manusia maka manusia mampu bertahan hidup. Manusia mencari makan, tidak lain adalah karena adanya rasa tanggung jawab terhadap dirinya sndiri agar dapat melangsungkan hidupnya (Mustopo, 1988:192).

Selain pangan manusia juga butuh papan dan sandang, ini juga penting di dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia didalam tanggung jawab pada dirinya sendiri. Apabila kebutu­han terebut telah terpenuhi menurut prinsipnya, maka dapat dikatakan manusia terebut telah memenuhi tanggung jawab pada dirinya sendiri. Namun dalam memenuhi tanggung jawab hidup pribadinya itu, ia juga bertanggung jawab terhadap apa yang ia lakukan.   Hal ini di tegaskan dalam surat Al-Mudatsir ayat 38.

   “Tiap‑tiap diri bertanggung jawab atas apa yang di per­buatnya.”

 

2. Tanggung jawab terhadap keluarga.

Keluarga merupakan bagian terpenting dalam kehidupan seorang manusia, dengan adanya keluarga manusia dapat hidup tentram terarah. Kelurga adalah bagian hidup manusia yang juga perlu di pertanggung jawabkan. Allah berfirman dalam surat At Tahrim : 6.

 

“Hai orang‑orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan‑Nya kepada mereka dan mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Makna dalil diatas, seseorang manusia harus mampu menjaga diri dan keluarganya dari ancaman api neraka, dengan kata lain tanggung jawab seseorang dalam keluarganya sangat besar, ia harus mampu merubah kepad hal yang baik dan mence­gah agar keluarga tersebut tidak terjerumus dalam kesesatan, karena Allah telah mengingatkan akan azab api neraka bagi orang yang melanggar perintah‑Nya.

Keluarga hidup tentram dan sejahtera merupakan tang­gung jawab setiap manusia dalam keluarga tersebut. Ia harus mampu menjaga keberadaan keluarganya untuk dapat bertahan dalam kehidupan ini, dengan memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani para keluarganya, karena Allah sangat membenci orang‑orang yang melalaikan keluaganya dalam kelemahan dan kesusahan.

 

   “Dan hendaklah takut kepada Allah orang‑orang yang sean­dainya meninggalkan di belakang mereka anak‑anak ang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada  Allah  dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”(Q.S. An Nisa’: 9).

Menjaga keluarga dari kefakiran lebih di utamakan di banding menjaga orang lain. Jangan sampai keluarganya ter­lantar sepeninggal mereka jika kebetulan mereka menjada orang kaya.(Drs.Abdul Rahman Muis dkk,1988 : 94 & 98). Begitu besar tanggung jawab seseorang terhadap keluarganya, demi kelangsungan hidupnya serta menyangkut harga diri, kehormatan atau nama baik keluarganya, keselamatan, pendidi­kan dan kehidupan yang layak. Oleh karena itu setiap onggota keluarga sesuai dengan fungsi dan kedudukannya di tuntut dan wajib bertanggung jawab terhadap keluarganya.

 

3. Tanggung jawab terhadap masyarakat.

Kehidupan seorang manusia akan terasa hampa jika tidak ada orang lain yang dapat membantu, menolong dan menghibur. Antara individu dengan individu yang lain hendaknya terjalin  manusia membutuhkan komunikasi dengan manusia lain.

Seorang manusia dimana ia bertempat tinggal harus mampu bertanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya agar dapat melangsungkan kehidupannya di tengah‑tengah masyarakat tersebut.

Dapat kita contohkan, sseorang anggota masyarakat yang menyediakan tempat untuk perbuatan maksiat pada lingkungan masyarakat yang baik, apapun alasannya tindakan ini termasuk tidak bertanggung jawab terhadap masyarakat, karena secara moral psikologis akan mempengaruhi masa depan para generasi muda yang ada dalam masyarakat tersebut (Mustopo,1988: 193).

Situasi dan kondisi seorang anggota masyarakat sangat terkait dengan keadaan masyarakt tersebut. Tingkah laku dan perbuatan yang membentuk jiwa para generasi muda dalam lingkungan masyarakat menjadi baik dan buruk adalah terletak pada tangung jawab warga dan inidvidu masyarakat itu sen­diri. Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104.

 

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan yang menyeru kepada kebajikan dan menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang‑orang yang beruntung

Kandungan dalil diatas menjelaskan jika ada segolongan umat yang dapat mengajak, menetru orang lain pada kebaikan dan mencegah untuk berbuat kemungkaran adalah umat yang beruntung, dengan kata lain kepedulian tersebut di dasari oleh rasa tanggung jawab terhadap masyarakatnya. Dimana rasa tanggung jawab tersebut menjadikan kehidupan masyarakat yang harmonis, selaras antara sesama warga masyarakat. Sikap yang bertanggung jawab tersebut dapat di wujudkan denagn pembi­naan sikap, memelihara kerukunan antara sesama anggota masyarakat dan menjaga keamanan serta ketentraman masyarakat dimana ia bertempat tinggal. Dengan demikian segala kebera­daan dan kepribadian seseorang harus dapat mencerminkan sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab kepada masya­rakatnya.

