A. Asal Mula Kejadian Manusia Manusia
Telah bertahun-tahun manusia memikirkan tentang asal-usulnya. Tetapi sampai sekarang ini, satu-satunya sumber gagasan adalah pengertian-pengertian yang diperoleh dari ajaran agama dan filsafat. Baru pada zaman modern sekarang, timbul pendapat-penda¬pat secara ilmu pengetahuan tentang kejadian manusia. Demkian penting tentang penciptaan manusia, yang oleh beber¬apa orang telah diajukan konsep, yang sepenuhnya dijelaskan oleh ilmu pengetahuan skuler. Salah satu teori yang sangat terkenal adalah Teori Evolusi Darwin.
Dalam pandangan agama, manusia dijadikan Tuhan dengan perencanaan yang matang. Al Quran menyebutkannya bahwa bahan dasar manusia berasal dari tanah.
Setelah manusia yang dibekali dengan akal ada, kemudian mengembangkan hidupnya, baik dari sisi kuantitas (memperbanyak keterunan) dan dari sisi kualitas (memperbaiki cara hidup). Kemudian manusiapun disebut berbudaya karena kemampuannya mengem¬bangkan dan memperbaiki kehidupan.
Di dalam bukunya On The Original of Species, Darwin berusa¬ha mengetengahkan sebuah teori mengenai asal-usul melalui seleksi alam atau bertahannya ras-ras yang beruntung dalam perjuangan untuk mempertahankan penghidupannya. Darwin berusaha menemukan mekanisme, yang melalui mekanisme itu satu species dapat berubah menjadi species lain. Oleh pengikut-pengikut Darwin yang paling ekstrim menjadikan Darwinisme itu sebagai acuan bahwa manusia adalah keturunan kera (Bucaile, 1989 : 34).
Atas Darwinisme tersebut P.P. Grasse dalam bukunya : L’homme Accusation (Manusia Sebagai Tertuduh), berusaha mencari bukti kebenaran Darwinime dan pengikut – pengikutnya yang paling ekstrem, secara kritis, melalui penelitian secara teliti dan mengumpulkan pendapat para ahlinya tentang perbedaan antara monyet dengan kera, perbedaan antara kera dan siamang, perbedaan siamang dengan gorila,dan perbedaan gorila dengan manusia. Baik secara fisikologi, anatomis, maupun biologis, akhirnya P.P. Grasse menyimpulkan bahwa manusia dan kera berbeda, dengan kata lain tidak terbukti (Bucaille, 1989 : 47). Berdasarkan hasil penelitian P.P.Grasse tersebut di atas, ternyata tidak terbukti bahwa manusia keturunan kera,menurut Darwinisme.
Akhirnya Al-quranlah yang mampu memberikan jawaban atas pertanyaan: “Dari mana manusia berasal, bagaimana manusia di ciptakan, bagaimana ia berkembang sehingga memiliki daya dan keagungan rohani, yang membedakannya dengan makhluk lain?”.
Dalam hal ini Al-quran semenjak 14 abad yang lalu telah menegaskan dengan memberi jawaban bahwa manusia bukan keturunan kera, melainkan manusia pertama (Adam) di ciptakan oleh Allah dari tanah. Allah menciptakan manusia yang terdiri dari materi dan roh, melalui tahapan – tahapan, dari turap menjadi tanah, kemudian menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk dan kemudian menjadi tanah kering seperti tembikar, dan setelah disempurnakan bentuknya, Allah meniupkan roh (ciptaan – Nya) maka terjadilah Adam. Di dalam surat Al Hijir ayat 28-29 Allah berfirman : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malai¬kat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah Ku tiupkan kedalamnya roh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepada – Nya dengan bersujud (Depag, 1987: 393).
Dengan penciptaan seperti itu, manusia dibedakan dari selur¬uh makhluk lainnya. Ia serupa dengan hewan dalam sebagian besar karakteristik fisik, dorongan emosi untuk mempertahankan diri serta kemampuan untuk memahami dan belajar. Namun ia berbeda dengan hewan dari karakteristik roh nya yang membuatn¬ya cenderung mencari Allah dan menyembah – Nya dan rindu akan keutamaan idealisme yang mengantarkannya pada peringkat ter¬tinggi dari kesempurnaan manusiwi (Najati, 1985 : 244).
