TANGGUNG JAWAB DAN KEADILAN

 

A. Pengertian Tanggung Jawab

Menurut W.J.S Purwadarminta dalam kamus Bahasa Indone­sia memberikan defenisi tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Bertanggung jawab berarti berbuat sesuatu yang di dasarkan pada apa, mengapa dan untuk siapa melakukan sesuatu itu (Mustopo,1988:191).

Perbuatan yang di maksud dalam hal ini adalah perbua­tan atau tingkah laku yang di sengaja ataupun yang tidak di sengaja. Maka pengertian dari tanggung jawab dalam kehidupan sehari‑hari yaitu beban fisik (kejiwaan) yang melandasi pelaksanaan kewajiban dari tugas tertentu. Dan kesanggupan seseorang terhadap tugas tertentu tersebut merupakan kewaji­ban, dan akan berakibat suatu celaan atau menerima akibat tertentu jika tidak di laksanakan. Apabila mereka melupakan tugas wajib dapat diartikan mereka melupakan atau tidak bertanggung jawab. Jadi dengan adanya kewajiban itu ia memiliki tanggung jawab karena ia mempnyai kewajiban berbe­da‑beda dan tanggung jawab yang berbeda pula. Dengan kata lain tanggung jawab merupakan sikap yang di tuntut dalam jiwa atas dasar pelaksanaan suatu pekerjaan, dimana sikap yang ada menjamin antara seorang yang membutuhkan suatu pekerjaan dengan orang yang memberikan pekerjaan tersebut agar lebih terjalin hubungan saling mempercayai diantara keduanya.

Dalam suatu tanggung jawab tidak terlepas pada hak dan kewajiban seseorang kepada orang lain. Dimana hak dan kewaj­iban inilah yang dapat mendukung seseorang untuk mengaktual­kan sikap tanggung jawab pada sesuatu pekerjaan yang ada.

Menurut Austin Fagothey, hak didefenisikan sebagai wewenang moral untuk mengerjakan, meninggalkan, memiliki, mempergunakan atau menuntut sesuatu (Mustopo,1988:194). Dengan kata lain hak merupakan panggilan kepada kemauan orang lain dengan perantaraan akalnya, perlawanan dengan kekuasaan atau kekuasaan fisik. Demikian halnya manusia mampu mengorbankan apa saja untuk segelintir hak yang di tuntutnya dari orang lain.

Manusia memiliki hak di dalam kehidupannya kendatipun demikian manusia juga mempunyai kewajiban yang harus di penuhi, dimana diantara hak dan kewajiban saling berkeseim­bangan, saling memenuhi, sehingga suatu kewajiban yang di laksanakan seseorang mampu untuk mendapatkan hak yang diha­rapkannya.

Problema yang utama di rasakan pada masa sekarang ini sehubungan dengan masalah tanggung jawab adalah rusaknya peranan moral dan rasa hormat diri terhadap tanggung jawab. orang yang bertanggung jawab itu adil atau mencoba berbuat adil, tetapi adakalanya orang yang bertanggung jawab tidak dianggap adil, karena runtuhnya nilai‑nilai yang dipegang­nya. orang yang demikian tentu akan mempertanggung jawabkan segala sesuatunya kepada Tuhan, Dia tidak tampak tapi Ia menggerakkan dunia ini dan mengaturnya. jadi orang semacam ini akan bertanggung jawab kepada Tuhannya.

 

B. Macam‑ macam tangung jawab

               Kita telah mengetahui bersama bahwasanya manusia itu adalah makhluk yang selalu dapat berinteraksi dengan ling­kungannya yang tempatinya. Dengan demikian dimana manusia berada secara tidak langsung manusia di tuntut untuk dapat bertanggung jawab atas apa yang ada pada lingkungan sekitar­nya. Oleh sebab itu ada beberapa tanggung jawab yang perlu diketahui dalam kehidupan manusia, dalam hal ini kami mengu­pas masalah tanggung jawab menurut Islam.

 

1. Tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Tanggung jawab pada diri sendiri berkaitan dengan kewajiban yang mendasar pada diri pribadi. Manusia dalam hidup dan kehidupannya sangat membutuhkan bantuan manusia lain manusia di lahirkan dalam keadaan suci tanpa dosa bagaikan selembar kertas putih yang belum tergores noda tinta sedikitpun. Dengan demikian pada dasarnya perbuatan baik dan buruk ada pada manusia, kendatipun telah ada qadha dan qadar Allah sebagai Khalik, namun manusia mampu merubah sikap dan perbuatan tersebut dengan ikhtianya yang ada.

Segala perbuatan manusia juga harus dapat bertanggung jawab pada dirinya sendiri, dengan kata lain manusia harus memenuhi segala yang dibutuhkan jasmani dan rohaninya demi mencukupi kodratnya sebagai makhluk hidup. Dapat kita con­tohkan dari kebutuhan manusia akan pangan. Hal ini didukung oleh firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 142.

“Dan diantara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makan­lah dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu dan janganlah kamu mengikuti langkah‑langkah syaitan, sesung­guhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu

Dari dalil diatas dapat kita artikan bahwasanya Allah telah memberikan beraneka ragam tanaman, tumbuh‑tumbuhan dan buah‑buahan, kemudian macam‑macam binatang ternak yang berbeda‑beda manfaatnya, yang pada dasarnya untuk dimanfaat kan bagi manusia, itulah rizki yang di berikan Allah kepada manusia (Ahmad dkk,1991:39‑41). Agar manusia mendapatkan pangan yang cukup di dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya, sehingga tanggung jawab pada dirinya tercapai. Dengan adanya pangan yang cukup bagi tubuh manusia maka manusia mampu bertahan hidup. Manusia mencari makan, tidak lain adalah karena adanya rasa tanggung jawab terhadap dirinya sndiri agar dapat melangsungkan hidupnya (Mustopo, 1988:192).

Selain pangan manusia juga butuh papan dan sandang, ini juga penting di dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia didalam tanggung jawab pada dirinya sendiri. Apabila kebutu­han terebut telah terpenuhi menurut prinsipnya, maka dapat dikatakan manusia terebut telah memenuhi tanggung jawab pada dirinya sendiri. Namun dalam memenuhi tanggung jawab hidup pribadinya itu, ia juga bertanggung jawab terhadap apa yang ia lakukan.   Hal ini di tegaskan dalam surat Al-Mudatsir ayat 38.

   “Tiap‑tiap diri bertanggung jawab atas apa yang di per­buatnya.”

 

2. Tanggung jawab terhadap keluarga.

Keluarga merupakan bagian terpenting dalam kehidupan seorang manusia, dengan adanya keluarga manusia dapat hidup tentram terarah. Kelurga adalah bagian hidup manusia yang juga perlu di pertanggung jawabkan. Allah berfirman dalam surat At Tahrim : 6.

 

“Hai orang‑orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan‑Nya kepada mereka dan mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Makna dalil diatas, seseorang manusia harus mampu menjaga diri dan keluarganya dari ancaman api neraka, dengan kata lain tanggung jawab seseorang dalam keluarganya sangat besar, ia harus mampu merubah kepad hal yang baik dan mence­gah agar keluarga tersebut tidak terjerumus dalam kesesatan, karena Allah telah mengingatkan akan azab api neraka bagi orang yang melanggar perintah‑Nya.

Keluarga hidup tentram dan sejahtera merupakan tang­gung jawab setiap manusia dalam keluarga tersebut. Ia harus mampu menjaga keberadaan keluarganya untuk dapat bertahan dalam kehidupan ini, dengan memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani para keluarganya, karena Allah sangat membenci orang‑orang yang melalaikan keluaganya dalam kelemahan dan kesusahan.

 

   “Dan hendaklah takut kepada Allah orang‑orang yang sean­dainya meninggalkan di belakang mereka anak‑anak ang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada  Allah  dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”(Q.S. An Nisa’: 9).

Menjaga keluarga dari kefakiran lebih di utamakan di banding menjaga orang lain. Jangan sampai keluarganya ter­lantar sepeninggal mereka jika kebetulan mereka menjada orang kaya.(Drs.Abdul Rahman Muis dkk,1988 : 94 & 98). Begitu besar tanggung jawab seseorang terhadap keluarganya, demi kelangsungan hidupnya serta menyangkut harga diri, kehormatan atau nama baik keluarganya, keselamatan, pendidi­kan dan kehidupan yang layak. Oleh karena itu setiap onggota keluarga sesuai dengan fungsi dan kedudukannya di tuntut dan wajib bertanggung jawab terhadap keluarganya.

 

3. Tanggung jawab terhadap masyarakat.

Kehidupan seorang manusia akan terasa hampa jika tidak ada orang lain yang dapat membantu, menolong dan menghibur. Antara individu dengan individu yang lain hendaknya terjalin  manusia membutuhkan komunikasi dengan manusia lain.

Seorang manusia dimana ia bertempat tinggal harus mampu bertanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya agar dapat melangsungkan kehidupannya di tengah‑tengah masyarakat tersebut.

Dapat kita contohkan, sseorang anggota masyarakat yang menyediakan tempat untuk perbuatan maksiat pada lingkungan masyarakat yang baik, apapun alasannya tindakan ini termasuk tidak bertanggung jawab terhadap masyarakat, karena secara moral psikologis akan mempengaruhi masa depan para generasi muda yang ada dalam masyarakat tersebut (Mustopo,1988: 193).

Situasi dan kondisi seorang anggota masyarakat sangat terkait dengan keadaan masyarakt tersebut. Tingkah laku dan perbuatan yang membentuk jiwa para generasi muda dalam lingkungan masyarakat menjadi baik dan buruk adalah terletak pada tangung jawab warga dan inidvidu masyarakat itu sen­diri. Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104.

 

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan yang menyeru kepada kebajikan dan menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang‑orang yang beruntung

Kandungan dalil diatas menjelaskan jika ada segolongan umat yang dapat mengajak, menetru orang lain pada kebaikan dan mencegah untuk berbuat kemungkaran adalah umat yang beruntung, dengan kata lain kepedulian tersebut di dasari oleh rasa tanggung jawab terhadap masyarakatnya. Dimana rasa tanggung jawab tersebut menjadikan kehidupan masyarakat yang harmonis, selaras antara sesama warga masyarakat. Sikap yang bertanggung jawab tersebut dapat di wujudkan denagn pembi­naan sikap, memelihara kerukunan antara sesama anggota masyarakat dan menjaga keamanan serta ketentraman masyarakat dimana ia bertempat tinggal. Dengan demikian segala kebera­daan dan kepribadian seseorang harus dapat mencerminkan sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab kepada masya­rakatnya.

 

4. Tanggung jawab terhadap lingkungan.

Pada hakikatnya suatu lingkungan yang aman, tentram dan damai di dukung oleh keadaan masyarakat dan jiwa indivi­du yang ada dalam masyarakat tersebut. Masyarakat yang mampu menjaga dan memelihara lingkungannya sedemikian rupa merupa­kan masyarakat yang telah bertanggung jawab kepada lingkun­gannya, dengan kata lain masing‑masing individu dalam masya­rakat tersebut mampu menjaga terciptanya keamanan dan keter­tiban lingkungannya.

Setiap individu harus sadar bahwa lingkungan sekitar­nya harus tetap di jaga kestabilannya. Lingkungan yang baik dengan masyarakat yang berbudi baik akan melahirkan orang‑orang yang baik pula, namun sebaliknya keadaan masyarakat dengan lingkungan yang buruk serta moral yang rendah akan menghasilkan manusia‑manusia yang tidak berpotensi dengan moral yang buruk dan mengkhawatirkan. Jadi lingkungan meru­pakan wadah yang paling vital untuk diperhatikan dalam masyarakat, dengan kata lain keadaan lingkungan suatu msya­rakat berpengaruh besar didalam pembentukan jiwa mansuianya. Dengan demikian memelihara lingkungan sekitarnya menunjukkan adanya rasa tanggung jawab seseorang pada lingkungannya.

Dalam hal ini pengertian lingkungan bukan hanya masya­rakatnya saja tetapi semua unsur‑unsur yang mencakup didalam lingkungan itu. Pada dasarnya Allah telah memelihara ling­kungan alam semesta dengan begitu indah, namun manusialah yang merusak keindahan lingkungan tersebut, dan ini merupa­kan perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab. Firman Allah dalam surat Ar Ruum ayat 41.

   “Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka kemba­li (kejalan yang benar).

Dalil di atas menunjukkan betapa manusia telah merusak kestabilan lingkungan alam yang Allah ciptakan bagi mereka. Dengan kata lain manusia tersebut tidak memiliki rasa tang­gung jawab sedikitpun. Manusia dengan kemodrenan teknologi mereka telah melepas tanggung jawabnya untuk sekedar berlom­ba dalam mencapai kepuasan di dunia. Akibat dari pada itu banyak terjadi bencana alam, tanah longsor, banjir yang diakibatkan penggundulan hutan, wabah penyakit merajalela akibat pencemaran air dan udara, semuanya menjadikan keresa­han dalam lingkungan masyarakat (Ahmad.dkk,1991 : 29).

Oleh sebab itu hendaklah setiap individu masyarakat mampu memelihara lingkungannya dan menjaga hal‑hal yang dapat merugikan orang banyak, dimana usaha terebut merupakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan terlebih‑lebih rasa tanggung jawab kepada Allah swt.

 

5. Tanggung jawab terhadap Tuhan.

Manusia adalah makhluk yanh mulia di bandingkan dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya, dimana kedudukan manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30.

 

Dan sesungguhnya Allah berkata kepada para Malaikat, ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malikat; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi, mereka berkata; “Mengapa Engkau ingin menjadi­kan khalifah (di muka bumi itu) orang yang membuat keru­sakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senan­tiasa bertasbih dan memuji Engkau ? Tuhan berfirman ;” sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Makna dalil di atas menunjukkan bahwa keberadaan manusia di angkat Allah sebagai khalifah di atas makhluk lainnya. Kendatipun demikian manusia tidak lepas dari tang­gung jawabnya kepada Tuhan atas semua perbuatannya, sebab kebesaran dan kekuasaan manusia masih dalam kekuasaan Allah. Semua pekerjaan dan usaha yang di lakukan manusia seluruhnya harus di pertanggung jawabkan kepada Tuhan.

Tanggung jawab kepada Tuhan menurut kesadaran manusia adalah untuk memenuhi kewajiban dan pengabdiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia harus bersyukru atas karunia‑Nya yang menciptakan manusia dan memberikan rizki‑rizki kepadanya. Oleh sebab itu manusia wajib mengabdi kepada Tuhan sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Dzariat ayat 56.

“Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka itu menyembah kepada‑ Ku.

Begitu mendasar tanggung jawab yang harus diberikan manusia kepada Allah swt. Dengan adanya rasa tanggung jawab kepada Allah maka seorang manusia akan merasa berhati‑hati di dalam setiap aktifitas kehidupannya. Manusia di harapkan mampu meeninggalkan semua larangan dan mengerjakan semua perintah yang di berikan Allah kepada manusia. Allah membe‑rikan kewajiban kepada manusia untuk dilaksanakan yang mana kewajiban tersebut adalah untuk mendapatkan hak manusia sendiri, dengan kata lain kewajiban terhadap Allah telah di laksanakan maka hak manusia adalah untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat dan semua ini terpulang kepada diri manu­sia serta kehendak Allah swt.

