STRATIFIKASI SOSIAL DAN INTERAKSI SOSIAL

A. pengertian stratifikasi sosial

 

Stratifikasi sosial (social stratification) merupakan istilah sosiologi yang menunjukkan adanya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat. Stratifikasi berasal dari kata strata yang bermakna lapisan.

          Adanya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat menggambarkan bahwa dalam setiap kelompok terdapat perbedaan bahwa dalam setiap kelompok terdapat perbedaan kedudukan seseorang dari yang berkedudukan tinggi sampai kepada kedudukan yang paling rendah, seolah-olah merupakan lapisan yang bertingkat-tingkat dari atas ke bawah (berhierarchie).

          Stratifikasi dalam masyarakat sama usianya dengan peradaban manusia, tidak terkecuali pada masyarakat kapitalis, demokratis, komunis, bahkan dalam Islam juga dikenal sistem lapisan ini seperti termaktub dalam Al-Qur’anul Karim surah al-Ma’un ayat 1-3 yang menyatakan : “Apakah engkau melihat orang yang mendustakan Agama? Yaitu orang yang mengusir anak yatim dan enggan memberi makan orang miskin”. Di sini jelas terlihat bahwa adanya pelapisan yang kaya dengan yang miskin dan pelapisan antara seorang anak yang mempunyai orangtua dengan anak yatim. Perbedaan di atas khususnya mengenai kaya miskin dalam Islam jangan dikaitkan dengan perbedaan kedudukan mereka di sisi Tuhan, tetapi yang terlihat dari kenyataan adanya tingkatan perbedaan di dalam masyarakat.

          Strata ini terjadi karena dalam masyarakat selalu ada yang dihargai sebagai hal yang menyebabkan timbulnya bibit-bibit strata di dalam masyarakat.

          Hal itu mungkin berupa uang, harta, kekuasaan, ilmu pengetahuan, pekerjaan, wilayah tempat tinggal dan sebagainya. Barang siapa yang memiliki sesuatu yang berharga tadi dalam jumlah yang besar kemungkinan bagi dirinya dianggap sebagai warga yang menduduki lapisan atas begitu pula sebaliknya orang yang tidak memiliki adalah orang-orang lapisan bawah, sedangkan yang pertengahan lapisan tengah.

          Kategori lapisan yang terdiri dari lapisan atas, menengah dan bawah akan dijumpai pula lapisan-lapisan seperti yang dikenal dengan istilah upper class, midle class, lower class yang kesemuanya menunjukkan adanya lapisan-lapisan atas, menengah, dan seterusnya.

          Stratifikasi yang jelas terlihat dan mudah difahami adalah strata masyarakat Hindu yang berpuncak dari sistem kepercayaan yang memiliki kasta-kasta. Strata kekastaan ini merupakan stratifikasi yang kekal dan tertutup (closed social stratification). Artinya Sudra akan tertutup selamanya berada pada lapisan terendah secara turun temurun. Apapun keahliannya, bagaimanapun perkasanya, setinggi apakah prestasinya yang dicapai, namun ia tidak akan pernah naik pada lapisan atas, ia akan tetap kekal pada kasta/lapisannya sediakala. Sebaiknya pada lapisan teratas katakanlah lapisan/kasta Brahmana, meskipun lumpuh, miskin, bodoh dan sebagainya ia akan senantiasa pula berada pada tingkatan teratas.

          Tetapi tidak semuanya stratifikasi bersifat kekal dan tertutup, bahkan stratifikasi yang bersifat terbuka (open social stratification) yang selalu dijumpai dalam masyarakat kita. Strata yang bersifat terbuka memberi kesempatan setiap anggota masyarakat untuk menduduki lapisan teratas. Atau bagi mereka yang kurang beruntung akan meluncur pada lapisan bawah. Ini misalnya terdapat pada stratifikasi karena kekayaan, jabatan, pekerjaan dan sebagainya.

