METODE ILMIAH DAN LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL

 

A.   CARA-CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN

          Dari pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan adanya perkembangan pola pikir manusia di mana orang percaya kepada mitos, ramalan nasib berdasarkan perbintangan, matahari, dewa petir dan sebagainya. Pengetahuan itu mereka peroleh dengan berbagai cara, antara lain :

  1. Prasangka, yaitu suatu anggapan benar padahal baru merupakan kemungkinan benar atau kadang-kadang malah tidak mungkin benar.

Contoh : pada zaman Babylonia, orang percaya bahwa hujan dapat turun dari surga sampai ke bumi melalui jendela-jendela yang ada di langit.

Dengan prasangka, orang sering mengambil keputusan yang keliru. Prasangka hanya berguna untuk mencari kemungkinan suatu kebenaran.

  1. Intuisi, yaitu suatu pendapat seseorang yang diangkat dari perbendaharaan pengetahuannya terdahulu melalui suatu proses yang tak disadari. Jadi, seolah-olah begitu saja muncul pendapat itu tanpa pikir.

Pengetahuan yang dicapai dengan cara demikian sukar dipercaya, ungkapan-ungkapannya sering masuk akal namun belum tentu cocok dengan kenyataan.

Contoh : Seorang astrolog di samping rumusannya sering menggunakan intuisinya dalam memberikan ramalan nasib seseorang.

  1. ”Trial and Error”, yaitu metode coba-coba atau untung-untungan. Cara ini dapat diibaratkan  seperti seekor kera yang mencoba meraih pisang dalam sebuah kerangkeng dari percobaan Kohler, seorang psikolog Jerman. Kera itu dengan cara coba-coba akhirnya dapat juga meraih pisang dengan menggunakan tongkat.

          Pengetahuan pada manusia diperoleh melalui cara ini banyak sekali, yaitu sejak zaman manusia purba sampai sekarang. Banyak pula penemuan hasil “Trial and Error” sangat bermanfaat bagi manusia. Misalnya, ditemukannya rendaman kulit kina untuk obat malaria. Penemuan dengan cara coba-coba ini jelas tidak efisien sebagai suatu cara untuk mencari kebanaran.

          Pada zaman Yunani orang cenderung untuk mengikuti saja ajaran para ahli pikir ataupun para penguasa. Namun, ajaran-ajaran ini ternya banyak yang keliru karena ahli-ahli pikir itu terlalu mengandalkan pemikiran atau akal sehat, dan kebenaran yang dianut itu adalah yang masuk akalnya. Contoh, setiap hari kita lihat matahari terbit dari Timur lalu terbenam di Barat. Maka masuk akallah bila dikatakan bahwa matahari beredar mengelilingi bumi. Contoh lain, bila kayu dibakar maka berubah jadi api, udara, dan abu (tanah). Maka menurut akal sehat unsur dasar pembentuk kayu itu adalah tanah, api dan udara.

          Pengetahuan yang didapat dengan cara-cara tersebut di atas termasuk golongan pengetahuan yang tidak ilmiah. Lalu bagaimanakah pengetahuan yang ilmiah atau yang disebut ilmu pengetahuan itu?

          Metode ilmiah adalah prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu adalah pengetahuan yang didapat lewat metode ilmiah. Metode adalah suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Metodeologi adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.

          Tidak semua pengetahuan yang disebut ilmu, sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu atau dikatakan ilmiah adalah :

  1. Obyektif, artinya pengetahuan itu sesuai dengan obyeknya atau didukung metodik fakta empiris;
  2. Metodik, artinya pengetahuan itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol;
  3. Sistematik, artinya pengetahuan itu tidak disusun dalam suatu sistem di mana satu sama lain saling berkaitan dan saling menjelaskan, sehingga seluruhnya merupakan satu kesatuan yang utuh.
  4. Berlaku umum, artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja, tetapi semua orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten;.

          Pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah, diharapkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yakni sifat rasional dan teruji, sehingga memungkinkan tubuh pengetahuan  yang disusun merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan cara berpikir induktif dalam membangun tubuh dan pengetahuannya.

          Cara berpikir deduktif adalah cara berpikir di mana kesimpulan ditarik dari suatu yang bersifat umum. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus, yang disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogismus disebut premis yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.

          Cara berpikir induktif adalah cara berpikir yang menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari pernyataan yang bersifat khusus atau individual. Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi, yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.

          Cara berpikir deduktif terkait dengan rasionalisme, yang memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Oleh karena itu, cara berpikir deduktif berdasarkan pada kriteria kebenaran koherensi atau teori koherensi. Rasionalisme adalah paham yang berpendapat bahwa rasio adalah sumber kebenaran.