Menyembah itu dalam arti mengabdi kepada Tuhan sebagai wujud tanggung jawab kepada Tuhan. Tanggung jawab di sini erat kaitannya dengan kewajiban. Kewajiban adalah merupakan sesuatu yang di bebankan kepada seseorang, namun Allah hanya membebankan sesuatu itu berdasarkan atas kemampuannya. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah 286.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang di usahakannya dan ia mendapat (siksa dari kejahatan) yang di kerjakannya.

Kesanggupan dan kemampuan seseorang tidak di paksakan oleh kewajiban yang di bebankan kepadanya. Namun kewajiban‑kewajiban tersebutlah yang harus di pertanggung jawabkan kepada Tuhan, sebagai akhir dari proses untuk mendapatkan hak.

 

 

C. Makna Keadilan

Keadilan adalah pengakuan dan perlakuakn yang seimbang antara hak dan kewajiban. Jika kita mengakui hak hidup kita, maka kita wajib mempertahankan hak hidup  tersebut dengan bekerja keras tanpa merugikan orang lain. Hal ini disebabkan bahwa orang lainpun mempunyai hak hidup seperti kita. Jika kita mengakui hak hidup orang lain, kita wajib memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mempertahankan hak hidup­nya. Jadi keadilan pada pokoknya terletak pada keseimbangan atau keharmonisan antara menuntut hak dan menjalankan kewajiban (Suyadi, 1986 : 123).

Dengan keinsyafan dan kesadaran akan keadilan, kita akan mampu memenuhi cipta, rasa dan karsa manusia terhadap sesama atau pihak lain, sehingga akan membentuk hati nurani manusia. Pada dasarnya hakekat dan kodrat manusia senantiasa berusaha untuk keadilan yang merupakan wujud cinta kasih.

Dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 90 Allah memerintah­kan agar berbuat adil :

 

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan ber­buat kebajikan, memberi kaum kerabat …”

 

Dalam surat Al-Maidah ayat 8 Allah berfirman :

 

Dan janganlah sekali‑kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebh dekat kepada taqwa…”

Pada dasarnya keadilan itu tidak pernah berubah makna dan prinsipnya, yang berubah hanyalah bagaimana cara seseo­rang menafsirkannya, sehingga berbeda pula cara pelaksanaan­nya. Hal ini disebabkan oleh adanya tingkah laku dan kepen­tingan manusia yang berbeda. Karakteristik manusia yang berbeda‑beda ini turut mempengaruhi wujud keadilan. Hal ini mudah dimengerti karena tidak adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Apabila seseorang atau golongan hanya memen‑tingkan hak dan kewajiban sendiri tanpa memikirkan kepentin­gan orang lain atau golongan lainnya, terjadilah keadilan semu. Misalnya saja :

Pengusaha :

Bagi mereka adil itu apabila keuntungan terbesar jatuh pada pengusaha.

Buruh:

 Bagi buruh diakatakan adil apabila upah dibayar pada waktunya dan keuntungan perusahaan juga dibagi wajar pada kaum buruh.

Golongan Demokrat :

Menganggap adil apabila kepentingan rakyat selalu diutamakan.

Golongan Komunis:

Menganggap adil sekiranya hak milik perseorangan ditiadakan.

Seorang filosof Cina Khong Hu Tsu, menuturkan tentang keadilan  sebagai berikut: “Bila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai taja, masing‑masing telah melaksanakan kewajibannya, maka itulah keadilan”. Tegasnya menurut Tsu bila masing‑masing telah menjalankan fungsinya baru tercapai keadilan.

Di dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa adil itu adalah

  • Tidak berat sebelah atau tidak memihak ke salah satu pihak.
  • Memberikan sesuatu kepada setiap orang  sesuai dengan hak yang harus diperolehnya.
  • Mengetahui hak dan kewajiban, mengerti mana yang benar dan mana yang salah, bertindak jujur dan tepat menurut peraturan  atau syarat dan rukun yang telah ditetapkan, tidak sewenag‑wenang dan tidak maksiat atau berbuat dosa (Shadily, 1991 : 79).

Ditinjau dari bentuk ataupun sifat‑sifatnya, keadilan dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis :

1. Keadilan legal atau formal

Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaannya yang menurut sifat dasarnya paling cocok untuknya. Pendapat Plato itu dise­but keadilan moral. Sedangkan Sunoto menyebutnya dengan keadi­lan legal.

Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras kepada bagian yang membentuk suatu masyarakat. Keadilan terwujud dalam masyarakat bilamana setiap anggota melakukan fungsinya secara baik menurut kemampuannya.

2. Keadilan Distributif

Menurut Aristoteles bahwa keadilan akan terlaksana bila­mana hal‑hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal‑hal yang tidak sama diperlakukan secara tidak sama. Suatu contoh: Umar bekerja 10 tahun dan Usman bekerja 5 tahun. Pada waktu diberikan hadiah harus dibedakan antara Umar dan Usman, yaitu perbedaan sesuai dengan lamanya kerja. Andaikata Umar menerima Rp. 1.000.000,‑ maka Usman harus menerima Rp. 500.000,‑. Ini disebut adil. Akan tetapi bila besar hadiahnya sama, justru hal itu tidak adil.

 

3. Keadilan Komulatif

Keadilan komulatif ini harus dilaksanakan oleh seluruh anggota. Artinya seluruh anggota harus melaksanakan hak dan kewajiban dengan baik dengan tidak merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat (Hoegio­no, 1990  : 60).

 

D. Kejujuran

Kejujuran berasal dari kata jujur yang berarti apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan‑perbuatan yang dilarang agama dan hukum. Jujur berati pula menepati janji atau menepati kesanggupan, baik yang telah terlahir dalam kata‑kata maupun yang masih di dalam hati.

Sifat jujur mewujudkan sikap keadilan, sedang keadilan menuntut kemuliaan abadi. Jujur memberikan keberanian serta ketenteraman hati. Seseorang mustahil dapat memeluk agama dengan sempurna apabila tidak memiliki sifat jujur.

Pada hakekatnya kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan akan adanya sama hak dan kewajiban serta takut akan kesalahan atau dosa.

Adapun kesadaran moral adalah kesadaran tentang diri kita sendiri berhadapan dengan hal baik buruk. Disitu manu­sia dihadapkan kepada pilihan antara yang halal dan yang haram, yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, meskipun dapat dilakukan. Dalam hal ini kita melihat sesuatu yang spesifik  atau khusus manusiawi.

Ada bermacam penyebab orang tidak berlaku jujur. Mungkin karena tidak rela, mungkin karena pengaruh lingkun­gan, karena sosial ekonomi, ingin populer dan sebagainya.

Dalam kehidupan sehari‑hari jujur dan tidak jujur merupakan bagian hidup yang tidak dapat dipisahkan  dari kehidupan manusia itu sendiri.

Untuk mempertahankan kejujuran, berbagai cara dan sikap perlu dipupuk. Namun demi sopan santun dan pendidikan, orang boleh berkata tidak jujur  sampai pada batas‑batas yang dibenarkan.

 

E. Kecurangan

Kecurangan artinya apa yang dilakukan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Kecurangan membuat manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan agar dianggap seba­gai orang yang paling hebat, paling senang dan sebagainya. Orang seperti itu biasanya tidak senang bila ada orang yang melebihinya. Padahal agama apapun tidak membenarkan orang menumpuk‑numpuk harta sebanyak‑banyaknya tanpa menghiraukan orang sekelilingnya. Allah melarang manusia berbuat demikian sebagaimana firman‑Nya Di dalam Al-Quran surat Al-Humazah  ayat 1‑4 :

 

  1. 1.      Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.
  2. 2.      Yang mengumpulkan harta dan menghitung‑hitungnya (yang karenanya ia menjadi kikir dan tidak mau menafkahkan di jalan Allah).
  3. 3.      Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.
  4. Sekali‑kali tidak!. Sesungguhnya ia benar‑benar akan dilemparkan ke dalam neraka Huthamah.

Penyebab utama orang melalukan kecurangan adalah karena ia menginginkan keuntungan bagi dirinya tanpa memper­dulikan orang lain. Apa yang ada dalam fikirannya adalah bagaimana agar mendapat lebih dari semsetinya meskipun orang lain dirugikan karena kecurangannya. Seseorang melakukan korupsi (tindak kecurangan) karena ia menginginkan lebih dengan cara yang tidak benar.

Penyebab lainnya adalah karena ingin populer (terke­nal). Karena ingin mendapatkan gelar juara, maka perlombaan yang dilakukannya disisipin dengan kecurangan. Tindakan‑tindakan kecurangan itu tentu tidak disenangi oleh orang lain, karena tindakannya itu merugikan orang lain atau mengambil hak orang lain dengan cara licik.

 

 

 

 

                                                                                          

 

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

METODE ILMIAH DAN LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL

 

A.   CARA-CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN

          Dari pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan adanya perkembangan pola pikir manusia di mana orang percaya kepada mitos, ramalan nasib berdasarkan perbintangan, matahari, dewa petir dan sebagainya. Pengetahuan itu mereka peroleh dengan berbagai cara, antara lain :

  1. Prasangka, yaitu suatu anggapan benar padahal baru merupakan kemungkinan benar atau kadang-kadang malah tidak mungkin benar.

Contoh : pada zaman Babylonia, orang percaya bahwa hujan dapat turun dari surga sampai ke bumi melalui jendela-jendela yang ada di langit.

Dengan prasangka, orang sering mengambil keputusan yang keliru. Prasangka hanya berguna untuk mencari kemungkinan suatu kebenaran.

  1. Intuisi, yaitu suatu pendapat seseorang yang diangkat dari perbendaharaan pengetahuannya terdahulu melalui suatu proses yang tak disadari. Jadi, seolah-olah begitu saja muncul pendapat itu tanpa pikir.

Pengetahuan yang dicapai dengan cara demikian sukar dipercaya, ungkapan-ungkapannya sering masuk akal namun belum tentu cocok dengan kenyataan.

Contoh : Seorang astrolog di samping rumusannya sering menggunakan intuisinya dalam memberikan ramalan nasib seseorang.

  1. ”Trial and Error”, yaitu metode coba-coba atau untung-untungan. Cara ini dapat diibaratkan  seperti seekor kera yang mencoba meraih pisang dalam sebuah kerangkeng dari percobaan Kohler, seorang psikolog Jerman. Kera itu dengan cara coba-coba akhirnya dapat juga meraih pisang dengan menggunakan tongkat.

          Pengetahuan pada manusia diperoleh melalui cara ini banyak sekali, yaitu sejak zaman manusia purba sampai sekarang. Banyak pula penemuan hasil “Trial and Error” sangat bermanfaat bagi manusia. Misalnya, ditemukannya rendaman kulit kina untuk obat malaria. Penemuan dengan cara coba-coba ini jelas tidak efisien sebagai suatu cara untuk mencari kebanaran.

          Pada zaman Yunani orang cenderung untuk mengikuti saja ajaran para ahli pikir ataupun para penguasa. Namun, ajaran-ajaran ini ternya banyak yang keliru karena ahli-ahli pikir itu terlalu mengandalkan pemikiran atau akal sehat, dan kebenaran yang dianut itu adalah yang masuk akalnya. Contoh, setiap hari kita lihat matahari terbit dari Timur lalu terbenam di Barat. Maka masuk akallah bila dikatakan bahwa matahari beredar mengelilingi bumi. Contoh lain, bila kayu dibakar maka berubah jadi api, udara, dan abu (tanah). Maka menurut akal sehat unsur dasar pembentuk kayu itu adalah tanah, api dan udara.

          Pengetahuan yang didapat dengan cara-cara tersebut di atas termasuk golongan pengetahuan yang tidak ilmiah. Lalu bagaimanakah pengetahuan yang ilmiah atau yang disebut ilmu pengetahuan itu?

          Metode ilmiah adalah prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu adalah pengetahuan yang didapat lewat metode ilmiah. Metode adalah suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Metodeologi adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.

          Tidak semua pengetahuan yang disebut ilmu, sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu atau dikatakan ilmiah adalah :

  1. Obyektif, artinya pengetahuan itu sesuai dengan obyeknya atau didukung metodik fakta empiris;
  2. Metodik, artinya pengetahuan itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol;
  3. Sistematik, artinya pengetahuan itu tidak disusun dalam suatu sistem di mana satu sama lain saling berkaitan dan saling menjelaskan, sehingga seluruhnya merupakan satu kesatuan yang utuh.
  4. Berlaku umum, artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja, tetapi semua orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten;.

          Pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah, diharapkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yakni sifat rasional dan teruji, sehingga memungkinkan tubuh pengetahuan  yang disusun merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan cara berpikir induktif dalam membangun tubuh dan pengetahuannya.

          Cara berpikir deduktif adalah cara berpikir di mana kesimpulan ditarik dari suatu yang bersifat umum. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus, yang disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogismus disebut premis yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.

          Cara berpikir induktif adalah cara berpikir yang menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari pernyataan yang bersifat khusus atau individual. Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi, yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.

          Cara berpikir deduktif terkait dengan rasionalisme, yang memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Oleh karena itu, cara berpikir deduktif berdasarkan pada kriteria kebenaran koherensi atau teori koherensi. Rasionalisme adalah paham yang berpendapat bahwa rasio adalah sumber kebenaran.

          Teori koherensi adalah suatu pernyataan  pengetahuan rasionalisme yang memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya yang dianggap benar. Namun demikian, penjelasan yang bersifat rasional dengan kriteria kebanaran koherensi tidak memberikan kesimpulan yang bersifat final. Hal ini disebabkan karena meskipun argumentasi secara rasional didasarkan kepada premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya, namun dimungkinkan pula pilihan yang berbeda dari sejumlah premis ilmiah yang tersedia, yang dipergunakan dalam penyusunan argumentasi. Oleh karena itu dalam metode ilmiah di samping menggunakan cara berpikir deduktif, dipergunakan pula cara berpikir induktif.

          Cara berpikir induktif terkait dengan empirisme, di mana dibutuhkan fakta-fakta yang mendukung. Oleh karena itu, cara berpikir induktif berdasarkan pada kriteria kebenaran korespondensi atau teori korespondensi.

          Empirisme adalahpaham yang berpendapat, bahwa fakta  yang tertangkap lewat pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran. Teori korespondensi adalah suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu koresponden (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.

          Dalam metode ilmiah, pendekatan rasional digabungkan dengan pendektan empiris. Secara rasional maka ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak.

 

B.   LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL METODE ILMIAH

          Salah satu syarat ilmu pengetahuan ialah bahwa materi pengetahuan itu harus diperoleh melalui metode ilmiah. Ini berarti bahwa cara memperoleh pengetahuan itu menentukan apakah pengetahuan itu termasuk ilmiah atau tidak. Metode ilmiah tentu saja harus menjamin akan menghasilkan pengetahuan yang ilmiah, yaitu yang bercirikan objektivitas, konsisten, dan sistematik.