 

B.  TERJADINYA STRATIFIKASI SOSIAL

          Untuk mempelajari sistem berlapis-lapisan di dalam suatu masyarakat pada umumnya dipergunakan kriteria atau ukuran untuk menggolong-golongkan masyarakat dengan dasar terjadinya lapisan masyarakat :

–    ukuran kekayaan (kebendaan)

–    ukuran kekuasaan

–    ukuran kehormatan

–    ukuran ilmu pengetahuan

1.  Ukuran kekayaan atau kebendaan (material) dapat dijadikan suatu ukuran, artinya orang-orang yang mempunyai kekayaan paling banyak didudukkan pada lapisan teratas, sedangkan yang kurang kaya berada pada lapisan di bawahnya. Kekayaan itu dapat dilihat daripada bentuk rumah, mobil, pakaian, kebiasaan mempergunakan benda-benda serba lux dan sebagainya. Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah bila seseorang sudah menduduki lapisan atas maka ukuran lainnya kadang-kadang bermukim pula pada daerah yang elit, bukan di lokasi yang murahan, karena ia memang sudah kaya menyebabkan kesempatannya untuk menjadi seorang sarjana yang memilki ilmu pengetahuan lebih besar pula.

2.  Demikian pula ukuran kekuasaan, siapa yang memiliki wewenang terbesar atau pangkat yang tinggi menempati lapisan teratas. Ini jelas terlihat dalam upacara resmi (protokoler) bahwa gubernur mempunyai kekuasaan yang lebih besar dari bupati, sehingga dalam suatu acara jelas terlihat bahwa gubernur lebih dihargai dari bupati.

3.  Ukuran kehormatan adalah orang yang paling dihormati dan disegani masyarakat pedesaan dan biasanya tokoh-tokoh non formallah yang mendapat tempat sebagai orang dihormati, termasuk para ulama, tokoh adat, pejuang dan sebagainya. Karena merekalah yang telah berjasa pada masyarakat.

4.  Ilmu pengetahuan dapat dijadikan sebagai alat ukuran oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Akibatnya tak jarang yang dijadikan sebagai alat ukurannya bukanlah kualitas pengetahuannya, tetapi gelar kesarjanaannya yang dijadikan sebagai alat ukurannya. Karena itu pulalah orang selalu berusaha mengejar gelar sarjana yang kadang-kadang dengan cara yang ilegal.

          Kriteria pelapisan sosial pada hakikatnya tergantung pada sistem nilai yang dianut oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. Oleh sebab itu, boleh jadi masih ada ukuran lain yang membuat seseorang menempati strata tertentu dalam masyarakat.

  • Silahkan Anda renungkan kriteria apalagi yang membuat seseorang menempati posisi tertentu dalam masyarakat.
  • Apakah sama kriterianya seseorang yang menempati posisi teratas dan sebagainya antara masyarakat desa dan kota.

          Masih ada pembicaraan lain menyangkut sistem berlapis-lapis dalam masyarakat, yaitu unsur-unsur lapisan dalam masyarakat itu sendiri. Adapun yang dimaksud dengan unsur-unsur tersebut adalah status dan peranan sosial. Oleh sebab itu untuk memperjelas dan memperdalam pengetahuan mengenai stratifikasi sosial dalam masyarakat perlu diketahui masalah status dan peranan tersebut.

 

C.   STATUS DAN PERANAN SOSIAL (Kedudukan. Role-Peranan)

          Melanjutkan pembicaraan tentang kedudukan, berarti kita telah membicarakan “unsur-unsur lapisan dalam masyarakat”. Unsur-unsur itu terdiri atas kedudukan (strata) dan peranan (role).

          Status dapat diberi batas sebagai suatu kedudukan di dalam sutu sistem kemasyarakatan yang sama sekali tidak tergantung pada para pelaku tersebut. Sedangkan peranan dapat dikatakan sebagai bagian dari pada suatu status yang terdiri dari suatu/sekumpulan norma-norma sosial. Norma-norma tersebut sedikit banyaknya terintegrasi dalam membentuk suatu peranan.

          Di dalam suatu sistem sosial mesti terdapat berbagai macam kedudukan/status, seperti misalnya suami-isteri, anak laki-laki atau anak perempuan. Hal ini meruakan konsekwensi logis dari adanya dua orang atau lebih di dalam setiap sistem sosial kemasyarakatan.