          Teori koherensi adalah suatu pernyataan  pengetahuan rasionalisme yang memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya yang dianggap benar. Namun demikian, penjelasan yang bersifat rasional dengan kriteria kebanaran koherensi tidak memberikan kesimpulan yang bersifat final. Hal ini disebabkan karena meskipun argumentasi secara rasional didasarkan kepada premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya, namun dimungkinkan pula pilihan yang berbeda dari sejumlah premis ilmiah yang tersedia, yang dipergunakan dalam penyusunan argumentasi. Oleh karena itu dalam metode ilmiah di samping menggunakan cara berpikir deduktif, dipergunakan pula cara berpikir induktif.

          Cara berpikir induktif terkait dengan empirisme, di mana dibutuhkan fakta-fakta yang mendukung. Oleh karena itu, cara berpikir induktif berdasarkan pada kriteria kebenaran korespondensi atau teori korespondensi.

          Empirisme adalahpaham yang berpendapat, bahwa fakta  yang tertangkap lewat pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran. Teori korespondensi adalah suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu koresponden (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.

          Dalam metode ilmiah, pendekatan rasional digabungkan dengan pendektan empiris. Secara rasional maka ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak.

 

B.   LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL METODE ILMIAH

          Salah satu syarat ilmu pengetahuan ialah bahwa materi pengetahuan itu harus diperoleh melalui metode ilmiah. Ini berarti bahwa cara memperoleh pengetahuan itu menentukan apakah pengetahuan itu termasuk ilmiah atau tidak. Metode ilmiah tentu saja harus menjamin akan menghasilkan pengetahuan yang ilmiah, yaitu yang bercirikan objektivitas, konsisten, dan sistematik.

          Langkah-langkah operasionalnya adalah sebagai berikut :

1)    Perumusan masalah; yang dimaksud dengan masalah di sini adalah merupakan pernyataan apa, mengapa, ataupun bagaimana tentang objek yang diteliti. Masalah ini harus jelas batas-batasnya serta dikenal faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2)    Penyusunan hipotesis; yang dimaksud dengan hipotesis adalah suatu perny ataan yang menunjukkan kemungkinan-kemungkinan jawaban untuk memecahkan masalah yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, hipotesis merupakan dugaan yang tentu saja didukung oleh pengetahuan yang ada. Hipotesis juga dapat dipandang sebagai jawaban sementara dari permasalahan yang harus diuji kebenarannya  dalam suatu observasi atau eksperimentasi.

3)    Pengujian hipotesis; yaitu berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan untuk dapat memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. Fakta-fakta ini dapat diperoleh melalui pengamatan langsung dengan mata atau melalui teleskop atau dapat juga melalui uji coba atau eksperimentasi.

4)    Penarikan kesimpulan; penarikan kesimpulan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta-fakta (data), untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan itu diterima atau tidak. Hipotesis itu dapat diterima bila fakta-fakta yang terkumpul itu mendukung pernyataan hipotesis. Bila fakta-fakta pernyataan hipotesis. Hipotesis yang diterima merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya telah diuji secara ilmiah, dan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan.

          Keseluruhan langkah tersebut di atas harus ditempuh melalui urutan yang teratur, di mana langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah berikutnya. Dari keterangan-keterangan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang disusun secara sistematis, berlaku umum dan kebenarannya telah diuji secara empiris.

          Langkah-langkah operasional metode ilmiah di atas dapat digambarkan seperti bagan berikut :

 

 

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. C.   KETERBATASAN DAN KEUNGGULAN METODE ILMIAH
  2. 1.     Keterbatasan

          Metode ilmiah dapat menghasilkan pengetahuan ilmiah. Kita telah mengetahui bahwa data yang digunakan untuk mengambil kesimpulan ilmiah itu berasal dari pengamatan. Kita mengetahui pula bahwa pancaindera kita juga mempunyai keterbatasan kemampuan untuk menangkap suatu fakta atau fenomena, sehingga kesimpulan  yang diambil dari fakta-fakta yang keliru itu juga akan keliru. Jadi, kemungkinan keliru dari suatu kesimpulan ilmiah tetap ada. Oleh karena itu semua kesimpulan ilmiah atau dengan kata lain kebenaran ilmu pengetahuan termasuk Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bersifat tentatif. Artinya, suatu pendapat yang disimpulkan dengan menggunakan metode ilmiah diakui sebagai “benar” selama belum ada pendapat baru yang dapat menolak kesimpulan itu. Sebaliknya, apabila telah ditemukan kebenaran ilmiah yang dapat menolak kebenaran terdahulu maka pendapat terbarulah yang diakui sebagai kebenaran, sehingga tidak mustahil suatu kesimpulan ilmiah bisa saja berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Tidak demikian halnya dengan pengetahuan yang didapat dari wahyu illahi. Kebenaran dari pengetahuan ini bersifat mutlak, artinya tidak akan berubah sepanjang masa.