          Langkah-langkah operasionalnya adalah sebagai berikut :

1)    Perumusan masalah; yang dimaksud dengan masalah di sini adalah merupakan pernyataan apa, mengapa, ataupun bagaimana tentang objek yang diteliti. Masalah ini harus jelas batas-batasnya serta dikenal faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2)    Penyusunan hipotesis; yang dimaksud dengan hipotesis adalah suatu perny ataan yang menunjukkan kemungkinan-kemungkinan jawaban untuk memecahkan masalah yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, hipotesis merupakan dugaan yang tentu saja didukung oleh pengetahuan yang ada. Hipotesis juga dapat dipandang sebagai jawaban sementara dari permasalahan yang harus diuji kebenarannya  dalam suatu observasi atau eksperimentasi.

3)    Pengujian hipotesis; yaitu berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan untuk dapat memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. Fakta-fakta ini dapat diperoleh melalui pengamatan langsung dengan mata atau melalui teleskop atau dapat juga melalui uji coba atau eksperimentasi.

4)    Penarikan kesimpulan; penarikan kesimpulan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta-fakta (data), untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan itu diterima atau tidak. Hipotesis itu dapat diterima bila fakta-fakta yang terkumpul itu mendukung pernyataan hipotesis. Bila fakta-fakta pernyataan hipotesis. Hipotesis yang diterima merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya telah diuji secara ilmiah, dan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan.

          Keseluruhan langkah tersebut di atas harus ditempuh melalui urutan yang teratur, di mana langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah berikutnya. Dari keterangan-keterangan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang disusun secara sistematis, berlaku umum dan kebenarannya telah diuji secara empiris.

          Langkah-langkah operasional metode ilmiah di atas dapat digambarkan seperti bagan berikut :

 

 

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. C.   KETERBATASAN DAN KEUNGGULAN METODE ILMIAH
  2. 1.     Keterbatasan

          Metode ilmiah dapat menghasilkan pengetahuan ilmiah. Kita telah mengetahui bahwa data yang digunakan untuk mengambil kesimpulan ilmiah itu berasal dari pengamatan. Kita mengetahui pula bahwa pancaindera kita juga mempunyai keterbatasan kemampuan untuk menangkap suatu fakta atau fenomena, sehingga kesimpulan  yang diambil dari fakta-fakta yang keliru itu juga akan keliru. Jadi, kemungkinan keliru dari suatu kesimpulan ilmiah tetap ada. Oleh karena itu semua kesimpulan ilmiah atau dengan kata lain kebenaran ilmu pengetahuan termasuk Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bersifat tentatif. Artinya, suatu pendapat yang disimpulkan dengan menggunakan metode ilmiah diakui sebagai “benar” selama belum ada pendapat baru yang dapat menolak kesimpulan itu. Sebaliknya, apabila telah ditemukan kebenaran ilmiah yang dapat menolak kebenaran terdahulu maka pendapat terbarulah yang diakui sebagai kebenaran, sehingga tidak mustahil suatu kesimpulan ilmiah bisa saja berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Tidak demikian halnya dengan pengetahuan yang didapat dari wahyu illahi. Kebenaran dari pengetahuan ini bersifat mutlak, artinya tidak akan berubah sepanjang masa.

          Metode ilmiah memang tidak sanggup menjangkau untuk menguji adanya Tuhan; metode ilmiah juga tidak dapat menjangkau untuk membuat kesimpulan berkenaan dengan baik dan buruk atau sistem nilai, juga tidak dapat menjangkau tentang seni dan keindahan.

 

  1. 2.     Keunggulan

          Seperti telah dijelaskan di muka ciri khas ilmu pengetahuan (termasuk IPA) yang sifatnya objektif, metodik, sistematik dan berlaku umum itu akan membimbing kita pada sikap ilmiah yang terpuji sebagai berikut :

a)     Mencintai kebenaran yang objektif, bersikap adil, dan itu semua akan menjurus ke arah hidup yang bahagia.

b)    Menyadari bahwa kebanaran itu tidak absolut; hal ini dapat menjurus ke arah mencari kebenaran itu terus menerus.

c)     Dengan ilmu pengetahuan, orang lalu tidak percaya pada takhyul, astrologi maupun untung-untungan karena segala sesuatu di alam semesta ini terjadi melalui suatu proses yang teratur.

d)    Ilmu pengetahuan membimbing kita untuk ingin tahu lebih banyak. Ilmu pengetahuan yang kita  peroleh tentunya akan sangat membantu pola kehidupan kita.

e)     Ilmu pengetahuan membimbing kita untuk tidak berpikir secara prasangka, tetapi berpikir secara terbuka atau objektif, suka menerima pendapat orang lain atau bersikap toleran.

f)      Metode ilmiah bimbingan kita untuk tidak percaya begitu saja pada suatu kesimpulan tanpa adanya bukti-bukti yang nyata.

g)     Metode ilmiah juga membimbing kita selalu bersikap optimis, teliti dan berani membuat suatu pernyataan yang menurut keyakinan ilmiah kita adalah benar.

 

D.   ILMU PENGETAHUAN ALAM KUALITATIF DAN KUANTITATIF

          Pada uraian terdahulu telah diterangkan bahwa penemuan-penemuan yang didapat oleh copernicus sampai Galileo pada awal abad ke-17 merupakan perintis ilmu pengetahuan ilmiah. Artinya, penemuan-penemuan itu berdasarkan empiris dengan metode induksi yang objektif dan bukan atas dasar deduksi filosofik seperti pada zaman Yunani atau berdasarkan mitos seperti pada zaman Babylonia. Penemuan-penemuan itu misalnya adalah bahwa di bulan terdapat gunung-gunung, Yupiter mempunyai 4 buah bulan, di matahari terdapat bercak hitam yang dapat digunakan untuk mengukur kecepatan rotasi matahari dan sebagainya.

          Penemuan-penemuan semacam ini kita sebut sebagai ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kualitatif. Ilmu Pengetahuan Alam yang kualitatif ini tidak dapat menjawab pertanyaan yang sifatnya kausal atau hubungan sebab akibat, Ilmu Pengetahuan Alam kualitatif itu hanya mampu menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang sifatnya faktual.

          Untuk memperoleh jawaban dari pernyataan tentang hal-hal yang sifatnya kausal, diperlukan perhitungan secara kuantitatif.

          Contoh : Seseorang memelihara bebek dengan makanan tradisional biasa. Bebek bertelur 15 butir dalam sebulan. Kemudian orang itu menambahkan keong mas sebagai makanan tambahan bagi bebeknya, ternyata bebeknya bertelur lebih banyak, yaitu 20 butir sebulan. Dari kenyataan ini belum dapat ditarik kesimpulan adanya pengaruh penambahan makanan keong mas itu terhadap kenaikan jumlah telur bebek, karena masih bersifat kasus, artinya mungkin saja itu suatu kebetulan terjadi pada seekor bebek (kasus).

          Akan tetapi, bila percobaan itu dilakukan terhadap seribu ekor bebek dan 999 ekor bebek berkelakuan seperti di atas, maka kemungkinan besar bahwa memang benar hal itu berlaku umum untuk setiap bebek, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian keong mas terhadap jumlah telor yang dihasilkan.

          Kesimpulan dapat ditarik berdasarkan induksi (eksperimentasi) dan deduksi (perhitungan matematik statistik). Jadi, Ilmu Pengetahuan Alam kuantitatif adalah Ilmu Pengetahuan Alam yang dihasilkan oleh metode ilmiah yang didukung oleh data kuantitatif dengan menggunakan statistik. Ilmu Pengetahuan Alam kuantitatif ini dapat disebut juga sebagai Ilmu Pengetahuan Alam modern.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

ALAM SEMESTA MENURUT ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

 

A. KEJADIAN ALAM SEMESTA MENURUT ISLAM

        Berbicara mengenai kejadian alam semesta menurut Islam, berarti sama halnya dengan membicarakan konsep kitab suci (Al-Quran) mengenai alam semesta.

        Al-Quran menyebutkan mengenai kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, tentang penciptaan makhluk hidup dan berbagai aspek pengetahuan lainnya. Meskipun demikian, kitab suci itu bukanlah buku pelajaran kosmologi atau sains pada umumnya. Sebab ia hanya menyatakan bagian-bagian yang penting saja dari ilmu dimaksud dan masih harus dicari kelengkapannya agar dapat dipahami secara utuh.

        Menggali konsep-konsep kosmologis yang ada dalam Al-Quran sebenarnya merupakan suatu pekerjaan yang tiada habis-habisnya. Betapa tidak?, hanya Allah SWT sajalah yang mengetahui makna hakiki ayat-ayat di dalam kitab suci itu. manusia hanya dapat mencoba memahaminya sesuai dengan kemampuannya yang sangat terbatas. Berikut ini diuraikan konsep Islam mengenai kejadian alam semesta sesuai dengan keterbatasan kemampuan tadi.

        Ayat-ayat Al-Quran yang mengandung konsep-konsep kosmologis antara lain adalah sebagai berikut : (catatan: tafsir terhadap masing-masing ayat diambil dari Achmad Baiquni dalam bukunya Al-Quran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

 

“Dan tidakkah orang-orang yang kafir itu mengetahui bahwa ruang waktu dan energi materi itu dulu sesuatu yang padu (pada singularitas), kemudian Kami pisahkan keduanya itu” (Al-Anbiya : 30).

 

“Dan ruang waktu itu Kami bangun dengan kekuatan (ketika dentuman besar dan inflasi melandanya sehingga beberapa dari dimensinya menjadi terbentang) dan sesungguhnya Kamilah yang meluaskannya (sebagai kosmos yang berekspansi).” (Adz Dzariyat : 47).

 

“Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan ruang waktu, dan ia penuh “embunan” (dari materialisasi energi), lalu Dia berkata kepadanya dan kepada materi: Datanglah kalian mematuhi (peraturanKu) dengan suka atau terpaksa; keduanya menjawab: Kami datang dengan kepatuhan.” (Fushshilat : 11).

 

“Maka Dia menjadikannya tujuh ruang waktu (alam semesta) dalam dua hari, dan Dia mewahyukan kepada tiap alam itu peraturan (Hukum alam-Nya) masing-masing dan Kami hiasi ruang waktu (alam) dunia dengan pelita-pelita, dan Kami memeliharanya; demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Fushshilat : 12).

 

“Allahlah yang menciptakan tujuh ruang waktu (alam semesta), dan materinya seperti itu pula”. (At-Thalaq : 12).

“Allahlah yang menciptakan ruang waktu dan materi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, dan pada saat itu menegakkan pemerintahanNya (yang seluruh perangkat peraturannya ditaati oleh segenap makhluk-Nya dengan suka hati;” (As-Sajdah : 4).

 

“Dan Dialah yang telah menciptakan ruang waktu dan materi dalam enam hari, sedang pemerintahanNya telah tegak pada fase Zat alir (yaitu sop kosmos) untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya;” (Hud : 7).

“Sesungguhnya Allah menahan ruang waktu (alam semesta) dan materi di dalamnya agar jangan lenyap (sebagai jagad raya yang terbuka), dan sungguh jika keduanya akan lenyap tiada siapa pun yang dapat menahan keduanya selain Allah; sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun.” (Fathir : 14).

 

“Pada hari kami gulung ruang waktu (alam semesta) laksana menggulung lembaran tulis; sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan, begitulah kami akan mengembalikannya; itulah janji yang akan Kami tepati; Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya”. (Al-Anbiya : 104).

 

B.  TEORI IPA TENTANG TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA

        Telah dijelaskan sebelumnya bahwa ilmu pengetahuan terbentuk dari hasil perpaduan antara pengamatan dengan penalaran, kebenaran yang dihasilkan ilmu pengetahuan juga bersifat relatif, artinya tidak mutlak dan selalu dapat diperbaiki atau digantikan oleh hasil penelitian yang lebih akurat.

        Tingkat kebenaran ilmu juga bertingkat, yaitu mulai dari “hipotesis” pada tingkat yang paling rendah sampai dengan “hukum” pada tingkat yang paling tinggi. Secara bertingkat kebenaran ilmu adalah sebagai berikut : pertamaadalah hukum (misalnya hukum Archimedes mengenai tekanan terhadap benda dalam zat cair, yang selanjutnya dijadikan dasar bagi pembuatan kapal laut). Setingkat lebih rendah adalah Teori (misalnya teori terbentuknya gunung berapi atau teori terbentuknya galaksi). setingkat leih dari teori adalah hipotesis. Suatu hipotesis akan menjadi teori jika telah terbukti kebenarannya.

        Pendapat mengenai terbentuknya alam semesta baru merupakan teori yang meskipun sudah banyak penelitian, namun masih tetap pada tingkat teori saja. Pada dasarnya ada dua teori tentang terbentuknya alam semesta, yaitu :

 

  1. 1.  Teori keadaan tetap (Steady-state theory)

        Teori ini berdasarkan prinsip kosmologi kesempurnaan yang menyatakan bahwa alam semesta di manapun dan bilamanapun selalu sama. Berdasarkan prinsip tersebut alam semesta terjadi pada suatu saat tertentu yang lalu dan segala sesuatu di alam semesta selalu tetap sama walaupun galaksi-galaksi saling bergerak menjauhi satu sama lain. Teori ini ditunjang oleh kenyataan bahwa galaksi baru mempunyai jumlah yang sebanding dengan galaksi lama. Dengan demikian teori ini secara ringkas menyatakan bahwa tiap-tiap galaksi terbentuk (lahir), tumbuh, menjadi tua dan akhirnya mati. Jadi, teori ini beranggapan bahwa alam semesta itu tak terhingga besarnya dan tak terhingga tuanya. (tanpa awal dan tanpa akhir).

        Dengan diketahuinya kecepatan radial galaksi-galaksi menjauhi bumi yang dihubungkan dengan jarak antara galaksi-galaksi dengan bumi dari hasil pemotretan satelit, maka disimpulkan bahwa makin jauh jarak galaksi terhadap bumi, makin cepat galaksi tersebut bergerak menjauhi bumi. Hal ini sesuai dengan garis spektra yang menuju ke panjang gelombang yang lebih besar yaitu menuju merah, yang hal ini sering dikenal dengan pergeseran merah. Dari hasil penemuan ini menguatkan bahwa alam semesta selalu mengembangkan (ekspansi) dan menipis (kontraksi). Dengan demikian harus ada “ledakan” atau “dentuman” yang memulai adanya pengembangan.

 

  1. 2.  Teori Ledakan (Big-bang Theory)

        Teori ledakan ini bertolak dari asumsi adanya suatu massa yang sangat besar sekali dan mempunyai berat jenis yang sangat besar, meledak dengan hebat karena adanya reaksi inti. Massa itu kemudian berserak mengembang dengan sangat cepatnya menjauhi pusat ledakan. Setelah berjuta-juta tahun massa yang berserak itu berbentuk kelompok-kelompok galaksi yang ada sekarang. Mereka terus bergerak menjauhi titik pusatnya. Teori ini didukung oleh kenyataan dari pengamatan bahwa galaksi-galaksi itu memang bergerak menjauhi titik pusat yang sama.

