BAB 18 ISD

P
embicaraan tentang masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan bukanlah dalam arti memberikan defenisi yang jelas dan objektif mengenai pengertian masing-masing, melainkan hanya membicarakan masalah ciri-cirinya saja. Yang jelas masyarakat pedesaan memiliki kehidupan yang berbeda dengan masyarakat perkotaan. Perbedaan-perbedaan ini bersumber dari adanya perbedaan yang mendasar dari keadaan lingkungannya, kebiasaan-kebiasaan warganya dan juga mengenai perbedaan pada tingkat penggunaan teknologi.
Mempelajari suatu masyarakat berarti mengkaji masalah struktur sosialnya. Oleh sebab itu, dalam mempelajari masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan dapat ditelusuri dalam hal yang berhubungan dengan struktur sosial tersebut, yaitu :
1. Lingkungan umum dan orientasi terhadap alam.
2. Ukuran komunitas.
3. Jenis pekerjaan atau mata pencaharian.
4. Kepadatan penduduk.
5. Homogenitas dan heterogenitas.
6. Diferensiasi sosial.
7. Pelapisan sosial.
8. Mobilitas sosial.
9. Interaksi sosial.
10. Pengawasan sosial.
11. Pola kepemimpinan.
12. Standar kehidupan.
13. Kesetiakawanan sosial.
14. Nilai dan sistem nilai.
Perhatian : Masing-masing konsep struktur sosial di atas supaya Anda kenali dan dalami dari literatur yang ada.

A. POLA KEHIDUPAN MASYARAKAT PEDESAAN
Menurut Koentjaraningrat, suatu masyarakat desa menjadi suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial yang didasarkan atas dua macam prinsip. Kedua macam prinsip itu adalah :
1. Prinsip hubungan kekerabatan (geneologis)
2. Prinsip hubungan tinggal dekat (teritorial)
Prinsip geneologis maksudnya ialah suatu prinsip yang memperhitungkan garis keturunan dengan nenek moyang, dengan menjabarkan dari pihak-pihak yang mempunyai hubungan dan langsung (geneologi). Sedangkan prinsip teritorial ialah menunjukkan kepada kedekatan tempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu.
Kedua prinsip di atas memperlihatkan bahwa suatu komunitas yang saling memiliki hubungan berdasarkan garis keturunan/hubungan darah yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu dengan berdekatan tempat tinggal. Keadaan ini merupakan faktor yang mendasari sifat homogenitas masyarakat pedesaan. (Homogenity – Homogenitas, ialah kualitas suatu populasi yang ditandai dengan ciri-ciri biologis atau kebudayaan yang sama).
Kedua prinsip yang dikemukakan terdahulu dengan sifat homogenitasnya mendasari pola kehidupan masyarakatnya. Pola hidup gotong royong, mengolah sawah bersama-sama secara bergiliran, menyiapkan pesta, upacara-upacara, pembangunan rumah, perkawinan, khitan, kematian dilakukan dengan sistem kekeluargaan. Hal ini merupakan sifat-sifat mendasar pada masyarakat pedesaan. Namun, saatnya sekarang ini bagi Anda untuk memperhatikan lebih luas, bagaimana realitas pola dan sikap hidup masyarakat pedesaan itu. Bandingkan antara teori-teori, tentang pola hidup masyarakat pedesaan dengan realitas yang dapat Anda amati sekarang ini.
Adakah terjadi pergeseran nilai, atau perobahan-perobahan pada pola kehidupan masyarakat pedesaan itu, masyarakat pedesaan yang bagaimanakah yang mengalami hal seperti itu?