Asal mula tubuh manusia itu dari tanah. Hal ini kiranya sudah menjadi kepastian dari Allah, seperti disebutkan dalam firman Allah surat Nuh ayat 17-18 : Dan Allah menumbuhkan kamu sebagai suatu tumbuhan dari tanah, dan kemudian Dia akan mengembalikan kamu dari padanya, Dia akan mengeluarkan kamu lagi sebagai suatu kelahiran baru. Depag, 1987: 979).
Di dalam ayat di atas manusia berasal dari tanah akan dikem¬balikan lagi ke tanah. Ini dapat di buktikan bahwa baru saja manusia itu meninggal dunia, ia sudah akan beralih lagi kepada unsurnya yang pertama kali, yang sama sekali tidak berbeda dengan unsur-unsur yang terdapat didalam tanah. Para sarjana kimia telah menyebutkan berbagai unsur yang dari padanya itu tersusunnya tubuh manusia. Mereka mengatakan bahwa dalam tubuh manusia itu terdapat karbon yang cukup untuk membuat sebanyak 9000 buah tangkai pensil. Juga di situ terdapat fosfor yang cukup untuk membuat 2000 kepala tangkai korek api. Di dalamnya terdapat zat-zat lain yaitu zat besi, kapur, posatium, garam, magnesium, gula dan belerang. Benda-benda itu termasuk benda-benda tambang yang daripadanya tersusunnya gumpalan tanah di bumi ini (Sabiq, 1978: 365).
Gagasan tentang tanah, Allah berbicara kepada manusia dalam surat Al Hajj ayat 5 : “Maka sesungguhnya Kami telah membentuk kamu dari tanah gemuk. (Depag, 1987: 512). Asal manusia dari tanah gemuk (turab dalam bahasa Arab), di ulangi dalam surat 18:37, surat 30:20, surat 35:11 dan surat 40:67. Selanjutnya dalam surat al An-am ayat 2 disebutkan : “Dialah yang membentuk kamu dari lempung (Depag, 1987: 187). Lempung (thin dalam bahasa Arab ) di pergunakan dalam beber¬apa ayat untuk mendefinisikan pembentukan manusia. Perlu diperhatikan dalam hal ini bahwa Al-quran menunjuk kepada “awal” suatu penciptaan dari lempung. Ini bermakna bahwa tahap lain akan segera mengikutinya.
Manusia tersusun dari dua unsur, yakni tubuh kasar dan roh halus. Dengan tubuhnya manusia dapat bergerak dan merasakan segala sesuatu. Utsman Najati mengatakan bahwa roh dalam Al-Quran mempunyai berbagai arti. Arti roh yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Quran yang menguraikan tentang penciptaan Adam as, ialah roh ciptaan Allah yang membuat manusia siap untuk mempunyai sifat-sifat yang luhur dan mengikuti kebenaran. Ia adalah unsur tinggi yang di dalamnya terkandung kesiapan manusia untuk merealisasikan hal-hal yang paling luhur dan sifat-sifat yang paling suci. Ialah yang membuat manusia siap untuk membumbung tinggi dalam hidup, meren¬canakan garis-garis, metode yang harus diikutinya dan menyempurnakan kemanusiaannya dengan kecenderungan pada sumber nilai dan pengetahuan yang membuatnya menjadi manusia yang hakiki (Najati,1985: 243).
Dengan demikian terjawablah pertanyaan tentang: bagaimana manusia berkembang sehingga memiliki daya dan keagungan rohani
yang membedakannya dengan makhluk lain.

C. Kebudayaan
1. Hubungan Antara Manusia dengan Kebudayaan
Manusia diciptakan Allah dilengkapi dengan akal. Akal dalam bahasa Al Quran diartikan dengan tali pengikat, penghalang. Secara lebih luas berarti “sesuatu yan mengikat atau menghalani seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa” (Shihab, 1996: 294). Dengan akal budi manusia mampu memikirkan konsep-konsep maupun menyusun prinsip-prinsip umum yang diikhtiarkan dari berbagai pengamatan dan percobaan. Dengan akal budinya pula manusia mampu menjadikan keindahan penciptaan alam semesta selur¬uhnya dan ciptaan kekuasaan-Nya. Dalam surat Al Mu’minun 78 disebutkan: Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian penden¬garan, penglihatan dan hati. (Tetapi) sangat sedikit kamu yang bersyukur (Depag, 1987: 535).