 

C. TEORI TERBENTUKNYA GALAKSI

Hipotesis Fowler (1957)

        Menurut Fowler, 12 ribu juta tahun yang lalu Galaksi kita ini tidaklah seperti dalam keadaan seperti sekarang ini. Ia masih berupa kabut gas hidrogen yang sangat besar sekali yang berada di ruang angkasa. Ia bergerak perlahan mengadakan rotasi sehingga keseluruhannya berbentuk bulat. karena gaya beratnya maka ia mengadakan kontraksi. Massa bagian luar banyak yang tertinggal; pada bagian yang berkisar lambat dan mempunyai berat jenis yang besar terbentuklah bintang-bintang. Gumpalan kabut yang telah menjadi bintang itupun secara perlahan mengadakan kontraksi. Energi potensialnya mereka keluarkan dalam bentuk sinar dan panas radiasi dan bintang-bintang itupun makin turun temperaturnya. Setelah berpuluh ribu juta tahun ia mempunyai bentuknya yang boleh dikatakan tetap sepeti halnya matahari kita. Hipotesis itu diyakinkan oleh suatu observasi yang ditujukan kepada pusat galaksi di mana selalu dilahirkan bintang baru baik secara perlahan-lahan maupun secara eksplosif.

  1. 1.  Galaksi

        Berdasarkan apa yang nampak dari hasil pengamatan, dapat kita bedakan adanya tiga macam galaksi, yaitu :

  1. Galaksi berbentuk spiral
  2. Galaksi berbentuk elips
  3. Galaksi berbentuk tak beraturan

 

 

  1. 2.  Bhima Sakti

        Induk dari matahari kita adalah galaksi Bhima Sakti atau Milky Way. Bhima Sakti mempunyai bentuk spiral. Tetangga terdekat dari Bima Sakti adalah galaksi Andromeda yang juga berbentuk spiral dan jauhnya 870.000 tahun cahaya (cahaya bergerak dengan kecepatan 300.000 km/detik jadi 1 tahun cahaya berjarak : 300.000 x 365 ¼ x 24 x 60 x 60 km = 10 km).

        Bhima Sakti berbentuk bulat pipih seperti kue cucur. Letak matahari dan bumi tempat tinggal kita, jauhnya kurang lebih 2/3 dari pusat galaksi (atas dan bawah) terdapat kumpulan bintang yang disebut Globular. Dalam satu galaksi, kumpulan bintang (globular) ada yang berjumlah 1000.

        Galaksi kita ini mengadakan rotasi dengan arah yang berlawanan dengan jarum jam.

        Bhima Sakti memiliki tidak kurang dari 100 ribu juta bintang. Selain itu masih terdapat gumpalan-gumpalan kabut gas maupun semacam galaksi kecil yang banyak jumlahnya.

 

D. TEORI TENTANG TERBENTUKNYA TATA SURYA

  1. 1.  Hipotesis Nebular

        Hipotesis ini dikemukakan pertama kali oleh Laplace pada tahun 1796. Ia yakin bahwa sistem tata surya terbentuk dari kondensasi awan panas atau kabut gas yang sangat panas. Pada proses kondensasi tersebut ada sebagian yang terpisah dan merupakan cincin yang mengelilingi pusat. Pusatnya itu menjadi sebuah bintang atau matahari. Bagian yang mengelilingi pusat itu dengan cara yang sama berkondensasi membentu suatu formula yang serupa dengan terbentuknya matahari tadi. Setelah mendingin benda-benda yang mengelilinginya berupa satelit atau bulan. Dapat dibayangkan bahwa berdasarkan teori ini, planet Saturnus yang dikelilingi oleh cincin Saturnus itulah merupakan bakal satelitnya. Salah satu keberatan dari hipotesis ini adalah ditemukannya dua buah bulan pada Jupiter dan sebuah bulan di Saturnus yang berputar berlawanan arah dengan rotasi planet-planet tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa satelit tersebut bukan merupakan bagian dari planetnya sesuai dengan hipotesis Laplace.

  1. 2.  Hipotesis Planettesimal

        Dikemukakan pertama kali oleh Chamberlin dan Moulton. Hipotesis ini bertitik tolak dari pemikiran yang sama dengan teori nebular, bahwa sistem tata surya ini terbentuk dari kabut gas yang sangat besar yang berkondensasi. Perbedaannya adalah terletak pada asumsi bahwa terbentuknya planet-planet itu tidak harus dari satu badan tetapi diasumsikan ada bintang besar lain yang kebetulan sedang lewat dekat bintang di mana tata surya kita merupakan bagiannya. Kabut gas dari bintang lain itu sebagian terpengaruh oleh daya tarik matahari kita dan setelah mendingin terbentuklah benda-benda yang disebut planettesimal. Planettesimal merupakan benda-benda kecil yang padat. Karena daya tarik menarik antar benda itu sendiri, benda-benda kecil tersebut akan bergumpal menjadi besar dan menjadi panas. Hal ini disebabkan oleh tekanan akibat akumulasi dari massanya. Teori ini dapat menjawab pertanyaan mengapa ada satelit-satelit pada Jupiter maupun pada Saturnus yang mempunyai orbit berlawanan dengan rotasi planet-planet itu.

 

  1. 3.  Teori Tidal

        Teori ini diungkapkan pertama kali oleh James Jeans dan Harold Jeffreys pada tahun 1919. Menurut teori ini, planet itu merupakan percikan dari matahari yaitu seperti percikan matahari yang sampai kini masih nampak ada. Percikan tersebut disebut “tidal”. Tidal yang besar yang kemudian akan menjadi planet itu disebabkan karena adanya dua buah matahari yang bergerak saling mendekati. Peristiwa ini tentu jarang sekali terjadi, namun bila ada dua buah bintang yang bergerak mendekat satu dengan yang lain, maka akan terbentuklah planet-planet baru seperti teori tersebut di atas.

        Usaha para ilmuwan itu hanyalah sekedar menguji hipotesis. Setelah teruji, teori itu masih mungkin diperbaiki dengan teori yang lebih akurat. Namun demikian teori-teori tersebut di atas masih diyakini orang sampai sekarang.

 

E.  PENENTUAN UMUR BUMI DAN TATA SURYA

  1. 1.  Teori Sedimen

        Umur bumi dapat dihitung dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah dengan menghitung tebal lapisan sedimen yang membentuk batuan. Dengan mengetahui beberapa tebal lapisan sedimen rata-rata yang terbentuk tiap tahunnya dan memperbandingkan tebal batuan sedimen yang terdapat di bumi sekarang ini, maka dapat dihitung berapa umur lapisan tertua dari bumi. Dengan cara ini didapatkan bahwa bumi kita telah terbentuk sejak 500 juta tahun yang lalu.

 

  1. 2.  Teori Kadar Garam

        Cara lainnya adalah dengan memperhitungkan kenaikan kadar garam di laut. Diasumsikan bahwa mula-mula laut berair tawar. Oleh adanya sirkulasi, air membawa larutan garam melalui sungai-sungai ke laut. Hal ini berlangsung terus menerus sepanjang abad. Dengan mengetahui kenaikan kadar tiap tahu, lalu diperbandingkan dengan kadar garam di laut saat ini yaitu kurang lebih 3% maka didapatkan hasil perhitungan yang berkesimpulan bahwa bumi telah terbentuk 1000 juta tahun yang lalu.

  1. 3.  Teori Termal

        Teori lain yang melandasi perhitungannya dengan cara penurunan temperatur bumi. Diasumsikan bahwa bumi mula-mula merupakan batuan yang sangat panas yang lama-kelamaan mendingin.

        Dengan mengetahui massa dan temperatur bumi yang sekarang, ahli fisika Inggris bernama Elfin memperkirakan bahwa perubahan bumi menjadi batuan yang dingin seperti sekarang ini dari batuan leleh yang sangat panas pada permulaan, membutuhkan waktu 20.000 juta tahun.

 

  1. 4.  Teori Radioaktivitas

        Teori yang dianggap paling benar yang diikuti sekarang ini adalah yang berlandaskan perhitungan waktu peluruhan zat-zat radioaktif.

Prinsip perhitungan berdasarkan :

  1. Pengetahuan tentang waktu paroh dari unsur-unsur radioaktif. Waktu paroh adalah waktu yang dibutuhkan dari zat radioaktif untuk meluruh atau berurai sehingga massanya tinggal separohnya. Contoh : n gram Pb radioaktif à ½ n gram Pb radioaktif + Pb tak radioaktif + zat lain. Reaksi ini membutuhkan waktu a tahun. Maka waktu paroh Pb radioaktif itu = a tahun. Dalam bentuk grafik dapat digambarkan sebagai berikut :

 

(BUATKAN GAMBAR GRAFIKNYA)

 

 

  1. Dengan mengetahui perbandingan kadar zat radioaktif dengan zat hasil peluruhnya dalam suatu batuan dapat dihitung unsur dari batuan tersebut.

        Contoh: 1 gram U238 mempunyai waktu paroh 4,5 x 109 tahun, meluruh menjadi 0,5 gram U235 + 0,0674 gram helium dan 0,4326 gram Pb206.

        Bila dalam suatu batuan terdapat perbandingan berat antara U238 dan Pb206 seperti contoh tersebut di atas, maka ini berarti bahwa batuan itu umurnya sama dengan waktu paroh U238 yaitu 4,5 ribu juta tahun.

        Cara lain juga didapat dari perbandingan antara Pb207 dengan Pb206. Hasil yang didapat kira-kira sama, yaitu antara 4,5 sampai 5 ribu juta tahun. Atas perhitungan seperti tersebut di atas didapatkan kesimpulan bahwa umur bumi berkisar 5 sampai 7 ribu juta tahun. Dari penelitian batuan meteorit yang datang dari angkasa luar ke bumi juga dapat dihitung bahwa umur batuan tersebut adalah antara 9 sampai 10 ribu juta tahun. Angka-angka tersebut di atas sampai sekarang menjadi pegangan menetapkan umur dari tata surya kita.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN

 

A. ilmu pengetahuan dan daya kemampuan masyarakat

 

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, ditempatkan pada posisi tertinggi dan paling mulia dari makhluk lainnya. Ketinggian dan kemuliannya itu adalah bahwa manusia di samping memiliki kesadaran, juga dengan kesadaran yang dimilikinya itu berkemampuan untuk berpikir. Lain halnya dengan makhluk-makhluk lainnya yang juga memiliki kesadaran, tetapi kemampuan untuk berpikir tidak ada. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa manusia adalah makhluk berpikir.

          Dengan pikirannya manusia mendapat ilmu, dengan kehendaknya mampu mengarahkan prilakunya, dan dengan kesadaran yang dimilikinya manusia dapat menikmati kesenangan dan merasa sakit, sedih dan lain sebagainya.

          Adanya kemampuan manusia berpikir, berkehendak, dan merasa, maka dengan sendirinya akan menimbulkan adanya pengetahuan dalam diri manusia itu. Karenanya dapat dikatakan bahwa pengetahuan itu adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya. Kesan-kesan tadi akan melahirkan buah pikiran. Tetapi tidak semua buah pikiran manusia itu dikatakan pengetahuan, kalaupun tadinya disebut bahwa atas dasar kemampuan manusia berpikir, berkehendak dan merasa lalu menimbulkan pengetahuan.

          Di antara sekian banyak buah pikiran manusia, tidak semua memiliki pembuktian yang nyata kebenarannya. Maka buah pikiran yang tidak dapat dibuktikan dengan permbuktian yang nyata atau dengan kebenaran, tidaklah disebut pengetahuan. Sebab ada di antara buah pikiran manusia yang merupakan kelakar dan angan-angan semata-mata. Namun buah pikiran seperti itu dapat juga dianggap sebagai bahan-bahan yang berharga bagi seseorang ilmuan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Jelasnya pengetahuan yang diperoleh dengan jalan keterangan atau pembuktian nyata disebut ilmu pengetahuan.

          Salah satu corak ilmu pengetahuan ialah pengetahuan ilmiah, yang biasanya disebut dengan ilmu pengetahuan, singkatnya ilmu, yang dalam bahasa Inggeris disebut dengan “Science” , dalam bahasa Jerman disebut “Wissen Chaft”, dan dalam bahasa Belanda disebut “Wet wns chaft”.

          Sebenarnya perkataan Science berasal dari kata scio, scire (bahasa Latin) yang berarti tahu, demikian juga perkataan ilmu berasal dari kata ‘alima (bahasa Arab) yang berarti tahu. Dengan demikian baik ilmu maupun science secara etimologis berarti pengetahuan. Akan tetapi secara termonologis ilmu dan science itu adalah semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat yang khas.

          Secara singkat dapatlah dikatakan bahwa ilmu pengetahuan itu ialah pengetahuan yang tersusun secara sistimatik, dengan menggunakan kekuatan pikiran, pengetahuan mana selalu dapat diperiksa dan ditelaah dengan kritis oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya.

          Karl Person (1857-1936) seorang pengarang terkenal Grammar of Science mengemukakan rumusan ilmu pengetahuan itu sebagai berikut : “Science in the complate and consistent description of the facts of experience in the simplest possible terms”. (ilmu pengetahuan ialah lukisan atau keterangan yang lengkap dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana/sedikit mungkin).

          Dalam ensiklopedia Indonesia dinyatakan bahwa Ilmu pengetahuan adalah suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai suatu lapangan pengetahuan tertentu, hingga menjadi kesatuan, suatu sistem dari pelbagai pengetahuan yang masing-masing didapatkan sebagai hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan memakai metode-metode tertentu (induksi, deduksi).

          Dalam beberapa rumusan ilmu pengetahuan tersebut di atas, terdapat beberapa unsur pokok yang sekaligus merupakan syarat-syarat dikatakannya sesudah itu sebagai ilmu pengetahuan. Unsur-unsur pokok tersebut ialah :

–    Pengetahuan

–    Tersusun secara sistematis

–    Menggunakan pemikiran

–    Dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain.

          Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Diperkirakan terdapat 650 cabang-cabang ilmu pengetahuan (Jujun S. Suriasumantri; 1985:92). Keseluruhan cabang ilmu pengetahuan tersebut merupakan bagian dari tiga kelompok besar ilmu pengetahuan yang dikemukakan terdahulu.

             Selain pembagian di atas, masih dijumpai pengelompokkan ilmu kepada : ilmu-ilmu murni (pure sciences), dan ilmu terapan (applied sciences). Pembagian ini dilihat terutama adanya atau tidak unsur praktis yang hendak dikembangkan dalam ilmu tersebut. Ilmu murni memfokuskan perhatiannya kepada pencarian pengetahuan, sedangkan penggunaan praktisnya tidak menjadi tujuannya. Sedangkan ilmu terapan lebih menekankan pada pencarian cara-cara untuk mem-pergunakan pengetahuan tersebut, guna memecahkan masalah-masalah praktis kehidupan manusia. Dalam hal ini lahirlah teknologi.