B. MASYARAKAT PERKOTAAN
Kajian tentang masyarakat kota ditekankan pada pengertian kotanya dengan ciri dan sifat kehidupannya. Dalam masyarakat kota kebutuhan primer dihubungkan dengan status sosial dan gaya hidup masa kini sebagai manusia modern.
Masyarakat perkotaan memiliki penduduk yang heterogen, yakni terdiri dari orang-orang dengan macam-macam sub kultur dan kesenangan, kebudayaan, mata pencaharian dan sebagainya.
Gejala yang paling menonjol pada masyarakat perkotaan adalah mengenai pola interaksinya atau dalam sistem hubungannya antara satu individu dengan individu lainnya.
Pola interaksi pada masyarakat perkotaan dipengaruhi oleh individualitas, sehingga prestasi seseorang lebih penting dari pada asal-usul keturunannya. Pola interaksi yang demikian sangat diwarnai oleh tujuan dan kepentingan yang akan dicapai. Lain halnya dengan masyarakat pedesaan, dimana pola interaksinya banyak dipengaruhi oleh sistem kekeluargaan. Adanya perbedaan pola interaksi pada kedua masyarakat ini menyebabkan berbedanya pola kehidupan masyarakatnya.
Pada masyarakat kota, pola kehidupan individualis sangat menonjol. Hubungan antara yang satu dengan lainnya diwujudkan atas dasar adanya kepentingan. Itulah sebabnya masalah solidaritas pada masyarakat perkotaan justru terbentuk karena adanya perbedaan-perbedaan dalam masyarakat. Perbedaan-perbedaan ini membuat adanya saling kepentingan. Atas dasar saling kepentingan ini terbentuklah kerjasama, solidaritas dan sebagainya.
Tingkat perbedaan kepentingan sangat tinggi di kota. Lain halnya pada masyarakat pedesaan, dimana masyarakatnya mempunyai kepentingan pokok yang hampir sama. Makanya warga desa selalu bekerja sama untuk mencapai kepentingan-kepentingannya itu. Tingginya tingkat perbedaan kepentingan di kota menjadikan masyarakat kota secara individualis mencapai kepentingan itu sangat kurang.

Tugas Anda :
1. Bandingkan bagaimana problema sosial di kota dan di desa.
2. Bagaimana pendapat Anda mengenai pernyataan “Kehidupan keagamaan di kota berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa”.
3. Perlu Anda dalami mengenai :
a. Pengaruh desa terhadap kota.
b. Pengaruh kota terhadap desa.
c. Aspek-aspek positif dan negatif dari pengaruh timbal balik antara kehidupan didesa dengan kehidupan di kota.

C. URBANISASI
1. Pengertian
Urbanisasi adalah suatu proses perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi sebagai suatu proses perpindahan penduduk dikenal dengan tanda-tanda sebagai berikut :
a. Terjadinya arus perpindahan penduduk dari desa ke kota.
b. Bertambah besarnya jumlah tenaga kerja non agraris di sektor industri dan jasa.
c. Tumbuhnya permukiman menjadi kota.
d. Meluasnya pengaruh kota di pedesaan.
2. Sebab terjadinya urbanisasi
a. Faktor dasar :
– adanya pertambahan penduduk secara alamiah,
– terjadinya arus perpindahan dari desa ke kota,
– tertariknya permukiman pedesaan ke dalam lingkup kota, sebagai akibat pengembangan kota.
b. Faktor pendorong :
– kemiskinan di pedesaan,
– adat istiadat yang membuat cara hidup yang monoton,
– kurangnya sarana untuk menambah pengetahuan,
– kurangnya sarana rekreasi/hiburan,
– bencana alam,
– pertentangan dalam lingkup nasional.
c. Faktor penarik :
– anggapan bahwa di kota banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan,
– pandangan bahwa untuk mencari jenis pekerjaan yang lebih sesuai dengan pendidikan adalah di kota,
– kota memberi kesempatan untuk menghindarkan diri dari kontrol sosial terlalu dekat, atau untuk mengangkat derajat dari posisi yang rendah,
– pandangan bahwa pengembanan usaha di kota lebih banyak,
– kelebihan modal di kota lebih banyak dari pada di desa,
– sarana pendidikan di kota lebih banyak dan lebih lengkap,
– kota merupakan tempat yang lebih menguntungkan untuk pengembangan jiwa dengan sebaik-baiknya dan seluas-luasnya,
– kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi.
3. Dampak urbanisasi
1. Timbulnya gejala urbanisasi pada masyarakat desa, yaitu cara atau gaya hidup kota.
2. Terbentuknya permukiman baru di pinggir kota.
3. Meningkatkan tuna karya.
4. Perumahan yang tidak memenuhi standard.
5. Lingkungan hidup yang tidak sehat.
Akibat lain yang ditimbulkannya adalah :
1. Krisis ekonomi.
2. Krisis mental.
3. Krisis permukiman.
4. Krisis lingkungan.
Khusus yang ditimbulkan oleh meningkatnya tuna karya adalah :
1. Makin tajamnya perbedaan antara golongan kaya dan miskin.
2. Meningkatnya pelacuran.
3. Meningkatnya kriminalitas.
4. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebutuhan hidup.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s