 

4. Tanggung jawab terhadap lingkungan.

Pada hakikatnya suatu lingkungan yang aman, tentram dan damai di dukung oleh keadaan masyarakat dan jiwa indivi­du yang ada dalam masyarakat tersebut. Masyarakat yang mampu menjaga dan memelihara lingkungannya sedemikian rupa merupa­kan masyarakat yang telah bertanggung jawab kepada lingkun­gannya, dengan kata lain masing‑masing individu dalam masya­rakat tersebut mampu menjaga terciptanya keamanan dan keter­tiban lingkungannya.

Setiap individu harus sadar bahwa lingkungan sekitar­nya harus tetap di jaga kestabilannya. Lingkungan yang baik dengan masyarakat yang berbudi baik akan melahirkan orang‑orang yang baik pula, namun sebaliknya keadaan masyarakat dengan lingkungan yang buruk serta moral yang rendah akan menghasilkan manusia‑manusia yang tidak berpotensi dengan moral yang buruk dan mengkhawatirkan. Jadi lingkungan meru­pakan wadah yang paling vital untuk diperhatikan dalam masyarakat, dengan kata lain keadaan lingkungan suatu msya­rakat berpengaruh besar didalam pembentukan jiwa mansuianya. Dengan demikian memelihara lingkungan sekitarnya menunjukkan adanya rasa tanggung jawab seseorang pada lingkungannya.

Dalam hal ini pengertian lingkungan bukan hanya masya­rakatnya saja tetapi semua unsur‑unsur yang mencakup didalam lingkungan itu. Pada dasarnya Allah telah memelihara ling­kungan alam semesta dengan begitu indah, namun manusialah yang merusak keindahan lingkungan tersebut, dan ini merupa­kan perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab. Firman Allah dalam surat Ar Ruum ayat 41.

   “Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka kemba­li (kejalan yang benar).

Dalil di atas menunjukkan betapa manusia telah merusak kestabilan lingkungan alam yang Allah ciptakan bagi mereka. Dengan kata lain manusia tersebut tidak memiliki rasa tang­gung jawab sedikitpun. Manusia dengan kemodrenan teknologi mereka telah melepas tanggung jawabnya untuk sekedar berlom­ba dalam mencapai kepuasan di dunia. Akibat dari pada itu banyak terjadi bencana alam, tanah longsor, banjir yang diakibatkan penggundulan hutan, wabah penyakit merajalela akibat pencemaran air dan udara, semuanya menjadikan keresa­han dalam lingkungan masyarakat (Ahmad.dkk,1991 : 29).

Oleh sebab itu hendaklah setiap individu masyarakat mampu memelihara lingkungannya dan menjaga hal‑hal yang dapat merugikan orang banyak, dimana usaha terebut merupakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan terlebih‑lebih rasa tanggung jawab kepada Allah swt.

 

5. Tanggung jawab terhadap Tuhan.

Manusia adalah makhluk yanh mulia di bandingkan dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya, dimana kedudukan manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30.

 

Dan sesungguhnya Allah berkata kepada para Malaikat, ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malikat; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi, mereka berkata; “Mengapa Engkau ingin menjadi­kan khalifah (di muka bumi itu) orang yang membuat keru­sakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senan­tiasa bertasbih dan memuji Engkau ? Tuhan berfirman ;” sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Makna dalil di atas menunjukkan bahwa keberadaan manusia di angkat Allah sebagai khalifah di atas makhluk lainnya. Kendatipun demikian manusia tidak lepas dari tang­gung jawabnya kepada Tuhan atas semua perbuatannya, sebab kebesaran dan kekuasaan manusia masih dalam kekuasaan Allah. Semua pekerjaan dan usaha yang di lakukan manusia seluruhnya harus di pertanggung jawabkan kepada Tuhan.

Tanggung jawab kepada Tuhan menurut kesadaran manusia adalah untuk memenuhi kewajiban dan pengabdiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia harus bersyukru atas karunia‑Nya yang menciptakan manusia dan memberikan rizki‑rizki kepadanya. Oleh sebab itu manusia wajib mengabdi kepada Tuhan sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Dzariat ayat 56.

“Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka itu menyembah kepada‑ Ku.