          Ilmu pengetahuan hendaknya dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya, yaitu dengan lahir teknologi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam hal ini teknologi lahir dari perkembangan ilmu dan dari akal manusia untuk menguasai dan memanfaatkan lingkungan, sehingga kebutuhannya dapat terpenuhi. Ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan dan teknologi semakin tinggi pula tingkat kemampuan manusia menguasai dan memanfaatkan lingkungan.

          Hasil analisis Alvin Tofler menunjukkan bahwa gejala-gejala perubahan dan pembaharuan di dunia ini ada tiga gelombang perkembangan teknologi, yaitu : gelombang pertama (8.000-1.700), gelombang kedua (1700-1970), dan gelombang ketiga (1970 – 2.000).

1.  Gelombang Pertama

     –    Gelombang pembaharuan, manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian.

     –    Manusia memakai energi yang disimpan oleh alam untuknya.

     –    Cenderung untuk tinggal di suatu tempat yang disebut desa.

2.  Gelombang Kedua

     –    Masa revolusi industri.

     –    Mengembangkan teknologi pada tingkat yang baru seli (lahirnya mesin elektro).

     –    Macam-macam industri berkembang dengan pesat.

     –    Adanya garis pemisah yang jelas antara produsen dengan konsumen.

3.  Gelombang Ketiga

     –    Kemajuan teknologi dalam bidang :

          a.  Komunikasi dan data prosesing.

          b.  Penerbangan dan angkasa luar.

          c.  Energi alternatif.

          d.  Terjadinya de-urbanisasi.

          Persentuhan masyarakat Indonesia dengan kemajuan teknologi menimbulkan dampak positif dan negatif. Di satu pihak pembawa gaya hidup yang menyenangkan dan di pihak lain membawa problem sosial yang sangat memperhatikan seperti : mempertajam jurang antara lapisan kaya dan miskin, mempermudah terjadinya bencana-bencana bagi kehidupan manusia itu sendiri.

          Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penerapannya, keduanya menghasilkan suatu kehidupan di dunia, di antaranya adalah membawa malapetaka yang belum pernah dibayangkan. Di sinilah perlunya seorang ilmuan atau seorang ahli teknologi harus mempunyai tanggung jawab sosial.

 

B.  KEMAKMURAN DAN KEMISKINAN

          Strata sosial atau kedudukan yang berbeda dalam masyarakat mengakibatkan ukuran kemakmuran bagi tiap-tiap golongan dalam masyarakat berbeda-beda. Salah satu strata itu adalah adanya golongan yang punya (pemilik) dan adanya golongan yang tidak punya, sehingga muncullah golongan kaya dan golongan miskin. Golongan kaya berada pada kondisi kemakmuran, sementara golongan miskin berada pada kondisi kemiskinannya.

          Kemakmuran ialah suatu suasana umum dimana setiap orang dapat memenuhi kebutuhan primer dan hidupnya secara layak. Mereka adalah orang-orang yang bekerja secara bersungguh-sungguh dengan menggunakan kemampuan yang ada padanya, sehingga ada padanya sandang, pangan dan papan yang layak buat diri dan keluarganya. Dalam hal ini tanpa persaingan, bekerja keras dengan sungguh-sungguh, maka kemakmuran tidak akan bisa dicapai.

          Sedangkan kemiskinan adalah suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan (Suparlan, 1981).

          Kemiskinan ini merupakan masalah manusia yang secara langsung nampak pengaruhnya terhadap tingkat kesehatan, kehidupan moral dan rasa harga diri. Masalah kemiskinan terwujud sebagai hasil interaksi antara berbagai aspek yang ada dalam kehidupan manusia, utamanya aspek sosial dan ekonomi.

          Aspek sosial adalah ketidaksamaan sosial di antara sesama warga masyarakat. Sedangkan aspek ekonomi adalah adanya ketidaksamaan di antara masyarakat dalam hak dan kewajiban yang berkenaan dengan pengalokasian sumber-sumber daya ekonomi. Oleh sebab itu para ahli ilmu sosial berpendapat bahwa sebab utama yang melahirkan kemiskinan itu ialah sistem ekonomi yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.

Tugas Anda :

1.  Memperhatikan sistem ekonomi di negara kita dan kaitannya dengan kemiskinan.

2.  Mengkaji masalah-masalah sosial yang ditimbulkan oleh kemiskinan.

3.  Bagaimanakah pengaruh sistem sosial terhadap kehidupan ekonomi masyarakat (di Indonesia).

 

C.  TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN

          Salah satu penyebab kesengsaraan manusia adalah kemiskinan. Kemiskinan itu bisa berpangkal dan lahir dari ketidakmampuan manusia menggunakan teknologi. Sebab salah satu unsur terpenting dalam pertumbuhan ekonomi adalah kemajuan teknologi. Maka ini berarti manusia yang mempunyai keterampilan teknis untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dan manusia/tenaga kerja seperti ini akan terhindar dari bahaya kemiskinan.

          Kemajuan teknologi akan mengakibatkan perubahan dalam struktur produksi maupun dalam komposisi tenaga kerja yang digunakan. Jadi bagi yang memiliki keterampilan yang tinggi dengan majunya teknologi akan selalu terbuka kesempatan kerja. Tetapi bagi yang tidak memilikinya dapat tergeser atau kehilangan pekerjaan. Maka timbullah pengangguran, dan pengangguran merupakan salah satu gejala sosial bahkan problema sosial yang dapat menyuburkan kemiskinan.

          Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan rezeki memang disediakan buat seluruh umat manusia, tetapi untuk merealisir kemungkinan-kemungkinan itu orang harus berusaha. Dan untuk dapat berusaha ini masing-masing orang dibekali dengan kemampuan, walaupun manusia dilahirkan sama. Di dalam perkembangannya manusia dapat memiliki kemampuan yang berbeda, baik secara vertikal maupun secara horizontal, secara vertikal orang dapat berbeda dalam tingkat kemampuan baik kemampuan teknis maupun kemampuan managerial. Sedangkan secara horizontal yaitu seseorang hanya memiliki kemampuan pada suatu bidang atau beberapa bidang keahlian, sehingga dalam masyarakat tumbuh berbagai spesialisasi dalam lapangan kerja.

          Adapun perbedaan tingkat kemampuan serta spesialisasi sebenarnya menunjukkan keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing orang dalam kehidupan umumnya dan proses produksi khususnya. Di samping itu setiap orang menghadapi kenyataan keterbatasan dalam kesempatan, baik karena waktu maupun karena kemampuan serta perbedaan dalam kesempatan. Hal ini berarti bahwa orang yang akan mendapat imbalan sesuai dengan pekerjaan yang dikerjakannya, yakni jenis dan tingkat pekerjaan tertentu memberikan imbalan serta keuntungan yang lebih besar dari pada jenis dan tingkatan pekerjaan yang lain.

          Sebagai akibat lebih lanjut adalah lahirnya golongan kaya dan miskin dalam masyarakat. Walaupun perbedaan kadar kaya dan miskin tersebut dapat berubah-ubah menurut waktu, dan berbeda dari satu masyarakat kepada masyarakat yang lain, namun hal ini tetap merupakan salah satu masalah sosial besar dalam masyarakat.

 

D.  MENGATASI KEMISKINAN

          Dalam memberikan pertolongan kepada anggota masyarakat yang miskin dan golongan masyarakat lemah lainnya dapat digunakan cara pendekatan sebagai berikut :

1.       Pendekatan parsial.

2.       Pendekatan struktural.

          Yang pertama adalah pertolongan kepada yang tergolong miskin dilakukkan secara langsung, dan bersifat insindentil tergantung tersedianya dana dalam masyarakat. Dengan cara ini masalah kemiskinan dapat diatasi untuk sementara waktu.

          Sedangkan pendekatan kedua mengutamakan pemberian pertolongan secara kontinu. Tujuan akhir justru mengangkat golongan miskin dan lemah agar mereka dapat mengatasi kemiskinannya. Bahkan dari golongan yang dibantu diharapkan nantinya mereka menjadi golongan yang turut membantu di dalam masyarakat. Dengan pendekatan ini akan dicari sebab-sebab kemiskinan atau kelemahan itu dan berusaha mengatasi sebab-sebab yang menjadikan mereka itu miskin atau lemah. Cara ini diharapkan tidak memecahan masalah secara insidentil, tetapi justru mengubah dasar yang menjadi sebab kemiskinan atau kelemahan itu. Adakah pendekatan atau alternatif lain menurut Anda untuk mengatasi kemiskinan? Silahkan kemukakan dan kembangkan!

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

MANUSIA DAN CINTA KASIH

 

A. CINTA KASIH

        Cinta amat penting dalam kehidupan manusia. Belumlah sempurna hidup seseorang jika dalam hidupnya tidak pernah dihampiri perasaan cinta. Bahkan ada pujangga yang sampai kepada kesimpulan bahwa “mati tan cinta sama halnya dengan mati penuh dosa”.

        Manusia adalah makhluk sosial dan tidak dapat hidup di dunia ini tanpa tergantung kepada pihak lain. Karenanya dalam hidupnya manusia akan terlibat atau melibatkan diri dengan makhluk lainnya, dalam hal ini bukan hanya manusia tapi juga benda-benda di sekitarnya, maka dalam kaitannya dengan istilah cinta, kata tersebut harus diartikan sebagai mencintai ataupun dicintai.

        Cinta menjadi sangat menentukan bagi kehidupan kemanusiaan disebabkan antara lain karena : cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, landasan pembentukan keluarga, pemeliharaan keturunan, dasar pembentukan ikatan yang erat di masyarakat serta hubungan manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhannya sehingga manusia menyembah dan menyerahkan diri dengan ikhlas, mengikuti perintahNya dan berpegang teguh pada syariatNya.

        Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk, mulai dari seseorang yang mencintai dirinya, istrinya, anaknya, hartanya dan Tuhannya. Bentuk cinta ini melekat pada diri manusia, potensi dan frekuensinya berubah menurut situasi dan kondisi yang mempengaruhinya. Pada saat baru berkeluarga, seseorang akan lebih kuat cintanya kepada istrinya, tapi setelah punya anak, cintanya akan nampak sangat besar kepada anaknya.

        Cinta orangtua terhadap anaknya sangat kuat, meskipun perilaku atau perangai anak itu tidak menyenangkan bagi orangtuanya. Tetapi cinta akan terwujud dengan akhlak dan budi pekerti yang luhur. Cinta seseorang kepada orang banyak memerlukan didikan dan perjuangan, yang memandang sesama manusia sebagai kecintaan yang perlu dibela. Cinta dalam rangka perangai utama, akhlak dan budi pekerti luhur, mengandung keikhlasan, kejujuran, amanat, dan keadilan. Apabila cinta seseorang telah tumbuh, berarti orang tua mengandung hikmat yang menuntun dirinya kepada kebenaran, kebajikan, dan pengorbanan.

        Sebagai manifestasi perasaan cinta, manusia mempunyai banyak lambang tentang cinta. Lambangnya dapat dengan bau bunga, warna, bunga, cium tangan, cium kening dan sebagainya. Seperti dikatakan oleh Filsuf Islam al-Kindi: “Jika bau bunga sedap malam dicampur dengan bau mawar, akan lahir bau baru yang bisa membangkitkan perasaan cinta dan bangga”. Cinta memiliki daya luar biasa pada diri manusia serta melekat dengan kuatnya. Cinta dapat sekonyong-konyong muncul dan hilang sama sekali, atau terus tumbuh seperti tumbuhnya cinta orang terhadap anak-anaknya sejak dilahirkan. Cinta dapat dilukiskan dengan memberi, bukan meminta, sebagai dorongan mulia untuk memintakan eksistensi dirinya atau aktualisasi dirinya kepada orang lain.

        Dunia kita sekarang terbelenggu dengan belenggu materialisme dan tergoncang oleh hawa nafsu, vested interes, dan nafsu ananiyah (individualisme). Hati manusianya penuh dengan dendam, dengki, dan berbagai macam kebencian. Ia membutuhkan siraman cinta dan air kasih sayang untuk mengkompres luka, mencuci dengki, mendinginkan dendam, meredakan fitnah, menekan kesewenang-wenangan, menghi-langkan kebencian dan nafsu ananiyah.

        Kiranya kemanusiaan hari ini, yang terus menghadap pertarungan dan ditindih beban kehidupan materialistis dan penuh luka, sangat membutuhkan cinta Islami (mahabbah Islamiyah) yang dapat mengantarkan kepada kedamaian, keamanan, dan keimanan serta persaudaraan yang suci.

        Dengan demikian, kehidupan atau roh kemanusiaan yang telah hilang sekian lamanya akan kembali lagi. Dan peradaban modern dengan segala ulah dan gejolaknya yang menimbulkan berbagai macam penyakit psikis dan fisik yang sulit diobati dan memang jarang ada obatnya, diharapkan akan dapat terobati dengan cinta dengan segala maknanya, dengan ketenangan, kerilaan, kasih sayang dan kedamaian.

        Pemahaman orang modern bahwa cinta adalah kebebasan tanpa batas dan ikatan serta pelepasan nafsu hewaniyah menjerumuskan mereka ke dalam kehidupan yang penuh kegoncangan, individualistik, ketidaktenagan dan beban yang semakin berat dan membelenggu.

        Mereka perlu dilepaskan…. dan tiada yang dapat melepaskan serta membebaskan mereka dari semua itu kecuali dengan cinta, yaitu dengan kebenaran…. Cinta cahaya dan penerangan. Cinta keselamatan dan kedamaian. Allah-lah Zat Yang Maha Besar, Dialah pemberi cahaya, dan Dia pula pemberi keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian. Sesungguhnya dalam kitab Allah banyak membicarakan masalah cinta, menunjukkan dan membimbing ke arahnya.

 

B.  CINTA KASIH DALAM BERBAGAI DIMENSI

        Persoalan cinta pada dasarnya bukan hanya terbatas pada persoalan mencintai atau dicintai, persoalan apa yang menjadi obyek dan subyek cinta. Tapi juga mempunyai hubungan yang luas dengan berbagai konstruk lain, seperti misalnya kasih sayang, kemesraan, belas kasihan ataupun dengan aktivitas pemujaan (Djoko Widagdho, 1991 : 42).

 

  1. 1.  Kasih Sayang

        Secara longgar, kasih sayang bisa diartikan sebagai perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Dari pengertian yang sangat sederhana tersebut, tampak bahwa kasih sayang paling tidak menuntut adanya dua pihak yang terlibat di dalamnya, yaitu seseorang yang mencurahkan perasaan sayang, cinta atau suka, dan seseorang yang memperoleh curahan kasih sayang, cinta dan suka itu sendiri.

        Pengalaman hidup sehari-hari memaksa kita untuk mengakui, bahwa bagaimanapun hidup kita akan memperoleh arti apabila telah bisa kita peroleh perhatian dari orang lain. Sementara ini kita sudah mengetahui pula bahwa yang namanya perhatian itu pada dasarnya merupakan salah satu unsur dasar dari cinta kasih. Perhatian tersebut bisa saja datang dari orantua, saudara, suami dan isteri, kawan atau kelompok orang yang lebih luas lagi. Pendek kata, sebagai manusia normal kita sangat membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidup kita. Hidup kita akan lebih terasa indah, bahagia dan mengesankan apabila kita telah mampu memahami berbagai perhatian orang lain.