          Yang dimaksud dengan sistem sosial adalah pola-pola yang mengatur hubungan timbal balik antara individu itu dalam masyarakat serta hubungan individu dengan masyarakatnya dan sebaliknya.

          Kembali pada pembicaraan kedudukan atau status seseorang sangat menentukan sifat dan tingkat kewajiban serta tanggungjawabnya di dalam masyarakat. Selain itu menentukan pula hubungan atasan-bawahan terhadap anggota-anggota lain dalam lapisan masyarakatnya.

          Status jangan disamakan artinya dengan individu yang menduduki tempat tertentu, karena status adalah seperangkat tanggungjawab, kewajiban serta hak-hak yang sudah ditentukan dalam suatu masyarakat. Ketentuan itu berkaitan dengan suatu kedudukan tertentu yang dimaklumi dan diakui oleh masyarakat seperti misalnya dalam sebuah keluarga. Di dalam keluarga status sang suami atau isteri dikaitkan dengan hak-hak dan kewajibannya. Sekalipun akibat pengertian yang keliru tentang pengertian status suami isteri dalam masyarakat rumah tangga menjadi kabur.

          Seorang atau individu dapat memperoleh status tertentu dalam masyarakat dengan dua cara yang berlaku umum yaitu :

     –    diperoleh secara otomatis (ascribed statuses)

     –    diperoleh melalui usaha (achieved status)

1.  Status yang diperoleh secara otomatis, pada umumnya diperoleh pada saat ia dilahirkan tanpa harus berusaha untuk memperoleh status itu. Misalnya anak seorang bangsawan akan memperoleh gelar bangsawan, atau seorang golongan kasta Brahma di India diperoleh secara langsung karena ayahnya adalah warga kasta Brahma. Status yang diperoleh dengan demikian, bukan saja terdapat dalam masyarakat feodal atau warga berkasta saja yang bersifat tertutup (closed social stratification), tetapi ditemukan juga dalam lapisan masyarakat terbuka (open social stratification) yaitu lahirnya anak laki-laki dalam suatu keluarga tertentu (misalnya dalam keluarga Tapanuli). Karena anak laki-laki memperoleh status yang sangat penting dalam keluarga.

2.  Status yang diperoleh melalui hasil usaha (achieved statuses) umumnya hanya bisa diperoleh sesudah seseorang berusaha atau setidak-tidaknya setelah ia menjatuhkan pilihannya terhadap sesuatu. Misalnya setiap orang dapat menjadi Dosen, Guru, Pengacara, Hakim, Petani dan sebagainya asalkan ia memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu untuk meraih status tadi. Pada tempat-tempat tertentu sering atau diperlukan adanya persaingan untuk mencapai status ini. Sudah menjadi rumus yang umum bahwa semakin kompleks suatu masyarakat semakin banyak kesempatan pada setiap individu untuk memperoleh atau memiliki aneka ragam status.

          Setiap kedudukan atau status melekat pada aturan-aturan tertentu sebagai petunjuk bagi hubungan-hubungan sosial bagi orang-orang yang mendudukinya. Pola tingkahlaku yang diharapkan dari pemegang status itu dinamakan “peranan” (role). Ini berarti bahwa apabila seseorang, telah melaksanakan hak-hak dan kewajibannya sesuai dengan statusnya itu berarti ia menjalankan suatu peranan.

          Antara status dengan peranan tidak dapat dipisahkan tak ada peranan tanpa status, begitu pula tak ada status tanpa peranan. Jika ada pemisahan antara status dengan peranan hanyalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan, sebagai upaya dalam mempelajarinya saja.

          Di dalam setiap masyarakat, sudah ditentukan peranan-peranan sosial yang mesti dimainkan oleh seseorang yang menduduki status tertentu dan juga dapat diramalkan tingkah laku individu di dalam mengikuti pola yang dibenarkan sesuai dengan peranannya masing-masing pada waktu berinteraksi denan masyarakatnya. Oleh sebab itu yang dinamakan penampilan peran status (status of role performance) ialah proses menunjukkan atau menampilkan dari posisi status dan peranan (status – role position), sebagai unsur-unsur struktur di dalam sistem sosial.