Begitu mendasar tanggung jawab yang harus diberikan manusia kepada Allah swt. Dengan adanya rasa tanggung jawab kepada Allah maka seorang manusia akan merasa berhati‑hati di dalam setiap aktifitas kehidupannya. Manusia di harapkan mampu meeninggalkan semua larangan dan mengerjakan semua perintah yang di berikan Allah kepada manusia. Allah membe‑rikan kewajiban kepada manusia untuk dilaksanakan yang mana kewajiban tersebut adalah untuk mendapatkan hak manusia sendiri, dengan kata lain kewajiban terhadap Allah telah di laksanakan maka hak manusia adalah untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat dan semua ini terpulang kepada diri manu­sia serta kehendak Allah swt.

Menyembah itu dalam arti mengabdi kepada Tuhan sebagai wujud tanggung jawab kepada Tuhan. Tanggung jawab di sini erat kaitannya dengan kewajiban. Kewajiban adalah merupakan sesuatu yang di bebankan kepada seseorang, namun Allah hanya membebankan sesuatu itu berdasarkan atas kemampuannya. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah 286.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang di usahakannya dan ia mendapat (siksa dari kejahatan) yang di kerjakannya.

Kesanggupan dan kemampuan seseorang tidak di paksakan oleh kewajiban yang di bebankan kepadanya. Namun kewajiban‑kewajiban tersebutlah yang harus di pertanggung jawabkan kepada Tuhan, sebagai akhir dari proses untuk mendapatkan hak.

 

 

C. Makna Keadilan

Keadilan adalah pengakuan dan perlakuakn yang seimbang antara hak dan kewajiban. Jika kita mengakui hak hidup kita, maka kita wajib mempertahankan hak hidup  tersebut dengan bekerja keras tanpa merugikan orang lain. Hal ini disebabkan bahwa orang lainpun mempunyai hak hidup seperti kita. Jika kita mengakui hak hidup orang lain, kita wajib memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mempertahankan hak hidup­nya. Jadi keadilan pada pokoknya terletak pada keseimbangan atau keharmonisan antara menuntut hak dan menjalankan kewajiban (Suyadi, 1986 : 123).

Dengan keinsyafan dan kesadaran akan keadilan, kita akan mampu memenuhi cipta, rasa dan karsa manusia terhadap sesama atau pihak lain, sehingga akan membentuk hati nurani manusia. Pada dasarnya hakekat dan kodrat manusia senantiasa berusaha untuk keadilan yang merupakan wujud cinta kasih.

Dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 90 Allah memerintah­kan agar berbuat adil :

 

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan ber­buat kebajikan, memberi kaum kerabat …”

 

Dalam surat Al-Maidah ayat 8 Allah berfirman :

 

Dan janganlah sekali‑kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebh dekat kepada taqwa…”

Pada dasarnya keadilan itu tidak pernah berubah makna dan prinsipnya, yang berubah hanyalah bagaimana cara seseo­rang menafsirkannya, sehingga berbeda pula cara pelaksanaan­nya. Hal ini disebabkan oleh adanya tingkah laku dan kepen­tingan manusia yang berbeda. Karakteristik manusia yang berbeda‑beda ini turut mempengaruhi wujud keadilan. Hal ini mudah dimengerti karena tidak adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Apabila seseorang atau golongan hanya memen‑tingkan hak dan kewajiban sendiri tanpa memikirkan kepentin­gan orang lain atau golongan lainnya, terjadilah keadilan semu. Misalnya saja :

Pengusaha :

Bagi mereka adil itu apabila keuntungan terbesar jatuh pada pengusaha.

Buruh:

 Bagi buruh diakatakan adil apabila upah dibayar pada waktunya dan keuntungan perusahaan juga dibagi wajar pada kaum buruh.

Golongan Demokrat :

Menganggap adil apabila kepentingan rakyat selalu diutamakan.

Golongan Komunis:

Menganggap adil sekiranya hak milik perseorangan ditiadakan.

Seorang filosof Cina Khong Hu Tsu, menuturkan tentang keadilan  sebagai berikut: “Bila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai taja, masing‑masing telah melaksanakan kewajibannya, maka itulah keadilan”. Tegasnya menurut Tsu bila masing‑masing telah menjalankan fungsinya baru tercapai keadilan.

Di dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa adil itu adalah

  • Tidak berat sebelah atau tidak memihak ke salah satu pihak.
  • Memberikan sesuatu kepada setiap orang  sesuai dengan hak yang harus diperolehnya.
  • Mengetahui hak dan kewajiban, mengerti mana yang benar dan mana yang salah, bertindak jujur dan tepat menurut peraturan  atau syarat dan rukun yang telah ditetapkan, tidak sewenag‑wenang dan tidak maksiat atau berbuat dosa (Shadily, 1991 : 79).