        Kasih sayang, adalah sesuatu yang indah, suci dan didambakan oleh setiap orang. Sebagaimana cinta, kasih sayang tidak akan lahir tanpa orang yang melahirkannya. Dengan kata lain, seorang tidak akan memperoleh kasih sayang apabila tidak ada orang lain yang memberi. Secara demikian wajar kalau kita mengenal berbagai macam bentuk kasih sayang, yang ini semua sangat tergantung kepada kondisi penyayang dan yang disayangi, misalnya kasih sayang orangtua kepada anaknya.

        Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasihs ayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan, maka di dalam berumah tangga keluarga muda itu bulan lagi bercinta-cinta, tetapi bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.

        Dalam kasih sayang ini sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling bercaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.

       

  1. 2.  Kemesraan

        Kemesraan berasal dari kata dasar “mesra”, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan ialah hubungan akrab baik antara pria-wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga.

        Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih yang telah mendalam.

        Yose Ortega Y. Gasset dalam novelnya “On Love” mengatakan “di kedalaman sanubarinya seorang pecinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan obyek cintanya. Persatuan sifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya”.

        Di bawah sorotan pandangan evolusi, cinta menjadi lebih agung lagi, karena ia merupakan daya pemersatu dalam alam semesta, dan kondisi utama yang memungkinkan hidup. Kemampuan mencintai ini merupakan nilai pada hidup kita, dan menjadi ukuran terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam evolusi kita.    

        Dari uraian di atas terlihat betapa agung dan sucinya cinta itu. Bila seseorang mengobral cinta, maka orang itu merusak nilai cinta yang berarti menurunkan martabat dirinya.

        Cinta yang berlanjut menimbulkan perasaan mesra atau kemesraan. Kemesraan adalah perwujudan dari cinta.

 

  1. 3.  Pemujaan

        Pemujaan adalah perwujudan cinta manusia kepada Tuhan. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini, karena pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenarnya. Dalam Surah Adz Dzariat ayat 56 Allah SWT menyatakan “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembahku”.

        Tuhan adalah pencipta, tetapi Tuhan juga penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintah-Nya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi dalam hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memuja-Nya. Dalam surat Al-Mu’minun ayat 98 dinyatakan, “Dan aku berlindung kepada-Muhammad. Ya, Tuhanku dari kehadiran-Nya di dekatku”. Dan dalam Injil surat Rum ayat 1-2 berbunyi, “Memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucapkan syukur kepada-Nya”.

        Jelaslah bagi kita, bahwa pemujaan kepada Tuhan adalah bagian hidup manusia, karena Tuhan pencipta semesta termasuk manusia itu sendiri, karena Tuhan pencipta semesta termasuk manusia itu sendiri. Dan penciptaan semesta untuk manusia.

        Manusia cinta kepada Tuhan, karena Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kecintaan manusia itu dimanifestasikan dalam bentuk pemujaan atau sembahyang. Dalam surat An-Nur ayat 41 antara lain dinyatakan, “apakah engkau tidak tahu bahwasanya Allah itu dipuja olehs egala yang ada di langit dan di bumi………”.

 

  1. 4.  Belas Kasihan

        Cinta sesama adalah istilah lain dari belas kasihan, karena cinta di sini bukan karena cakapnya, kayanya, cantiknya, pandainya, melainkan karena penderitaan. Penderitaan ini mengandung arti yang luas. Mungkin tua, dan sakit-sakitan, yatim piatu, penyakit yang dideritanya, dan sebagainya.

        Perbuatan dan sifat yang menaruh belas kasihan adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelaskasihan. Misalnya sanggupkah ia menggunggah potensi belas kasihan itu. Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang itu berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.

        Dalam essay “On Love” ada pengertian bahwa cinta adalah rasa persatuan tanpa syarat. Itu berarti dalam rasa belas kasihan tidak mengandung unsur “pamrih”. Belas kasihan yang kita tumpahkan benar-benar keluar dari lubuk hati yang ikhlas. Kalau kita memberikan uang kepada pengemis agar mendapat pujian, itu berarti tidak ikhlas, berarti ada tujuan tertentu. Hal seperti itu banyak terjadi dalam masyarakat.

        Dalam essay itu pula dijelaskan bahwa orang yang menaruh belas kasihan dan yang ditumpahi belas kasihan ada kebersamaan yang mendasar, maksudnya yang berbelas kasihan dapat merasakan penderitaan orang yang dibelaskasihi.

 

C. BERBAGAI BENTUK CINTA

        Ada yang berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan agama. Tetapi dalam kenyataan hidup, manusia masih mendambakan tegaknya cinta dalam kehidupan ini. Di satu pihak, cinta didegung-degungkan lewat lagu dan organisasi perdamaian dunia, tetapi di lain pihak, dalam praktek kehidupan, cinta sebagai dasar hidup jauh dari kenyataan. Atas dasar ini, agama memberikan ajaran cinta kepada manusia. Tidak kurang seorang nabi yang bernama Ibrahim mendapat kritik tentang cinta. Suatu saat Ibrahim mendambakan seorang anak. Setelah lahir anak yang dicintainya (Ismail), ternyata cinta Ibrahim kepada anaknya dapat menggeser cintanya kepada penciptanya sendiri sehingga Tuhan mencobanya dengan menyuruh Ibrahim menyembelih anaknya. Perintah ini menumbuhkan konflik dalam diri Ibrahim, siapa yang harus dicintai, Tuhan atau anaknya.

        Cuplikan peristiwa memberikan indikasi kepada kita bahwa cinta itu harus proporsional dan adil, dan jarang lupa diri karena cinta. Untuk itu agama memebrikan tuntutan tentang cinta. Berbagai bentuk cinta ini terdapat di dalam Al-Qur’an.

 

Cinta diri

        Al-Qur’an telah mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri, kecenderungan untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindari dari segala sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya, melalui ucapan Nabi saw, bahwa seandainya dia mengetahui hal-hal yang gaib, tentu dia akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala keburukan : “………Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku akan memperbanyak kebaikan bagi diriku sendiri dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan……..” (Q : 7 : 188). Demikian pula : “Manusia tidak jemu-jemu memohon kebaikan, tetapi jika mereka ditimpa malapetaka, dia menjadi putus asa lagi putus harapan” (Q : 41 : 49). Manusia cinta pada dirinya agar terus menerus dikaruniai kebaikan, tetapi apabila ditimpa bencana, ia menjadi putus harapan.

 

Cinta kepada sesama manusia

        Allah memerintahkan kepada manusia untuk saling mencintai di antara sesamanya. “Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Q : 49 : 10). Dalam Al-Qur’an terdapat pujian bagi kaum Anshar karena rasa cintanya kepada kaum Muhajirin. Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencitai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terahdap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka sendiri dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (Q : 59 : 9). Ciri cinta di antara sesama manusia menurut ajaran Islam ditandai dengan sikap yang lebih mengutamakan (mencintai) orang lain daripada dirinya sendiri.

 

Cinta seksual

        Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Hal ini dilukiskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut : “Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berpikir” (Q : 30 : 21). Dalam ayat lain : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita” (Q : 3 : 14). Cinta seksual merupakan bagian dari kebutuhan manusia yang dapat melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerjasama suami dan istri. Seks merupakan faktor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga.

 

Cinta kebapakan

        Cinta ibu kepada anaknya, atau dorongan keibuan, merupakan dorongan fisiologis. Artinya, terjadi perubahan-perubahan bahan fisiologis dan fisis yang terjadi pada diri si ibu sewaktu mengandung, melahirkan dan menyusui. Dorongan kebapakan tidak seperti dorongan keibuan, tetapi dorongan psikis. Hal ini tampak dalam cinta bapak kepada anaknya karena ia merupakan sumber kesenangan dalam kegembiraan baginya, sumber kekuatan dan kebanggaan, dan merupakan faktor penting bagi kelangsungan peran bapak dalamkehidupan, dan tetap terkenangnya dia setelah meninggal dunia. Hal ini nampak jelas pada cinta Nabi Yaqub a.s. kepada putranya, Yusuf a.s., yang membangkitkan cemburu adiknya dan dengki saudara-saudaranya yang lain. “ … Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat) … “ (Q : 12 : 8 J. Demikian pula nampak cintanya Nabi Nuh a.s. kepada putranya : “Ya, Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adlnya”. (Q : 11 : 45).

 

Cinta Kepada Allah

        Puncak cinta manusia, yang paling bening, jernih, dan spritual adalah cintanya kepada Allah dan kerinduan kepada-Nya. Tidak hanya salat, pujian dan doanya, tetapi semua tindakan dan tingkah lakunya ditujukan kepada Allah, mengharapkan penerimaan dan ridla-Nya. Dalam firman Tuhan : “Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (Q : 3 : 31).

        Cinta seorang mukmin kepada Allah melebihi cintanya kepada segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan ini, melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, anak-anaknya, istrinya, kedua orang tuanya, keluarganya dan hartanya. “Katakanlah : Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dasik”. (Q : 9 : 24).

        Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan merupakan pendorong dan mengarahkannya kepada penundukan semua bentuk kecintaan lainnya. Cinta kepada Allah akan membiat seseorang menjadi mencintai sesama manusia, hewan, semua makhluk Allah, dan seluruh alam semesta. Hal ini terjadi karena semua yang wujud dipandang sebagai manifestasi Tuhannya, sebagai sumber kerinduan spritualnya dan harapan kabulnya.

 

Cinta Kepada Rasul (Muhammad)

        Cinta kepada Rasul Muhammad merupakan peringkat kedua setelah kepada Allah. Hal ini disebabkan karena Rasul Muhammad bagi kaum muslimin merupakan contoh ideal yang sempurna bagi manusia, baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat leluhur lainnya. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q : 64 : 4). Cinta kepada Rasul Muhammad ialah karena beliau merupakan suri teladan, mengajarkan Al-Quran dan kebijaksanaan. Muhammad telah menanggung derita dan berjuang dengan penuh tantangan sampai tegaknya agama Islam.

 

Cinta Kepada Orangtua

        Cinta kepada ibu-bapak dalam ajaran agama Islam sangat mendasar, menentukan ridha-tidaknya Tuhan kepada manusia. Sabda Nabi Muhammad saw. “Keridhaan Allah bergantung pada kemurkaan kedua orang tua pula” (Hadits Riwayat At-Turmidzy). Khusus mengenai cinta kepada kedua orang tua ini, Tuhan memperingatkan keras melalui ajaran akhlak mulia dan langsung dengan tata kramanya. “Dan Tuhan telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, danhendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-sebaiknya. Jika salah seorang dari keduanya samapi berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Q : 17 : 23 : 24).

        Seluruh uraian tentang konsep cinta menurut ajaran Islam memberikan kejelasan bahwa makna cinta menirit ajaran agama berbeda dengan makna cinta menurut kajian filsafat. Konsep cinta menurut ajaran agama sifatnya lebih realis dan operatif, sedangkan dalam konsep filsafat gambarannya bersifat abstrak. Dalam agama, cinta adalah suatu dinamisme aktif yang berakar dalam kesanggupan kita untuk memberi cinta, dan menghendaki perkembangan dan kebahagiaan orang yang dicintai. Apabila ada orang yang egois tak dapat mencintai orang lain, sesungguhnya ia sendiri tidak dapat mencintai dirinya sendiri. Karenanya, konsep cinta dalam ajaran agama Islam dirinci sehingga cinta bersifat menyeluruh dan eksistensial. Oleh karena itu, akan lebih baik apabila wawasan pemahaman ini dipadukan dalam pola pikir dan pola tindak seseorang guna mencapai segi kemanusiaan dan aspek teologisnya cinta.

 

D. CINTA KASIH EROTIS

Cinta kasih kesaudaraan merupakan cinta kasih antar orang yang sama dan sebanding, sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang lemah yang tanpa daya. Walaupun terdapat perbedaan besar antara kedua jenis tersebut, kedua-duanya mempunyai kesamaan bahwa pada hakikatnya cinta kasih tidak terbatas kepada seorang saja. Bila saya kasihi saudara saya, semua anak saya, di samping itu bahwa saya kasihi semua anak-anak yang membutuhkan saya. Berlawanan dengan kedua jenis cinta kasih tersebut ialah cinta kasih erotis, yaitu kehausan akan penyatuan yang sempurna, akan penyatuan dengan seseorang yang lainnya. Pada hakikatnya cinta kasih tersebut bersifat ekslusif, bukan universal, dan juga barangkali merupakan bentuk cinta kasih yang paling tidak dapat dipercaya.

Pertama-tama cinta kasih erotis kerap kali dicampur baurkan dengan pengalaman yang eksplosif berupa jatuh cinta, yaitu keruntuhan tiba-tiba tembok yang sampai waktu itu terdapat diantara dua orang asing satu sama lain. Tetapi, seperti yang dikatakan terlebih dahulu, pengalaman intimitas, kemesraan yang tiba-tiba ini pada hakikatnya hanyalah sementara saja. Bilamana orang asing tadi telah menjadi seseorang yang diketahui secara intim, tak ada lagi rintangan harus diatasi, tidak ada lagi kemesraan tiba-tiba yang harus diperjuangkan. Pribadi yang dicintai telah dipahami orang seperti dirinya sendiri. Atau barangkali harus dikatakan “kurang” dipahami seperti dirinya sendiri. Apabila terdapat perasaan yang lebih mendalam terhadap pribadi yang lain apabila orang dapat mengali ketakterhitungan pribadi nya sendiri, maka pribadi orang lain tidak pernah akan begitu biasa baginya, dan keajaiban mengatasi rintangan-rintangan dapat terjadi lagi berulang-ulang tiap hari. Tetapi, untuk kebanyakan orang pribadinya, seperti juga pribadi orang lain, mudah dipahami cukup lengkap. Untuk mereka intimitas atau kemesraan itu terutama diperoleh dengan cara hubungan seksuil. Karena mereka mengalami keterpisahan orang lain terutama sebagai keterpisahan fisik, maka dengan mengadakan penyatuan fisik, orang telah mengatasi keterpisahan tersebut, demikian anggapannya.

Di samping itu terdapat pula faktor-faktor lain yang untuk banyak orang mempunyai arti sebagai cara-cara mengatasi keterpisahan, seperti bercakap-cakap tentang kehidupan pribadi, tentang pengharapan-pengharapan dan kecemasannya, menampakkan diri dengan segi-segi keanehannya, mengadakan hubungan dan minat yang sama terhadap dunia sekitar, semuanya itu dilaksanakan untuk mengatasi keterpisahan. Bahkan dengan memperlihatkan kemarahannya, kebenciannya, dan memperlihatkan kekurangannya menahan diri, semuanay dianggap bahwa telah dicapai intimitas. Hal ini dapat menerangkan adanya daya tarik pervesi (busuk). Yang kerap kali terdapat diantara sepasang pengantin yang rupa-rupanya hanya dapat berdekatan (intim) yang satu terhadap yang lain bila mereka berada di tempat tidur atau bila mereka saling melepaskan amarahnya terhadap satu sama lain. Tetapi semua jenis intimitas semacam ini kian lama kian cenderung untuk berkurang. Akibatnya ialah bahwa orang mencari hubungan cinta kasih dengan orang lain, dengan seorang asing baru yang kemudian pada gilirannya diubah lagi menjadi dangkal sehingga berakhir dengan keinginan untuk menaklukkan sekali lagi, untuk memperoleh cinta baru lagi, senantiasa dengan berilusi bahwa cinta yang baru itu akan berbeda pula dengan yang sudah-sudah. Ilusi-ilusi ini sangat mudah diperoleh karena sifat keinginan seksual yang sangat mudah menipu diri orang.