Allah sendiri telah memberikan dorongan kepada manusia untuk memikirkan alam semesta, mengadakan pengamatan terhadap berbagai gejala alam, merenungkan keindahan ciptaan-Nya dan mengungkapkan hukum-hukum-Nya di alam semesta ini. Seruan untuk mengadakan tinjauan, pemikiran, penelitian dan pembahasan ilmiah dapat di temukan dalam berbagai tempat dalam Al-Quran, antara lain QS, 29: 20, 10:101, 22:46.
Seruan Al-Quran untuk berpikir tampak jelas dari banyaknya ayat-ayat yang memuat ungkapan-ungkapan seperti “Apakah kamu tidak memikirkan, apakah mereka tidak berpikir, agar kamu menger¬ti, agar kamu berpikir, apakah mereka tidak merenungkannya, apakah mereka tidak mau mengambil pelajaran?”. Lebih jauh lagi, dalam Al-Quran juga diuraikan tentang pentingnya berpikir dalam kehidupan manusia. Juga di tingkat¬kannya nilai manusia yang mempergunakan akal budi dan pemikirannya, dan direndahkannya martabat manusia yang tidak menggunakan akal budi dan pemikirannya dan menjadikannya lebih rendah daripa¬da hewan. Dalam surat Al Anfal ayat 8 disebutkan: Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun. (Depag, 1987: 263).
Dengan seruan Allah itu manusia sebagai khalifah di bumi, dengan akal dan ilmu pengetahuan yang diajarkan Allah dan dari sesama manusia, manusia di tuntut untuk mampu menciptakan piranti kehidupannya, yaitu kebutuhan rohani seperti: (ilmu, seni, bu¬ daya, bahasa, sastra), kebutuhan jasmani atau fisik (sandang, pangan, perumahan, peralatan teknologi) dan kebutuhan sosial (sarana ibadah, sarana pendidikan, sarana angkutan umum dan lainnnya). Dengan karunia Allah, dan akal budi serta cipta rasa dan karsa manusia mampu menghasilkan kebudayaannya. Disini tampak jelas hubungan antara manusia dengan kebudayaan, bahwa manusia sebagai penciptanya sesudah Tuhan, juga manusia sebagai pemakai kebudayaan maupun sebagai pemelihara atau sebaliknya sebagai perusaknya.

2. Pengertian Kebudayaan
Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, budayah, ialah bentuk jama’ dari buddi yang berati budi atau akal. Demi¬kianlah kebudayaan itu dapat doartikan “Hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Ada sarjana lain yang mengupas kata budaya itu sebagai dari kata majemuk budi daya yang berarti daya dari budi(Koentjaraningrat, 1982: 80). Karena itu mereka membedakan budaya dari kebudayaan. Budaya itu daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa, dan kebudayaan itu segala hasil dari cipta, karsa dan rasa itu (Djoyodiguno, 1985: 24).
Dalam kata antropologi budaya, tidak diadakan perbedaan arti antara budaya dan kebudayaan. Disini kata budaya hanya dipakai untuk singkatnya saja, untuk menyingkat kata panjang Antropologi kebudayaan. Adapun kata culture (Inggris) yang artinya sama dengan kebudayaan, yang berasal dari bahasa Latin colere yang berati mengolah, mengerjakan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture, sebagai segala daya dan aktifi¬tas manusia untuk mengolah dan dan merubah alam.
Mengenai defenisi kebudayaan, banyak sarjana ilmu sosial yang telah mencoba menerangkan atau setidaknya menyusun defeni¬sinya. Ada dua sarja antopologi, yaitu : A.L. Kroeber dan C. Kluckhon yang pernah mengumpulkan sebanyak mungkin defenisi tentang kebudayaan yang termaktub dalam banyak buku dan yang berasal dari banyak pengarang dan sarjana. Terbukti ada 160 macam defenisi tentang kebudayaan yang kemudian dianalisis, dicari intinya dan diklasifikasikan dalam berbagai golongan, dan kemu¬dian hasil penyelidikan itu diterbitkan dalam satu buku bernama Culture Critical Review of Concept and Devenitions tahun 1952. Pendapat para ahli itu tentang kebudayaan :
1. E.B. Taylor:
Keseluruhan kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain, serta kebiasaaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
2. A.L. Kroeber dan C. Kluckhon.
Keseluruhan hasil perbuatan manusia yang bersumber dari kemauan, pemikiran dan perasaannya. Karena jangkauannya Ernst Cassier membaginya ke dalam 5 aspek yang meliputi a) kehidupan spritual. b) bahasa dan kesusasteraan. c) kesenian. d) sejarah. e) ilmu pengetahuan.