          Peranan-peranan sosial saling berpadu sedemikian rupa sehingga saling tunjang timbal balik di dalam hal-hal yang berkaitan dengan tugas, hak dan kewajiban. Misalnya peranan suami isteri, tuan dan hamba, majikan dan buruh, guru dan murid, dokter dan pasien dan sebagainya.

          Setiap peranan bertujuan agar individu yang menjalankan peranannya terhadap orang-orang yang ada kaitannya dengan peranannya tersebut, berhubungan menurut nilai-nilai sosial yang diatur dan ditaati oleh kedua belah pihak, seperti nilai-nilai paedagogis antara guru dan murid, nilai keagamaan antara masyarakat dan ulama, nilai hygines antara dokter dan pasiennya. Bila nilai-nilai itu tidak terpenuhi oleh individu, maka timbullah gejala perasaan tertekan dalam dirinya karena tidak melaksanakan sesuai peranan yang diberikan oleh masyarakat padanya. Gejala yang seperti ini disebut dengan role distance.

          Adanya perasaan tertekan dalam diri individu membuat individu itu melahirkan interaksi tertentu dalam kehidupan sosialnya. Di sini muncullah berbagai interaksi sosial sebagai bentuk umum dan proses sosial dalam masyarakat.

          Dalam kondisi yang demikian juga akan muncul dua sikap yang dapat merugikan pertumbuhan dan perkembangan dan bahkan integrasi masyarakat. Kedua sikap dimaksud ialah prasangka dan diskriminasi.

Catatan :        

1.  Perlu Anda dalami makna dari prasangka dan diskriminasi.

2.  Coba perhatikan betapa pengaruh negatifnya dari prasangka itu dalam kehidupan bermasyarakat.

3.  Apakah prasangka itu sama dengan su’udz dzan dalam konsep Islam?

4.  Bandingkan konsep Newcomb tentang prasangka dengan konsep su’udz dzan dalam Islam.

5.  Hubungan prasangka ini dengan konsep pertentangan-pertentangan sosial atau ketegangan dalam masyarakat.

          Selanjutnya Anda dapat memahami konsep interaksi sosial sebagai proses sosial, serta bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut. Konsep-konsep ini penting bagi Anda untuk mengenali bentuk-bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

 

D.  INTERAKSI SOSIAL SEBAGAI PROSES SOSIAL

          Interaksi sosial adalah bentuk umum dari proses sosial. Proses-proses sosial (sosial proceses) diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama manusia, meliputi cara-cara berhubungan yang dilihat apabila perorangan dan kelompok-kelompok manusia saling bertemu dan menentukan sistem, serta bentuk-bentuk hubungan itu, dan perubahan. Perubahan apa yang terjadi sehingga hubungan itu menjadi goyah dan sebagainya.

          Luas dan dalamnya pembicaraan proses sosial ini, maka pembahasannya dipadakan pada segi-segi umum proses sosial saja yang disebut dengan interaksi sosial.

          Interaksi sosial menjadi syarat pokok terwujudnya aktivitas soail. Sebab interaksi sosial merupakan hubungan antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok maupun antara kelompok dengan kelompok. Interaksi bermula pada saat dua individu bertemu saling menegur, berjabat salam, saling berbicara atau bahkan diiringi dengan pertengkaran dan berkelahi.

          Suatu interaksi sosial dapat terjadi apabila ada kontak sosial dan komunikasi. Dari sinilah dapat tercipta suatu kerjasama (cooperation), persaingan (conflik).

          Pertikaian (conflik) ini, walaupun berlangsung lama atau singkat saja, tetapi tidak bersifat kekal. Karena suatu waktu konflik tersebut akan dapat suatu penyelesaian dan terjadilah integrasi kedua belah pihak. Selesainya pertikaian ini disebut dengan istilah akomodasi (accomodation).