          Metode ilmiah memang tidak sanggup menjangkau untuk menguji adanya Tuhan; metode ilmiah juga tidak dapat menjangkau untuk membuat kesimpulan berkenaan dengan baik dan buruk atau sistem nilai, juga tidak dapat menjangkau tentang seni dan keindahan.

 

  1. 2.     Keunggulan

          Seperti telah dijelaskan di muka ciri khas ilmu pengetahuan (termasuk IPA) yang sifatnya objektif, metodik, sistematik dan berlaku umum itu akan membimbing kita pada sikap ilmiah yang terpuji sebagai berikut :

a)     Mencintai kebenaran yang objektif, bersikap adil, dan itu semua akan menjurus ke arah hidup yang bahagia.

b)    Menyadari bahwa kebanaran itu tidak absolut; hal ini dapat menjurus ke arah mencari kebenaran itu terus menerus.

c)     Dengan ilmu pengetahuan, orang lalu tidak percaya pada takhyul, astrologi maupun untung-untungan karena segala sesuatu di alam semesta ini terjadi melalui suatu proses yang teratur.

d)    Ilmu pengetahuan membimbing kita untuk ingin tahu lebih banyak. Ilmu pengetahuan yang kita  peroleh tentunya akan sangat membantu pola kehidupan kita.

e)     Ilmu pengetahuan membimbing kita untuk tidak berpikir secara prasangka, tetapi berpikir secara terbuka atau objektif, suka menerima pendapat orang lain atau bersikap toleran.

f)      Metode ilmiah bimbingan kita untuk tidak percaya begitu saja pada suatu kesimpulan tanpa adanya bukti-bukti yang nyata.

g)     Metode ilmiah juga membimbing kita selalu bersikap optimis, teliti dan berani membuat suatu pernyataan yang menurut keyakinan ilmiah kita adalah benar.

 

D.   ILMU PENGETAHUAN ALAM KUALITATIF DAN KUANTITATIF

          Pada uraian terdahulu telah diterangkan bahwa penemuan-penemuan yang didapat oleh copernicus sampai Galileo pada awal abad ke-17 merupakan perintis ilmu pengetahuan ilmiah. Artinya, penemuan-penemuan itu berdasarkan empiris dengan metode induksi yang objektif dan bukan atas dasar deduksi filosofik seperti pada zaman Yunani atau berdasarkan mitos seperti pada zaman Babylonia. Penemuan-penemuan itu misalnya adalah bahwa di bulan terdapat gunung-gunung, Yupiter mempunyai 4 buah bulan, di matahari terdapat bercak hitam yang dapat digunakan untuk mengukur kecepatan rotasi matahari dan sebagainya.

          Penemuan-penemuan semacam ini kita sebut sebagai ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kualitatif. Ilmu Pengetahuan Alam yang kualitatif ini tidak dapat menjawab pertanyaan yang sifatnya kausal atau hubungan sebab akibat, Ilmu Pengetahuan Alam kualitatif itu hanya mampu menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang sifatnya faktual.

          Untuk memperoleh jawaban dari pernyataan tentang hal-hal yang sifatnya kausal, diperlukan perhitungan secara kuantitatif.

          Contoh : Seseorang memelihara bebek dengan makanan tradisional biasa. Bebek bertelur 15 butir dalam sebulan. Kemudian orang itu menambahkan keong mas sebagai makanan tambahan bagi bebeknya, ternyata bebeknya bertelur lebih banyak, yaitu 20 butir sebulan. Dari kenyataan ini belum dapat ditarik kesimpulan adanya pengaruh penambahan makanan keong mas itu terhadap kenaikan jumlah telur bebek, karena masih bersifat kasus, artinya mungkin saja itu suatu kebetulan terjadi pada seekor bebek (kasus).

          Akan tetapi, bila percobaan itu dilakukan terhadap seribu ekor bebek dan 999 ekor bebek berkelakuan seperti di atas, maka kemungkinan besar bahwa memang benar hal itu berlaku umum untuk setiap bebek, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian keong mas terhadap jumlah telor yang dihasilkan.

          Kesimpulan dapat ditarik berdasarkan induksi (eksperimentasi) dan deduksi (perhitungan matematik statistik). Jadi, Ilmu Pengetahuan Alam kuantitatif adalah Ilmu Pengetahuan Alam yang dihasilkan oleh metode ilmiah yang didukung oleh data kuantitatif dengan menggunakan statistik. Ilmu Pengetahuan Alam kuantitatif ini dapat disebut juga sebagai Ilmu Pengetahuan Alam modern.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s