3. Prof. DR. Koentjaroaingrat.
Keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat (Notowidag¬do, 1996: 23).
Dari berbagai defenisi di atas tampaknya dapat diambil intisarinya bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan,tindakan dan hasil cipta, karsa dan rasa manusia untuk memenuhikebutuhan kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersu¬sun dalam kehidupa masyarakat.
3. Wujud Kebudayaan dan Unsur-unsurnya
a. Wujud Kebudayaan
Menurut Prof.DR. Koentjaraningrat, wujud kebudayaan ada tiga macam:
1. Wujud kebudayaan sebagai kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tinda¬kan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia didunia. (Koentjaraningrat, 1982: 144).
Wujud pertama: adalah wujud ideal kebudayaan. Sifat abstrak, tak dapat di raba dan difoto. Letaknya dalam alam pikiran manu¬sia. Sekarang kebudayaan ideal ini banyak tersimpan dalam arsip kartu komputer, pita komputer dan sebagainya. Ide-ide dan gagasan manusia banyak yang hidup dalam masyarakat dan memeberi jiwa kepada masyarakat. Gagasan-gagasan itu tidak terlepas satu sama lain melainkan saling berkaitan menjadi suatu sistem, di sebut sistem budaya atau cultural system yang dalam bahasa Indonesia di sebut adat istiadat.
Wujud kedua: adalah yang disebut sistem sosial atau social system, yaitu mengenai tindakan berpola manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang berintegrasi satu dengan lainnya dari waktu ke waktu, yang selalu menurut pola tertentu. Sistem sosial ini bersifat kongkret se¬hingga bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan. Wujud ketiga, adalah yang disebut kebudayaan fisik, yaitu seluruh hasil fisik karya manusia dalam masyarakat. Sifatnya sangat kongkret berupa benda-benda yang bisa diraba, di foto, dan di lihat. Ketiga wujud kebudayaan tersebut di atas dalam kehidu¬pan masyarakat tidak lepas satu sama lainnya (1982: 145).
Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan mengarahkan tindakan manusia baik gagasan, tindakan maupun karya manusia, menghasilkan benda-benda kebudayaan secara fisik. Sebaliknya kebudayaan fisik membentuk lingkungan hidup tertentu yang makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamnya sehingga bisa mempen¬garuhi pola berpikir dan berbuatnya.
b. Unsur-unsur Kebudayaan Antropologi membagi tiap-tiap kebudayaan ke dalam beberapa unsur besar, yang disebut culture universals. Istilah universal itu menunjukan bahwa unsur-unsur bersifat universal, artinya ada dan bisa didapatkan di dalam semua kebudayaan dari semua bangsa di manapun juga di dunia. Mengenai apakah yang di sebut cultural universal itu, ada beberapa pandangan di antara para sarjana antropologi. Pandangan-pandangan yang berbeda-beda itu serta alasan-alasannya diuraikan oleh C. Kluckhon dalam sebuah karangan bernama Universal Categories of Culture (1953) (Notowi¬dagdo, 1996: 31).
Dengan mengambil inti dari berbagai macam skema tentang cultural universal yang di susun oleh berbagai sarjana itu, maka kita dapat menganggap tujuh unsur kebudayaan sebagai cultural universal yang didapatkan pada semua bangsa di dunia (Soekanto, 1990: 192), yaitu: 1. Bahasa (lisan maupun tertulis) 2. Sistem teknologi (peralatan dan perlengkapan hidup manusia) 3. Sistem mata pencarian (mata pencarian hidup dan sistem ekonomi) 4. Organisasi Sosial (sistem kemasyarakatan) 5. Sistem pengetahuan 6. Kesenian (seni rupa, seni sastra, seni suara dan sebagainya 7. Religi

Manusia tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan. Serendah dan sesederhana apapun kehidapan manusia, pasti terdapat unsur kebudayaan. Disinilah kelebihan manusia dengan makhluk lainnya.
Manusia dibekali akal oleh Tuhan sehingga mampu memperbaiki kualitas hidupnya dari masa ke masa dan terhidar dari kesalahan dalam kehidupannya. Tinggi rendahnya tingkat kebudayaan seseorang atau masyara¬kat, tergantung kemampuan seseorang atau para anggota masyarakat memanfaatkan akalnya dalam memperbaiki kehidupannya. Allah menjanjikan martabat (kedudukan) yang tinggi orang yang mampu menggunakan akalnya dan merendahkan kedudukan manusia yang tidak mau menggunakan akal dalam kehidupannya.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s