          Secara ringkas bentuk-bentuk interaksi sosial dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.  Kerjasama (cooperation), adalah bentuk interaksi sosial untuk mencapai suatu tujuan bersama, yaitu terdapatnya saling bantu membantu, tolong menolong yang biasanya hal ini dapat tercapai karena adanya pandangan umum yang sama atau komunikasi.

2.  Persaingan (conventition) adalah bentuk perjuangan sosial yang terjadi antara dua belah pihak untuk mencapai keuntungan yang bersifat pribadi maupun kelompok. Bentuk bersaingan ini antara lain (1) untuk memperoleh status tertentu dalam masyarakat, (2) persaingan dalam bidang kebudayaan, (3) persaingan karena perbedaan ras dan sebagainya.

3.  Pertikaian (conflik) merupakan interaksi masyarakat yang berusaha saling menjatuhkan, menghancurkan antara satu pihak dengan pihak lainnya. Hal ini disebabkan karena individu atau kelompok berusaha untuk mencapai tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan dengan kekerasan. Di antara faktor penyebab pertikaian ini antara lain (1) perbedaan pendirian, (2) perbedaan kebudayaan, (3) perbedaan kepentingan.

4.  Akomodasi (accomodation) menunjukkan suatu keadaan bahwa suatu pertikaian telah mendapat penyelesaiannya, sehingga suatu konflik menjadi tenang kembali meskipun mungkin perbedaan-perbedaan itu tetap ada. Akomodasi membuka jalan tercapainya asimilasi (assimilation) yang ditandai dengan adanya usaha-usaha perorangan atau kelompok. Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadi suatu assimilasi adalah :

     a.  Adanya sikap toleransi kelompok-kelompok dengan kebudayaan yang berbeda.

     b.  Adanya kesempatan-kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi, politik, memperoleh status dan sebagainya.

     c.  Adanya sikap harga menghargai.

     d.  Setiap tindakan tidak merugikan yang lain yakni saling menguntungkan.

     e.  Perkawinan campuran.

     f.   Adanya sikap keterbukaan dan lain-lain.

          Dengan singkat dapat dikatakan bahwa proses assimilasi adalah proses mengakhiri kebiasaan lama sekaligus menerima kehidupan yang baru dan tercapainya integrasi normatif yang berarti terwujudnya sikap kebersamaan dalam kelompok.

          Assimilasi kebudayaan : proses perubahan pola kebudayaan untuk menyesuaikan diri dengan mayoritas (assimilation cultural).

 

Tugas Anda :

1.  Berikan contoh konkrit dari asimilasi kebudayaan.

2.  Bagaimanakah pengaruh adanya asimilasi ini tehadap kelestarian budaya pada suatu etnis tertentu?

3.  Apakah asimilasi kebudayaan ini tidak melahirkan konflik kembali, bagaimana pendapat Anda?

 

E.  MASSA DAN KERUMUNAN

          Massa merupakan kelompok manusia yang mengambil bagian dalam issue, intrest, masalah, kepentingan yang sama tetapi tidak memerlukan pendapat yang sama, serta tidak perlu berdekatan secara phisik. Karena itu dapat dikatakan bahwa massa berbeda sekali dengan kerumunan. Pada kerumunan masih terdapat kesatuan berupa kumpulan individu-individu pada waktu bersamaan dalam suatu tempat meskipun secara kebetulan. Sebaliknya massa adalah sebagai kelompok yang tidak merupakan satu kesatuan.

          Interaksi pada massa bisa terjadi secara tidak langsung, yakni melalui alat komunikasi, misalnya melalui pembicaraan-pembicaraan yang berantai, desas-desus, pers, radio, televisi, film dan sebagainya. Sehingga memungkinkan suatu massa mempunyai pengikut yang luas dan besar jumlahnya. Oleh karena pengikut suatu massa cukup besar menyebabkan tidak terdapat pusat perhatian yang tajam, karena itu pulalah tidak ada kesatuan padanya. Setiap aksi dari massa biasanya diprakarsai dan didorong oleh keinginan individual, seperti pemungutan suara dalam suatu pemilihan umum. Individu-individu dalam hal ini masih memiliki status sosial yang sesungguhnya dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan dengan suatu kerumunan.