Keinginan seksual menuju kepada penyatuan diri, tetapi sekali-kali bukan merupakan nafsu fisis belaka, untuk meredakan ketegangan yang menyakitkan. Keinginan seksual dapat distimulasi, dirangsang oleh ketakutan karena rasa sepi, oleh keinginan untuk menaklukkan atau untuk ditaklukkan, oleh keangkuhan, oleh keinginan untuk menyakiti, bahkan oleh keinginan untuk memusnahkan. Semua ini dapat memberikan stimulasi yang sama beratnya dengan cinta kasih. Rupa-rupanya keinginan seksual dengan mudah dapat dicampuri atau distimulasi oleh tiap-tiap perasaan yang mendalam, sedangkan cinta kasih merupakan salah satu diantaranya. Oleh karena bagi kebanyakan orang keinginan seksual senantiasa disamakan dengan gagasan cinta kasih, mereka mudah terbawa oleh kesimpulan yang salah bahwa mereka sedang mencintai dan mengasihi yang lain., sedangkan yang sebenarnya terjadi ialah bahwa mereka menginginkan secara fisis.

Cinta kasih dapat merangsang keinginan untuk bersatu secara seksual. Dalah hal ini hubungan fisis tadi tidak memperlihatkan sifat-sifat yang rakus dan serakah dalam keinginannya untuk menaklukkan atau untuk ditaklukkan, tetapi akan tercampur dengan kehalusan bertindak serta kemesraan. Apabila keinginan untuk penyatuan fisis tidak dirangsang oleh cinta kasih, apabila cinta kasih erotis tidak juga merupakan cinta kasih kesaudaraan, ia hanya akan membawa kita kepada penyatuan yang bersifat orgiastis (pesta pora) dan sementara saja. Daya tarik seksual untuk sementara waktu menimbulkan khayalan penyatuan. Namun, tanpa cinta kasih, sebenarnya cinta kasih ini membiarkan dua orang asing tetap berjauhan yang satu dengan yang lain seperti sebelumnya. Kadang-kadang hal itu menimbulkan rasa malu diantara mereka, bahkan menimbulkan rasa benci yang satu terhadap yang lain karena, apabila khayalan telah hilang, merasa lebih-lebih merasakan keasingan mereka yang satu terhadap yang lain. Kemesraan bukan sama sekali merupakan sublimasi naluri-naluri seksual seperti yang diyakini oleh Freud, melainkan merupakan hasil langsung dari cinta kasih kesaudaraan, dan terdapat baik dalam bentuk-bentuk cinta kasih fisis maupun psikis.

Dalam cinta kasih erotis terdapat eksklusivitas yang tidak terdapat dalam cinta kasih kesaudaraan dan cinta kasih keibuan. Ciri-ciri eksklusif dalam cinta kasih erotis disalahtafsirkan dan diartikan sebagai ikatan hak milik. Sering kita jumpai sepasang orang yang sedang saling mencintai tanpa merasakan cinta kasih terhadap setiap orang lainnya. Cinta kasih mereka sebenarnya merupakan semacam egoisme dua orang – mereka merupakan dua orang yang saling menemukan kesamaan dan yang telah mengatasi keterpisahannya dengan cara “satu individu mewakili dua individu”. Mereka mempunyai pengalaman mengatasi keterpisahan. Namun, karena mereka sendiri terpisah dari sisa kemanusiaan itu, mereka tetap terpisah yang satu dari yang lain, dan tetap asing terhadap diri sendiri. Pengalaman mereka tentang penyatuan merupakan suatu ilusi. Cinta kasih erotis itu eksklusif, tetapi di dalam cinta kasih kepada seseorang dapat menyatukan dirinya secara lengkap dan intensif dengan satu orang lain saja. Cinta kasih erotis mengeksklusifkan cinta kasih terhadap orang lain hanyalah dalam segi-segi fusi erotis dan keikutsertaan selengkapnya dengan semua aspek kehidupan orang-orang lain, tetapi bukan dalam arti cinta kasih kesaudaraan yang mendalam terhadap orang lain.

Cinta kasih erotis, apabila ia benar-benar cinta kasih, mempunyai satu pendirian, yaitu bahwa seseorang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya. Pada hakikatnya semua makhluk manusia itu identik. Kita semuanya merupakan bagian dari Satu; kita merupakan Satu. Karena demikian halnya, maka sebenarnya tak usahlah kita ambil pusing siapa yang kita cintai dan kasihi. Cinta kasih pada hakikatnya merupakan suatu perbuatan kemauan, suatu putusan untuk mengikat kehidupan dengan kehdiupan seseorang lain. Hal ini memanglah merupakan dasar gagasan bahwa suatu pernikahan tradisional, yang kedua mempelainya tidak pernah memilih jodohnya sendiri , tetapi telah dipilihkan untuknya oleh orang lain, yang diharapkan ialah bahwa mereka akan saling mencintai dan mengasihi. Dalam kebudayaan Barat zaman sekarang, gagasan ini ternyata tidak dapat diterima sama sekali. Cinta kasih dianggap sebagai hasil suatu reaksi emosional dan spontan, seolah-olah kita dengan tiba-tiba tercekau oleh perasaan yang tidak dapat dielakkan. Menurut pandangan ini, orang hanya memperhatikan dan mengabaikan fakta bahwa semua lelaki merupakan bagian dari Adam, dan bahwa semua wanita merupakan bahagian dari Hawa. Ada pula orang yang memandang bahwa faktor yang penting di dalam cinta kasih erotis itu adalah keinginan.

Mencintai dan mengasihi seseorang bukan hanya merupakan yang kuat, melainkan merupakan suatu putusan, suatu penilaian, suatu perjanjian. Apabila cinta kasih hanya merupakan perasaan saja, tidak ada dasarnya untuk saling berjanji akan mencintai dan mengasihi untuk selama-selamanya. Perasaan itu dapat timbul tenggelan pula. Bagaimanakah saya dapat memastikan bahwa itu akan menetap selama-lamanya bila perbuatan saya tidak mengandung suatu penilaian dan putusan.

Dengan memperhatikan pandangan-pandangan ini , orang dapat sampai kepada pendapat bahwa cinta kasih hanyalah merupakan perbuatan kemauan dan mengikat diri saja sehingga pada dasarnya tidak usah diperdulikan siapa-siapa kedua orang yang terlibat ataukah mereka merupakan hasil pilihan individual, hal itu bukan menjadi soal. Yang terpenting sesudah pernikahan itu dilangsungkan ialah bahwa perbuatan kemauan seharusnya menjamin kelangsungan sinta kasih. Pandangan in rupa-rupanya mengabaikan ciri paradoks hakikat manusiawi dan cinta kasih erotis. Kiata semuanya Satu, namun tiap-tiap diantara kita merupakan mahkluk unik yang khas yang tidak ada “diplikat”-nya. Dalam hubungan kita dengan orang-orang lain, paradoks itu juga berlaku.  Sejauh itu merupakan Satu, kita dapat mencintai dan mengasihi tiap-tiap orang lain secara sama dalam arti cinta kasih kesaudaraan. Tetapi sejauh kita dalam pada itu juga berbeda, cinta kasih erotis menurut adanya unsur-unsur sangat khas dan individual yang terdapat di antara beberapa orang tertentu saja, tetapi tidak pada semua orang.

Dengan demikian maka, baik pandangan bahwa cinta kasih erotis merupakan atraksi individual belaka maupun pandangan bahwa cinta kasih erotis itu tidak lain dari pada perbuatan kemauan, kedua-duanya benar, atau lebih tepat jika dikatakan bahwa kebenaran tidak terdapat pada yang satu, juga tidak pada yang lain. Oleh karena itu, gagasan bahwa hubungan bersukses di dalamnya, merupakan gagasan bahwa hubungan pernikahan musah saja dapat diputuskan apabila orang tidak bersukses di dalamnya, merupakan gagasan yang sama sekali keliru dengan gagasan bahwa hubungan semacam itu, di dalam keadaan bagaimana pun, tidak boleh diputuskan.

 

 

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN

 

A. ilmu pengetahuan dan daya kemampuan masyarakat

 

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, ditempatkan pada posisi tertinggi dan paling mulia dari makhluk lainnya. Ketinggian dan kemuliannya itu adalah bahwa manusia di samping memiliki kesadaran, juga dengan kesadaran yang dimilikinya itu berkemampuan untuk berpikir. Lain halnya dengan makhluk-makhluk lainnya yang juga memiliki kesadaran, tetapi kemampuan untuk berpikir tidak ada. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa manusia adalah makhluk berpikir.

          Dengan pikirannya manusia mendapat ilmu, dengan kehendaknya mampu mengarahkan prilakunya, dan dengan kesadaran yang dimilikinya manusia dapat menikmati kesenangan dan merasa sakit, sedih dan lain sebagainya.

          Adanya kemampuan manusia berpikir, berkehendak, dan merasa, maka dengan sendirinya akan menimbulkan adanya pengetahuan dalam diri manusia itu. Karenanya dapat dikatakan bahwa pengetahuan itu adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya. Kesan-kesan tadi akan melahirkan buah pikiran. Tetapi tidak semua buah pikiran manusia itu dikatakan pengetahuan, kalaupun tadinya disebut bahwa atas dasar kemampuan manusia berpikir, berkehendak dan merasa lalu menimbulkan pengetahuan.

          Di antara sekian banyak buah pikiran manusia, tidak semua memiliki pembuktian yang nyata kebenarannya. Maka buah pikiran yang tidak dapat dibuktikan dengan permbuktian yang nyata atau dengan kebenaran, tidaklah disebut pengetahuan. Sebab ada di antara buah pikiran manusia yang merupakan kelakar dan angan-angan semata-mata. Namun buah pikiran seperti itu dapat juga dianggap sebagai bahan-bahan yang berharga bagi seseorang ilmuan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Jelasnya pengetahuan yang diperoleh dengan jalan keterangan atau pembuktian nyata disebut ilmu pengetahuan.

          Salah satu corak ilmu pengetahuan ialah pengetahuan ilmiah, yang biasanya disebut dengan ilmu pengetahuan, singkatnya ilmu, yang dalam bahasa Inggeris disebut dengan “Science” , dalam bahasa Jerman disebut “Wissen Chaft”, dan dalam bahasa Belanda disebut “Wet wns chaft”.

          Sebenarnya perkataan Science berasal dari kata scio, scire (bahasa Latin) yang berarti tahu, demikian juga perkataan ilmu berasal dari kata ‘alima (bahasa Arab) yang berarti tahu. Dengan demikian baik ilmu maupun science secara etimologis berarti pengetahuan. Akan tetapi secara termonologis ilmu dan science itu adalah semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat yang khas.

          Secara singkat dapatlah dikatakan bahwa ilmu pengetahuan itu ialah pengetahuan yang tersusun secara sistimatik, dengan menggunakan kekuatan pikiran, pengetahuan mana selalu dapat diperiksa dan ditelaah dengan kritis oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya.

          Karl Person (1857-1936) seorang pengarang terkenal Grammar of Science mengemukakan rumusan ilmu pengetahuan itu sebagai berikut : “Science in the complate and consistent description of the facts of experience in the simplest possible terms”. (ilmu pengetahuan ialah lukisan atau keterangan yang lengkap dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana/sedikit mungkin).

          Dalam ensiklopedia Indonesia dinyatakan bahwa Ilmu pengetahuan adalah suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai suatu lapangan pengetahuan tertentu, hingga menjadi kesatuan, suatu sistem dari pelbagai pengetahuan yang masing-masing didapatkan sebagai hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan memakai metode-metode tertentu (induksi, deduksi).

          Dalam beberapa rumusan ilmu pengetahuan tersebut di atas, terdapat beberapa unsur pokok yang sekaligus merupakan syarat-syarat dikatakannya sesudah itu sebagai ilmu pengetahuan. Unsur-unsur pokok tersebut ialah :

–    Pengetahuan

–    Tersusun secara sistematis

–    Menggunakan pemikiran

–    Dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain.

          Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Diperkirakan terdapat 650 cabang-cabang ilmu pengetahuan (Jujun S. Suriasumantri; 1985:92). Keseluruhan cabang ilmu pengetahuan tersebut merupakan bagian dari tiga kelompok besar ilmu pengetahuan yang dikemukakan terdahulu.

             Selain pembagian di atas, masih dijumpai pengelompokkan ilmu kepada : ilmu-ilmu murni (pure sciences), dan ilmu terapan (applied sciences). Pembagian ini dilihat terutama adanya atau tidak unsur praktis yang hendak dikembangkan dalam ilmu tersebut. Ilmu murni memfokuskan perhatiannya kepada pencarian pengetahuan, sedangkan penggunaan praktisnya tidak menjadi tujuannya. Sedangkan ilmu terapan lebih menekankan pada pencarian cara-cara untuk mem-pergunakan pengetahuan tersebut, guna memecahkan masalah-masalah praktis kehidupan manusia. Dalam hal ini lahirlah teknologi.

          Ilmu pengetahuan hendaknya dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya, yaitu dengan lahir teknologi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam hal ini teknologi lahir dari perkembangan ilmu dan dari akal manusia untuk menguasai dan memanfaatkan lingkungan, sehingga kebutuhannya dapat terpenuhi. Ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan dan teknologi semakin tinggi pula tingkat kemampuan manusia menguasai dan memanfaatkan lingkungan.

          Hasil analisis Alvin Tofler menunjukkan bahwa gejala-gejala perubahan dan pembaharuan di dunia ini ada tiga gelombang perkembangan teknologi, yaitu : gelombang pertama (8.000-1.700), gelombang kedua (1700-1970), dan gelombang ketiga (1970 – 2.000).

1.  Gelombang Pertama

     –    Gelombang pembaharuan, manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian.

     –    Manusia memakai energi yang disimpan oleh alam untuknya.

     –    Cenderung untuk tinggal di suatu tempat yang disebut desa.

2.  Gelombang Kedua

     –    Masa revolusi industri.

     –    Mengembangkan teknologi pada tingkat yang baru seli (lahirnya mesin elektro).

     –    Macam-macam industri berkembang dengan pesat.

     –    Adanya garis pemisah yang jelas antara produsen dengan konsumen.

3.  Gelombang Ketiga

     –    Kemajuan teknologi dalam bidang :

          a.  Komunikasi dan data prosesing.

          b.  Penerbangan dan angkasa luar.

          c.  Energi alternatif.

          d.  Terjadinya de-urbanisasi.