Ditinjau dari bentuk ataupun sifat‑sifatnya, keadilan dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis :

1. Keadilan legal atau formal

Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaannya yang menurut sifat dasarnya paling cocok untuknya. Pendapat Plato itu dise­but keadilan moral. Sedangkan Sunoto menyebutnya dengan keadi­lan legal.

Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras kepada bagian yang membentuk suatu masyarakat. Keadilan terwujud dalam masyarakat bilamana setiap anggota melakukan fungsinya secara baik menurut kemampuannya.

2. Keadilan Distributif

Menurut Aristoteles bahwa keadilan akan terlaksana bila­mana hal‑hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal‑hal yang tidak sama diperlakukan secara tidak sama. Suatu contoh: Umar bekerja 10 tahun dan Usman bekerja 5 tahun. Pada waktu diberikan hadiah harus dibedakan antara Umar dan Usman, yaitu perbedaan sesuai dengan lamanya kerja. Andaikata Umar menerima Rp. 1.000.000,‑ maka Usman harus menerima Rp. 500.000,‑. Ini disebut adil. Akan tetapi bila besar hadiahnya sama, justru hal itu tidak adil.

 

3. Keadilan Komulatif

Keadilan komulatif ini harus dilaksanakan oleh seluruh anggota. Artinya seluruh anggota harus melaksanakan hak dan kewajiban dengan baik dengan tidak merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat (Hoegio­no, 1990  : 60).

 

D. Kejujuran

Kejujuran berasal dari kata jujur yang berarti apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan‑perbuatan yang dilarang agama dan hukum. Jujur berati pula menepati janji atau menepati kesanggupan, baik yang telah terlahir dalam kata‑kata maupun yang masih di dalam hati.

Sifat jujur mewujudkan sikap keadilan, sedang keadilan menuntut kemuliaan abadi. Jujur memberikan keberanian serta ketenteraman hati. Seseorang mustahil dapat memeluk agama dengan sempurna apabila tidak memiliki sifat jujur.

Pada hakekatnya kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan akan adanya sama hak dan kewajiban serta takut akan kesalahan atau dosa.

Adapun kesadaran moral adalah kesadaran tentang diri kita sendiri berhadapan dengan hal baik buruk. Disitu manu­sia dihadapkan kepada pilihan antara yang halal dan yang haram, yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, meskipun dapat dilakukan. Dalam hal ini kita melihat sesuatu yang spesifik  atau khusus manusiawi.

Ada bermacam penyebab orang tidak berlaku jujur. Mungkin karena tidak rela, mungkin karena pengaruh lingkun­gan, karena sosial ekonomi, ingin populer dan sebagainya.

Dalam kehidupan sehari‑hari jujur dan tidak jujur merupakan bagian hidup yang tidak dapat dipisahkan  dari kehidupan manusia itu sendiri.

Untuk mempertahankan kejujuran, berbagai cara dan sikap perlu dipupuk. Namun demi sopan santun dan pendidikan, orang boleh berkata tidak jujur  sampai pada batas‑batas yang dibenarkan.

 

E. Kecurangan

Kecurangan artinya apa yang dilakukan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Kecurangan membuat manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan agar dianggap seba­gai orang yang paling hebat, paling senang dan sebagainya. Orang seperti itu biasanya tidak senang bila ada orang yang melebihinya. Padahal agama apapun tidak membenarkan orang menumpuk‑numpuk harta sebanyak‑banyaknya tanpa menghiraukan orang sekelilingnya. Allah melarang manusia berbuat demikian sebagaimana firman‑Nya Di dalam Al-Quran surat Al-Humazah  ayat 1‑4 :

 

  1. 1.      Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.
  2. 2.      Yang mengumpulkan harta dan menghitung‑hitungnya (yang karenanya ia menjadi kikir dan tidak mau menafkahkan di jalan Allah).
  3. 3.      Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.
  4. Sekali‑kali tidak!. Sesungguhnya ia benar‑benar akan dilemparkan ke dalam neraka Huthamah.

Penyebab utama orang melalukan kecurangan adalah karena ia menginginkan keuntungan bagi dirinya tanpa memper­dulikan orang lain. Apa yang ada dalam fikirannya adalah bagaimana agar mendapat lebih dari semsetinya meskipun orang lain dirugikan karena kecurangannya. Seseorang melakukan korupsi (tindak kecurangan) karena ia menginginkan lebih dengan cara yang tidak benar.

Penyebab lainnya adalah karena ingin populer (terke­nal). Karena ingin mendapatkan gelar juara, maka perlombaan yang dilakukannya disisipin dengan kecurangan. Tindakan‑tindakan kecurangan itu tentu tidak disenangi oleh orang lain, karena tindakannya itu merugikan orang lain atau mengambil hak orang lain dengan cara licik.

 

 

 

 

                                                                                          

 

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s