          Jika kerumunan tingkah laku yang terdapat di dalamnya merupakan peri kelakuan kolektif, maka pada massa yang menonjol adalah peri kelakuan individual. Kemudian upaya yang mudah dilakukan untuk mengumpulkan massa umumnya adalah dengan mengaitkan sesuatu persoalan dengan nilai-nilai sosial masyarakat atau tradisi masyarakat yang bersangkutan. Bisa juga dengan mempergunakan atau menyiarkan pemberitaan yang palsu yang dapat mengundang intrest massa.

          Hal-hal yang penting dalam massa adalah :

1.  Keanggotaan berasal dari semua lapisan masyarakat.

2.  Massa tersusun dari kelompok atau individu-individu yang anonim.

3.  Interaksi antara anggota-anggotanya atau bertukar pengalaman sangat sedikit sekali.

4.  Tidak bisa bertindak secara bulat atau sebagai suatu kesatuan seperti halnya pada kerumunan.

          Kemudian mengenai kerumunan dapat dibedakan menurut bentuknya sebagai berikut :

1.  Khalayak penonton yang formal.

2.  Kelompok ekspressif yang direncanakan.          

          Kedua bentuk kerumunan tersebut disebut juga dengan kerumunan yang berarti kulasi dengan struktur sosial. Selain itu ada lagi kerumunan yang bersifat sementara, yaitu :

1.  Kumpulan/kerumunan yang kurang menyenangkan.

2.  Kerumunan orang-orang dalam keadaan panik.

3.  Kerumunan penonton.

Kemudian ada lagi kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum yaitu :

1.  Kerumunan yang emosional.

2.  Kerumunan yang immoral.

F.    ELITE DAN MASSA

          Istilah elite menunjuk kepada sekelompok orang-orang dalam masyarakat yang menempati kedudukan tinggi. Elite sebagai kelompok orang berada pada jumlah yang minoritas yang memiliki kualifikasi tertentu. Fungsi dan eksistensi dari pada elit adalah sebagai penentu dan berperan dalam masyarakat. Oleh karena itu kelompok elit ini adalah sebagai kelompok yang berkualitas dan kelompok penentu.

          Kelompok ini banyak berperan dalam mengemban fungsi-fungsi sosial. Karena itu kelompok elit sangat menentukan dalam masyarakat. Secara garis besar kelompok elit ini dapat dibedakan :

1.  Elit politik (elit yang berkuasa dalam mencapai tujuan).

2.  Elit ekonomi, yang berkuasa atau mempunyai pengaruh dalam bidang ekonomi.

3.  Elit agama, pendidik dan pemuka-pemuka masyarakat.

4.  Elit yang dapat memberikan kebutuhan psikologis.

          Golongan elit sebagai minoritas memiliki penampilan sebagai berikut :

1.  Elit menduduki posisi penting, dan cenderung merupakan poros kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

2.  Faktor utama yang menentukan kedudukan kelompok elite ini adalah keunggulan dan keberhasilan serta kemampuan yang dimilikinya.

3.  Mereka memiliki tanggung jawab yang lebih besar jika dibandingkan dengan masyarakat atau kelompok lain.

4.  Memiliki imbalan yang lebih besar atas dasar usaha dan pekerjaannya.

          Kelompok elite sebagai penentu dan yang banyak peranannya dalam mengemban fungsi sosial terlihat pada :

1.  Lambang-lambang kolektif yang merupakan pencerminan kehendak masyarakat. Dalam hal ini kelompok elite berperan sebagai pengambil keputusan, pendukung kekuatan dan bahkan dapat menjadi proto type dari masyarakatnya.

2.  Pada lembaga politik, berperan dalam memajukan kehidupan masyarakat dan juga dalam mempengaruhi massa.

3.  Berperan dalam hal moral dan solidaritas kemanusiaan baik dalam pengertian sosialisme maupun pengertian universal.

4.  Berperan dalam memenuhi kebutuhan pemuasan intrinsik bagi manusia khususnya terhadap reaksi-reaksi yang emosional.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s