          Persentuhan masyarakat Indonesia dengan kemajuan teknologi menimbulkan dampak positif dan negatif. Di satu pihak pembawa gaya hidup yang menyenangkan dan di pihak lain membawa problem sosial yang sangat memperhatikan seperti : mempertajam jurang antara lapisan kaya dan miskin, mempermudah terjadinya bencana-bencana bagi kehidupan manusia itu sendiri.

          Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penerapannya, keduanya menghasilkan suatu kehidupan di dunia, di antaranya adalah membawa malapetaka yang belum pernah dibayangkan. Di sinilah perlunya seorang ilmuan atau seorang ahli teknologi harus mempunyai tanggung jawab sosial.

 

B.  KEMAKMURAN DAN KEMISKINAN

          Strata sosial atau kedudukan yang berbeda dalam masyarakat mengakibatkan ukuran kemakmuran bagi tiap-tiap golongan dalam masyarakat berbeda-beda. Salah satu strata itu adalah adanya golongan yang punya (pemilik) dan adanya golongan yang tidak punya, sehingga muncullah golongan kaya dan golongan miskin. Golongan kaya berada pada kondisi kemakmuran, sementara golongan miskin berada pada kondisi kemiskinannya.

          Kemakmuran ialah suatu suasana umum dimana setiap orang dapat memenuhi kebutuhan primer dan hidupnya secara layak. Mereka adalah orang-orang yang bekerja secara bersungguh-sungguh dengan menggunakan kemampuan yang ada padanya, sehingga ada padanya sandang, pangan dan papan yang layak buat diri dan keluarganya. Dalam hal ini tanpa persaingan, bekerja keras dengan sungguh-sungguh, maka kemakmuran tidak akan bisa dicapai.

          Sedangkan kemiskinan adalah suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan (Suparlan, 1981).

          Kemiskinan ini merupakan masalah manusia yang secara langsung nampak pengaruhnya terhadap tingkat kesehatan, kehidupan moral dan rasa harga diri. Masalah kemiskinan terwujud sebagai hasil interaksi antara berbagai aspek yang ada dalam kehidupan manusia, utamanya aspek sosial dan ekonomi.

          Aspek sosial adalah ketidaksamaan sosial di antara sesama warga masyarakat. Sedangkan aspek ekonomi adalah adanya ketidaksamaan di antara masyarakat dalam hak dan kewajiban yang berkenaan dengan pengalokasian sumber-sumber daya ekonomi. Oleh sebab itu para ahli ilmu sosial berpendapat bahwa sebab utama yang melahirkan kemiskinan itu ialah sistem ekonomi yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.

Tugas Anda :

1.  Memperhatikan sistem ekonomi di negara kita dan kaitannya dengan kemiskinan.

2.  Mengkaji masalah-masalah sosial yang ditimbulkan oleh kemiskinan.

3.  Bagaimanakah pengaruh sistem sosial terhadap kehidupan ekonomi masyarakat (di Indonesia).

 

C.  TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN

          Salah satu penyebab kesengsaraan manusia adalah kemiskinan. Kemiskinan itu bisa berpangkal dan lahir dari ketidakmampuan manusia menggunakan teknologi. Sebab salah satu unsur terpenting dalam pertumbuhan ekonomi adalah kemajuan teknologi. Maka ini berarti manusia yang mempunyai keterampilan teknis untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dan manusia/tenaga kerja seperti ini akan terhindar dari bahaya kemiskinan.

          Kemajuan teknologi akan mengakibatkan perubahan dalam struktur produksi maupun dalam komposisi tenaga kerja yang digunakan. Jadi bagi yang memiliki keterampilan yang tinggi dengan majunya teknologi akan selalu terbuka kesempatan kerja. Tetapi bagi yang tidak memilikinya dapat tergeser atau kehilangan pekerjaan. Maka timbullah pengangguran, dan pengangguran merupakan salah satu gejala sosial bahkan problema sosial yang dapat menyuburkan kemiskinan.

          Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan rezeki memang disediakan buat seluruh umat manusia, tetapi untuk merealisir kemungkinan-kemungkinan itu orang harus berusaha. Dan untuk dapat berusaha ini masing-masing orang dibekali dengan kemampuan, walaupun manusia dilahirkan sama. Di dalam perkembangannya manusia dapat memiliki kemampuan yang berbeda, baik secara vertikal maupun secara horizontal, secara vertikal orang dapat berbeda dalam tingkat kemampuan baik kemampuan teknis maupun kemampuan managerial. Sedangkan secara horizontal yaitu seseorang hanya memiliki kemampuan pada suatu bidang atau beberapa bidang keahlian, sehingga dalam masyarakat tumbuh berbagai spesialisasi dalam lapangan kerja.

          Adapun perbedaan tingkat kemampuan serta spesialisasi sebenarnya menunjukkan keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing orang dalam kehidupan umumnya dan proses produksi khususnya. Di samping itu setiap orang menghadapi kenyataan keterbatasan dalam kesempatan, baik karena waktu maupun karena kemampuan serta perbedaan dalam kesempatan. Hal ini berarti bahwa orang yang akan mendapat imbalan sesuai dengan pekerjaan yang dikerjakannya, yakni jenis dan tingkat pekerjaan tertentu memberikan imbalan serta keuntungan yang lebih besar dari pada jenis dan tingkatan pekerjaan yang lain.

          Sebagai akibat lebih lanjut adalah lahirnya golongan kaya dan miskin dalam masyarakat. Walaupun perbedaan kadar kaya dan miskin tersebut dapat berubah-ubah menurut waktu, dan berbeda dari satu masyarakat kepada masyarakat yang lain, namun hal ini tetap merupakan salah satu masalah sosial besar dalam masyarakat.

 

D.  MENGATASI KEMISKINAN

          Dalam memberikan pertolongan kepada anggota masyarakat yang miskin dan golongan masyarakat lemah lainnya dapat digunakan cara pendekatan sebagai berikut :

1.       Pendekatan parsial.

2.       Pendekatan struktural.

          Yang pertama adalah pertolongan kepada yang tergolong miskin dilakukkan secara langsung, dan bersifat insindentil tergantung tersedianya dana dalam masyarakat. Dengan cara ini masalah kemiskinan dapat diatasi untuk sementara waktu.

          Sedangkan pendekatan kedua mengutamakan pemberian pertolongan secara kontinu. Tujuan akhir justru mengangkat golongan miskin dan lemah agar mereka dapat mengatasi kemiskinannya. Bahkan dari golongan yang dibantu diharapkan nantinya mereka menjadi golongan yang turut membantu di dalam masyarakat. Dengan pendekatan ini akan dicari sebab-sebab kemiskinan atau kelemahan itu dan berusaha mengatasi sebab-sebab yang menjadikan mereka itu miskin atau lemah. Cara ini diharapkan tidak memecahan masalah secara insidentil, tetapi justru mengubah dasar yang menjadi sebab kemiskinan atau kelemahan itu. Adakah pendekatan atau alternatif lain menurut Anda untuk mengatasi kemiskinan? Silahkan kemukakan dan kembangkan!

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

PERTENTANGAN-PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI

A. terjadinya pertentangan sosial

 

Ada dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya pertentangan-pertentangan sosial, yaitu :

 

1.  Perbedaan kepentingan.

2.  Prasangka dan diskriminasi.

          Kepentingan dalam diri manusi ada dua macam, yaitu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan sosial/psikologis. Karena itu tidak ada dua orang manusia yang sama persis di dalam aspek pribadinya, dan karenanya pula tiap-tiap orang memiliki  kepentingan yang berbeda.

          Perbedaan-perbedaan kepentingan itu antara lain :

a.  Kepentingan memperoleh kasih sayang.

b.  Kepentingan memperoleh harga diri.

c.  Kepentingan memperoleh penghargaan yang sama.

d.  Kepentingan memperoleh prestasi dan posisi.

e.  Kepentingan untuk dibutuhkan orang lain.

f.   Kepentingan memperoleh kedudukan dalam kelompok.

g.  Kepentingan memperoleh rasa aman dan perlindungan.

h.  Kepentingan memperoleh kemerdekaan diri/kebebasan.

          Karena tingkah laku individu merupakan cara atau alat untuk memenuhi kepentingannya, maka kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh setiap individu dalam masyarakat merupakan manifestasi pemenuhan dari kepentingannya.

          Oleh sebab itu makin banyak perbedaan kepentingan dalam masyarakat maka wujud dari sikap individualitas seseorang akan semakin besar.

          Perbedaan kepentingan ini merupakan bibit yang akan menimbulkan pertentangan sosial (konflik). Dalam hal ini terjadinya konflik ini adalah melalui dua fase yaitu :

Fase Pertama : Terjadinya karena kesalahpahaman, sehingga menyulitkan bagi seseorang atau kelompok sosial untuk menyesuaikan diri dengan norma atau ideologi tertentu.

Fase Kedua : Timbulnya pernyataan tidak setuju dalam beberapa bentuk, seperti emosi massa yang meluap, protes, aksi mogok, pemberontakan, dan lain-lain.

          Suatu konflik bisa terjadi pada tingkat individu, artinya terjadi pada diri seseorang (konflik batin). Selain itu bisa pula terjadi pada tingkat antara individu, dan tingkat kelompok/ masyarakat.

          Dilihat dari segi sifatnya, konflik ada yang positif yang sifatnya konstruktif, dan ada pula yang negatif dengan sifatnya dekstruktif. Yang sifatnya konstruktif perlu dibina dan dilestarikan, tetapi yang sifatnya destruktif perlu dicegah.

          Prasangka dan diskriminasi adalah dua hal yang ada relevansinya. Misalnya seseorang individu yang mempunyai prasangka sosial akan bertindak diskriminatif terhadap yang diprasangkanya. Dalam hal ini prasangka, menunjukkan kepada aspek sikap, sedangkan diskriminasi dapat menimbulkan konflik sepertinya dengan perbedaan kepentingan yang dikemukakan terdahulu.

          Prasangka dapat berorientasi kepada hal-hal yang positif, tetapi juga umumnya dalam studi ilmu-ilmu sosial, terutama sosiologi diarahkan kepada sikap-sikap yang negatif. Dalam hal ini prasangka sifatnya adalah negaif. Dan ini timbul bersamaan dengan sikap-sikap lain yang pada umumnya diperoleh dari penanaman nilai-nilai tertentu dan terutama sekali oleh lingkungannya, misalnya fanatisme yang berlebih-lebihan, sehingga menimbulkan sikap apriori terhadap kelompok lain dan selalu curiga terhadap siapa saja ada di luar kelompoknya.

          Sifat apriori ialah : Mendahului pengalaman sendiri atau tidak berdasarkan pengalaman sendiri.

          Newcomb mengemukakan bahwa prasangka adalah sebagai sikap yang tidak baik dan sebagai suatu predisposisi untuk berpikir, merasa dan bertindak dengan cara yang menentang atau menjauhi dan bukan menyokong atau mendekati orang-orang lain, terutama sebagai anggota kelompok. (Newcomb, 1981, 564).

          Sikap berprasangka memang jelas tidak adil, sebab sikap yang diambil hanya berdasarkan pada pengalaman atau apa yang didengar. Apabila muncul sikap berprasangka dan diskriminatif terhadap kelompok sosial lain, atau terhadap suatu suku bangsa, kelompok etnis tertentu, bisa jadi akan menimbulkan pertentangan-pertentangan sosial yang lebih jelas.           

          Oleh sebab itu sikap ini adalah suatu sikap yang membahayakan dalam masyarakat, yang dapat merusak tatanan kehidupan sosial masyarakat, yang dengan sendirinya masalah-masalah sosial bisa muncul dalam masyarakat akibat dari orang-orang yang selalu berprasangka dan bertindak diskriminatif.

 

B.    SEBAB-SEBAB TIMBULNYA PRASANGKA DAN DISKRIMINASI SERTA USAHA-USAHA UNTUK MENGURANGINYA

          Faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya prasangka dan diskriminasi antara lain adalah :

1.  Latar belakang sejarah (perhatikan antara orang-orang Aceh dan orang-orang Batak).

2.  Faktor perkembangan sosio kultural dan situasional.

3.  Faktor kepribadian.

4.  Perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama.

 

Tugas :

Hubungan keempat faktor di atas dengan kondisi sosial dalam sejarah kebangsaan kita.

 

Sedangkan usaha-usaha yang dipandang tepat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan sikap prasangka dan diskriminasi ini antara lain sebagai berikut :

1.  Perbaikan kondisi sosial ekonomi, termasuk dalam hal ini pemerataan pembangunan dan usaha peningkatan pendapatan bagi warga masyarakat.

2.  Perluasan kesempatan belajar (dapat menghilangkan sikap prasangka pada sektor pendidikan).

3.  Sikap terbuka dan sikap lapang, yaitu upaya menjalin komunikasi secara timbal balik, sehingga masing-masing individu atau kelompok misalnya membuka diri untuk saling berdialog, sehingga terbiasa kesatuan dan persatuan.

4.  Ethnosentrisme.

 

C.   PERTENTANGAN-PERTENTANGAN SOSIAL

          Pertentangan-pertentangan sosial yang dimaksudkan di sini adalah menunjuk pada konflik sebagai salah satu bentuk dari pada interaksi sosial. (tentu Anda masih ingat pembahasan yang terdahulu), tentang bentuk interaksi sosial.

Ada tiga elemen dasar yang merupakan ciri-ciri dari situasi konflik, yaitu :

1.  Terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau bagian-bagian yang terlibat di dalam konflik.

2.  Unit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhan-kebutuhan, kepentingan-kepentingan, tujuan, masalah, nilai, sikap maupun gagasan-gagasan.

 3. Terdapat interaksi diantara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan-perbedaan tersebut.

          Konflik bisa terjadi pada taraf dalam diri, kelompok dan masyarakat. Konflik pada taraf diri merupakan pertentangan-pertentangan yang terdapat dalam diri, termasuk dalam hal ini pertentangan batin.

          Pada taraf kelompok bersumber pada konflik-konflik yang terjadi dalam diri individu, anggota-anggota kelompok berkenaan dengan tujuan-tujuan, nilai-nilai dan norma-norma yang dipelihara dalam kelompok lainnya.

 

Tugas Anda :

1.  Kemukakan contoh-contoh yang jelas berupa suatu kasus atau peristiwa yang mengandung atau menimbulkan konflik:

     a.  pada taraf diri

     b.  pada taraf kelompok

     c.  pada taraf masyarakat.

2.  Pernahkah Anda mengalami konflik, terangkan  dalam keadaan yang bagaimana.

 

Adapun cara-cara mengatasi atau pemecahan konflik dalam masyarakat adalah sebagai berikut :

1.  Elimination, yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.

2.  Subjugation atau Domination, yaitu pihak yang mempunyai kekuatan besar dapat memaksa pihak lain untuk mentaatinya.

3.  Majority rule, artinya suara terbanyak yang ditentukan dengan voting.

4.  Minority consent, artinya kelompok mayoritas yang menang sementara kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan.

5.  Compromise, mencari jalan tengah (kompromi).

6.  Integration (integrasi), mendiskusikan dan mempertimbangkan pendapat-pendapat yang bertentangan, sehingga menghasilkan keputusan yang dapat memuaskan bagi semua pihak.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar