MANUSIA DAN CINTA KASIH

MANUSIA DAN CINTA KASIH

A. CINTA KASIH
Cinta amat penting dalam kehidupan manusia. Belumlah sempurna hidup seseorang jika dalam hidupnya tidak pernah dihampiri perasaan cinta. Bahkan ada pujangga yang sampai kepada kesimpulan bahwa “mati tan cinta sama halnya dengan mati penuh dosa”.
Manusia adalah makhluk sosial dan tidak dapat hidup di dunia ini tanpa tergantung kepada pihak lain. Karenanya dalam hidupnya manusia akan terlibat atau melibatkan diri dengan makhluk lainnya, dalam hal ini bukan hanya manusia tapi juga benda-benda di sekitarnya, maka dalam kaitannya dengan istilah cinta, kata tersebut harus diartikan sebagai mencintai ataupun dicintai.
Cinta menjadi sangat menentukan bagi kehidupan kemanusiaan disebabkan antara lain karena : cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, landasan pembentukan keluarga, pemeliharaan keturunan, dasar pembentukan ikatan yang erat di masyarakat serta hubungan manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhannya sehingga manusia menyembah dan menyerahkan diri dengan ikhlas, mengikuti perintahNya dan berpegang teguh pada syariatNya.
Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk, mulai dari seseorang yang mencintai dirinya, istrinya, anaknya, hartanya dan Tuhannya. Bentuk cinta ini melekat pada diri manusia, potensi dan frekuensinya berubah menurut situasi dan kondisi yang mempengaruhinya. Pada saat baru berkeluarga, seseorang akan lebih kuat cintanya kepada istrinya, tapi setelah punya anak, cintanya akan nampak sangat besar kepada anaknya.
Cinta orangtua terhadap anaknya sangat kuat, meskipun perilaku atau perangai anak itu tidak menyenangkan bagi orangtuanya. Tetapi cinta akan terwujud dengan akhlak dan budi pekerti yang luhur. Cinta seseorang kepada orang banyak memerlukan didikan dan perjuangan, yang memandang sesama manusia sebagai kecintaan yang perlu dibela. Cinta dalam rangka perangai utama, akhlak dan budi pekerti luhur, mengandung keikhlasan, kejujuran, amanat, dan keadilan. Apabila cinta seseorang telah tumbuh, berarti orang tua mengandung hikmat yang menuntun dirinya kepada kebenaran, kebajikan, dan pengorbanan.
Sebagai manifestasi perasaan cinta, manusia mempunyai banyak lambang tentang cinta. Lambangnya dapat dengan bau bunga, warna, bunga, cium tangan, cium kening dan sebagainya. Seperti dikatakan oleh Filsuf Islam al-Kindi: “Jika bau bunga sedap malam dicampur dengan bau mawar, akan lahir bau baru yang bisa membangkitkan perasaan cinta dan bangga”. Cinta memiliki daya luar biasa pada diri manusia serta melekat dengan kuatnya. Cinta dapat sekonyong-konyong muncul dan hilang sama sekali, atau terus tumbuh seperti tumbuhnya cinta orang terhadap anak-anaknya sejak dilahirkan. Cinta dapat dilukiskan dengan memberi, bukan meminta, sebagai dorongan mulia untuk memintakan eksistensi dirinya atau aktualisasi dirinya kepada orang lain.
Dunia kita sekarang terbelenggu dengan belenggu materialisme dan tergoncang oleh hawa nafsu, vested interes, dan nafsu ananiyah (individualisme). Hati manusianya penuh dengan dendam, dengki, dan berbagai macam kebencian. Ia membutuhkan siraman cinta dan air kasih sayang untuk mengkompres luka, mencuci dengki, mendinginkan dendam, meredakan fitnah, menekan kesewenang-wenangan, menghi-langkan kebencian dan nafsu ananiyah.
Kiranya kemanusiaan hari ini, yang terus menghadap pertarungan dan ditindih beban kehidupan materialistis dan penuh luka, sangat membutuhkan cinta Islami (mahabbah Islamiyah) yang dapat mengantarkan kepada kedamaian, keamanan, dan keimanan serta persaudaraan yang suci.
Dengan demikian, kehidupan atau roh kemanusiaan yang telah hilang sekian lamanya akan kembali lagi. Dan peradaban modern dengan segala ulah dan gejolaknya yang menimbulkan berbagai macam penyakit psikis dan fisik yang sulit diobati dan memang jarang ada obatnya, diharapkan akan dapat terobati dengan cinta dengan segala maknanya, dengan ketenangan, kerilaan, kasih sayang dan kedamaian.
Pemahaman orang modern bahwa cinta adalah kebebasan tanpa batas dan ikatan serta pelepasan nafsu hewaniyah menjerumuskan mereka ke dalam kehidupan yang penuh kegoncangan, individualistik, ketidaktenagan dan beban yang semakin berat dan membelenggu.
Mereka perlu dilepaskan…. dan tiada yang dapat melepaskan serta membebaskan mereka dari semua itu kecuali dengan cinta, yaitu dengan kebenaran…. Cinta cahaya dan penerangan. Cinta keselamatan dan kedamaian. Allah-lah Zat Yang Maha Besar, Dialah pemberi cahaya, dan Dia pula pemberi keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian. Sesungguhnya dalam kitab Allah banyak membicarakan masalah cinta, menunjukkan dan membimbing ke arahnya.

B. CINTA KASIH DALAM BERBAGAI DIMENSI
Persoalan cinta pada dasarnya bukan hanya terbatas pada persoalan mencintai atau dicintai, persoalan apa yang menjadi obyek dan subyek cinta. Tapi juga mempunyai hubungan yang luas dengan berbagai konstruk lain, seperti misalnya kasih sayang, kemesraan, belas kasihan ataupun dengan aktivitas pemujaan (Djoko Widagdho, 1991 : 42).

1. Kasih Sayang
Secara longgar, kasih sayang bisa diartikan sebagai perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Dari pengertian yang sangat sederhana tersebut, tampak bahwa kasih sayang paling tidak menuntut adanya dua pihak yang terlibat di dalamnya, yaitu seseorang yang mencurahkan perasaan sayang, cinta atau suka, dan seseorang yang memperoleh curahan kasih sayang, cinta dan suka itu sendiri.
Pengalaman hidup sehari-hari memaksa kita untuk mengakui, bahwa bagaimanapun hidup kita akan memperoleh arti apabila telah bisa kita peroleh perhatian dari orang lain. Sementara ini kita sudah mengetahui pula bahwa yang namanya perhatian itu pada dasarnya merupakan salah satu unsur dasar dari cinta kasih. Perhatian tersebut bisa saja datang dari orantua, saudara, suami dan isteri, kawan atau kelompok orang yang lebih luas lagi. Pendek kata, sebagai manusia normal kita sangat membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidup kita. Hidup kita akan lebih terasa indah, bahagia dan mengesankan apabila kita telah mampu memahami berbagai perhatian orang lain.
Kasih sayang, adalah sesuatu yang indah, suci dan didambakan oleh setiap orang. Sebagaimana cinta, kasih sayang tidak akan lahir tanpa orang yang melahirkannya. Dengan kata lain, seorang tidak akan memperoleh kasih sayang apabila tidak ada orang lain yang memberi. Secara demikian wajar kalau kita mengenal berbagai macam bentuk kasih sayang, yang ini semua sangat tergantung kepada kondisi penyayang dan yang disayangi, misalnya kasih sayang orangtua kepada anaknya.
Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasihs ayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan, maka di dalam berumah tangga keluarga muda itu bulan lagi bercinta-cinta, tetapi bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.
Dalam kasih sayang ini sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling bercaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.

2. Kemesraan
Kemesraan berasal dari kata dasar “mesra”, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan ialah hubungan akrab baik antara pria-wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga.
Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih yang telah mendalam.
Yose Ortega Y. Gasset dalam novelnya “On Love” mengatakan “di kedalaman sanubarinya seorang pecinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan obyek cintanya. Persatuan sifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya”.
Di bawah sorotan pandangan evolusi, cinta menjadi lebih agung lagi, karena ia merupakan daya pemersatu dalam alam semesta, dan kondisi utama yang memungkinkan hidup. Kemampuan mencintai ini merupakan nilai pada hidup kita, dan menjadi ukuran terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam evolusi kita.
Dari uraian di atas terlihat betapa agung dan sucinya cinta itu. Bila seseorang mengobral cinta, maka orang itu merusak nilai cinta yang berarti menurunkan martabat dirinya.
Cinta yang berlanjut menimbulkan perasaan mesra atau kemesraan. Kemesraan adalah perwujudan dari cinta.

3. Pemujaan
Pemujaan adalah perwujudan cinta manusia kepada Tuhan. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini, karena pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenarnya. Dalam Surah Adz Dzariat ayat 56 Allah SWT menyatakan “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembahku”.
Tuhan adalah pencipta, tetapi Tuhan juga penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintah-Nya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi dalam hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memuja-Nya. Dalam surat Al-Mu’minun ayat 98 dinyatakan, “Dan aku berlindung kepada-Muhammad. Ya, Tuhanku dari kehadiran-Nya di dekatku”. Dan dalam Injil surat Rum ayat 1-2 berbunyi, “Memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucapkan syukur kepada-Nya”.
Jelaslah bagi kita, bahwa pemujaan kepada Tuhan adalah bagian hidup manusia, karena Tuhan pencipta semesta termasuk manusia itu sendiri, karena Tuhan pencipta semesta termasuk manusia itu sendiri. Dan penciptaan semesta untuk manusia.
Manusia cinta kepada Tuhan, karena Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kecintaan manusia itu dimanifestasikan dalam bentuk pemujaan atau sembahyang. Dalam surat An-Nur ayat 41 antara lain dinyatakan, “apakah engkau tidak tahu bahwasanya Allah itu dipuja olehs egala yang ada di langit dan di bumi………”.

4. Belas Kasihan
Cinta sesama adalah istilah lain dari belas kasihan, karena cinta di sini bukan karena cakapnya, kayanya, cantiknya, pandainya, melainkan karena penderitaan. Penderitaan ini mengandung arti yang luas. Mungkin tua, dan sakit-sakitan, yatim piatu, penyakit yang dideritanya, dan sebagainya.
Perbuatan dan sifat yang menaruh belas kasihan adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelaskasihan. Misalnya sanggupkah ia menggunggah potensi belas kasihan itu. Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang itu berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.
Dalam essay “On Love” ada pengertian bahwa cinta adalah rasa persatuan tanpa syarat. Itu berarti dalam rasa belas kasihan tidak mengandung unsur “pamrih”. Belas kasihan yang kita tumpahkan benar-benar keluar dari lubuk hati yang ikhlas. Kalau kita memberikan uang kepada pengemis agar mendapat pujian, itu berarti tidak ikhlas, berarti ada tujuan tertentu. Hal seperti itu banyak terjadi dalam masyarakat.
Dalam essay itu pula dijelaskan bahwa orang yang menaruh belas kasihan dan yang ditumpahi belas kasihan ada kebersamaan yang mendasar, maksudnya yang berbelas kasihan dapat merasakan penderitaan orang yang dibelaskasihi.

C. BERBAGAI BENTUK CINTA
Ada yang berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan agama. Tetapi dalam kenyataan hidup, manusia masih mendambakan tegaknya cinta dalam kehidupan ini. Di satu pihak, cinta didegung-degungkan lewat lagu dan organisasi perdamaian dunia, tetapi di lain pihak, dalam praktek kehidupan, cinta sebagai dasar hidup jauh dari kenyataan. Atas dasar ini, agama memberikan ajaran cinta kepada manusia. Tidak kurang seorang nabi yang bernama Ibrahim mendapat kritik tentang cinta. Suatu saat Ibrahim mendambakan seorang anak. Setelah lahir anak yang dicintainya (Ismail), ternyata cinta Ibrahim kepada anaknya dapat menggeser cintanya kepada penciptanya sendiri sehingga Tuhan mencobanya dengan menyuruh Ibrahim menyembelih anaknya. Perintah ini menumbuhkan konflik dalam diri Ibrahim, siapa yang harus dicintai, Tuhan atau anaknya.
Cuplikan peristiwa memberikan indikasi kepada kita bahwa cinta itu harus proporsional dan adil, dan jarang lupa diri karena cinta. Untuk itu agama memebrikan tuntutan tentang cinta. Berbagai bentuk cinta ini terdapat di dalam Al-Qur’an.

Cinta diri
Al-Qur’an telah mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri, kecenderungan untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindari dari segala sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya, melalui ucapan Nabi saw, bahwa seandainya dia mengetahui hal-hal yang gaib, tentu dia akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala keburukan : “………Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku akan memperbanyak kebaikan bagi diriku sendiri dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan……..” (Q : 7 : 188). Demikian pula : “Manusia tidak jemu-jemu memohon kebaikan, tetapi jika mereka ditimpa malapetaka, dia menjadi putus asa lagi putus harapan” (Q : 41 : 49). Manusia cinta pada dirinya agar terus menerus dikaruniai kebaikan, tetapi apabila ditimpa bencana, ia menjadi putus harapan.

Cinta kepada sesama manusia
Allah memerintahkan kepada manusia untuk saling mencintai di antara sesamanya. “Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Q : 49 : 10). Dalam Al-Qur’an terdapat pujian bagi kaum Anshar karena rasa cintanya kepada kaum Muhajirin. Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencitai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terahdap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka sendiri dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (Q : 59 : 9). Ciri cinta di antara sesama manusia menurut ajaran Islam ditandai dengan sikap yang lebih mengutamakan (mencintai) orang lain daripada dirinya sendiri.

Cinta seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Hal ini dilukiskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut : “Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berpikir” (Q : 30 : 21). Dalam ayat lain : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita” (Q : 3 : 14). Cinta seksual merupakan bagian dari kebutuhan manusia yang dapat melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerjasama suami dan istri. Seks merupakan faktor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga.

Cinta kebapakan
Cinta ibu kepada anaknya, atau dorongan keibuan, merupakan dorongan fisiologis. Artinya, terjadi perubahan-perubahan bahan fisiologis dan fisis yang terjadi pada diri si ibu sewaktu mengandung, melahirkan dan menyusui. Dorongan kebapakan tidak seperti dorongan keibuan, tetapi dorongan psikis. Hal ini tampak dalam cinta bapak kepada anaknya karena ia merupakan sumber kesenangan dalam kegembiraan baginya, sumber kekuatan dan kebanggaan, dan merupakan faktor penting bagi kelangsungan peran bapak dalamkehidupan, dan tetap terkenangnya dia setelah meninggal dunia. Hal ini nampak jelas pada cinta Nabi Yaqub a.s. kepada putranya, Yusuf a.s., yang membangkitkan cemburu adiknya dan dengki saudara-saudaranya yang lain. “ … Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat) … “ (Q : 12 : 8 . Demikian pula nampak cintanya Nabi Nuh a.s. kepada putranya : “Ya, Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adlnya”. (Q : 11 : 45).

Cinta Kepada Allah
Puncak cinta manusia, yang paling bening, jernih, dan spritual adalah cintanya kepada Allah dan kerinduan kepada-Nya. Tidak hanya salat, pujian dan doanya, tetapi semua tindakan dan tingkah lakunya ditujukan kepada Allah, mengharapkan penerimaan dan ridla-Nya. Dalam firman Tuhan : “Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (Q : 3 : 31).
Cinta seorang mukmin kepada Allah melebihi cintanya kepada segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan ini, melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, anak-anaknya, istrinya, kedua orang tuanya, keluarganya dan hartanya. “Katakanlah : Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dasik”. (Q : 9 : 24).
Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan merupakan pendorong dan mengarahkannya kepada penundukan semua bentuk kecintaan lainnya. Cinta kepada Allah akan membiat seseorang menjadi mencintai sesama manusia, hewan, semua makhluk Allah, dan seluruh alam semesta. Hal ini terjadi karena semua yang wujud dipandang sebagai manifestasi Tuhannya, sebagai sumber kerinduan spritualnya dan harapan kabulnya.

Cinta Kepada Rasul (Muhammad)
Cinta kepada Rasul Muhammad merupakan peringkat kedua setelah kepada Allah. Hal ini disebabkan karena Rasul Muhammad bagi kaum muslimin merupakan contoh ideal yang sempurna bagi manusia, baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat leluhur lainnya. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q : 64 : 4). Cinta kepada Rasul Muhammad ialah karena beliau merupakan suri teladan, mengajarkan Al-Quran dan kebijaksanaan. Muhammad telah menanggung derita dan berjuang dengan penuh tantangan sampai tegaknya agama Islam.

Cinta Kepada Orangtua
Cinta kepada ibu-bapak dalam ajaran agama Islam sangat mendasar, menentukan ridha-tidaknya Tuhan kepada manusia. Sabda Nabi Muhammad saw. “Keridhaan Allah bergantung pada kemurkaan kedua orang tua pula” (Hadits Riwayat At-Turmidzy). Khusus mengenai cinta kepada kedua orang tua ini, Tuhan memperingatkan keras melalui ajaran akhlak mulia dan langsung dengan tata kramanya. “Dan Tuhan telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, danhendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-sebaiknya. Jika salah seorang dari keduanya samapi berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Q : 17 : 23 : 24).
Seluruh uraian tentang konsep cinta menurut ajaran Islam memberikan kejelasan bahwa makna cinta menirit ajaran agama berbeda dengan makna cinta menurut kajian filsafat. Konsep cinta menurut ajaran agama sifatnya lebih realis dan operatif, sedangkan dalam konsep filsafat gambarannya bersifat abstrak. Dalam agama, cinta adalah suatu dinamisme aktif yang berakar dalam kesanggupan kita untuk memberi cinta, dan menghendaki perkembangan dan kebahagiaan orang yang dicintai. Apabila ada orang yang egois tak dapat mencintai orang lain, sesungguhnya ia sendiri tidak dapat mencintai dirinya sendiri. Karenanya, konsep cinta dalam ajaran agama Islam dirinci sehingga cinta bersifat menyeluruh dan eksistensial. Oleh karena itu, akan lebih baik apabila wawasan pemahaman ini dipadukan dalam pola pikir dan pola tindak seseorang guna mencapai segi kemanusiaan dan aspek teologisnya cinta.

D. CINTA KASIH EROTIS
Cinta kasih kesaudaraan merupakan cinta kasih antar orang yang sama dan sebanding, sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang lemah yang tanpa daya. Walaupun terdapat perbedaan besar antara kedua jenis tersebut, kedua-duanya mempunyai kesamaan bahwa pada hakikatnya cinta kasih tidak terbatas kepada seorang saja. Bila saya kasihi saudara saya, semua anak saya, di samping itu bahwa saya kasihi semua anak-anak yang membutuhkan saya. Berlawanan dengan kedua jenis cinta kasih tersebut ialah cinta kasih erotis, yaitu kehausan akan penyatuan yang sempurna, akan penyatuan dengan seseorang yang lainnya. Pada hakikatnya cinta kasih tersebut bersifat ekslusif, bukan universal, dan juga barangkali merupakan bentuk cinta kasih yang paling tidak dapat dipercaya.
Pertama-tama cinta kasih erotis kerap kali dicampur baurkan dengan pengalaman yang eksplosif berupa jatuh cinta, yaitu keruntuhan tiba-tiba tembok yang sampai waktu itu terdapat diantara dua orang asing satu sama lain. Tetapi, seperti yang dikatakan terlebih dahulu, pengalaman intimitas, kemesraan yang tiba-tiba ini pada hakikatnya hanyalah sementara saja. Bilamana orang asing tadi telah menjadi seseorang yang diketahui secara intim, tak ada lagi rintangan harus diatasi, tidak ada lagi kemesraan tiba-tiba yang harus diperjuangkan. Pribadi yang dicintai telah dipahami orang seperti dirinya sendiri. Atau barangkali harus dikatakan “kurang” dipahami seperti dirinya sendiri. Apabila terdapat perasaan yang lebih mendalam terhadap pribadi yang lain apabila orang dapat mengali ketakterhitungan pribadi nya sendiri, maka pribadi orang lain tidak pernah akan begitu biasa baginya, dan keajaiban mengatasi rintangan-rintangan dapat terjadi lagi berulang-ulang tiap hari. Tetapi, untuk kebanyakan orang pribadinya, seperti juga pribadi orang lain, mudah dipahami cukup lengkap. Untuk mereka intimitas atau kemesraan itu terutama diperoleh dengan cara hubungan seksuil. Karena mereka mengalami keterpisahan orang lain terutama sebagai keterpisahan fisik, maka dengan mengadakan penyatuan fisik, orang telah mengatasi keterpisahan tersebut, demikian anggapannya.
Di samping itu terdapat pula faktor-faktor lain yang untuk banyak orang mempunyai arti sebagai cara-cara mengatasi keterpisahan, seperti bercakap-cakap tentang kehidupan pribadi, tentang pengharapan-pengharapan dan kecemasannya, menampakkan diri dengan segi-segi keanehannya, mengadakan hubungan dan minat yang sama terhadap dunia sekitar, semuanya itu dilaksanakan untuk mengatasi keterpisahan. Bahkan dengan memperlihatkan kemarahannya, kebenciannya, dan memperlihatkan kekurangannya menahan diri, semuanay dianggap bahwa telah dicapai intimitas. Hal ini dapat menerangkan adanya daya tarik pervesi (busuk). Yang kerap kali terdapat diantara sepasang pengantin yang rupa-rupanya hanya dapat berdekatan (intim) yang satu terhadap yang lain bila mereka berada di tempat tidur atau bila mereka saling melepaskan amarahnya terhadap satu sama lain. Tetapi semua jenis intimitas semacam ini kian lama kian cenderung untuk berkurang. Akibatnya ialah bahwa orang mencari hubungan cinta kasih dengan orang lain, dengan seorang asing baru yang kemudian pada gilirannya diubah lagi menjadi dangkal sehingga berakhir dengan keinginan untuk menaklukkan sekali lagi, untuk memperoleh cinta baru lagi, senantiasa dengan berilusi bahwa cinta yang baru itu akan berbeda pula dengan yang sudah-sudah. Ilusi-ilusi ini sangat mudah diperoleh karena sifat keinginan seksual yang sangat mudah menipu diri orang.
Keinginan seksual menuju kepada penyatuan diri, tetapi sekali-kali bukan merupakan nafsu fisis belaka, untuk meredakan ketegangan yang menyakitkan. Keinginan seksual dapat distimulasi, dirangsang oleh ketakutan karena rasa sepi, oleh keinginan untuk menaklukkan atau untuk ditaklukkan, oleh keangkuhan, oleh keinginan untuk menyakiti, bahkan oleh keinginan untuk memusnahkan. Semua ini dapat memberikan stimulasi yang sama beratnya dengan cinta kasih. Rupa-rupanya keinginan seksual dengan mudah dapat dicampuri atau distimulasi oleh tiap-tiap perasaan yang mendalam, sedangkan cinta kasih merupakan salah satu diantaranya. Oleh karena bagi kebanyakan orang keinginan seksual senantiasa disamakan dengan gagasan cinta kasih, mereka mudah terbawa oleh kesimpulan yang salah bahwa mereka sedang mencintai dan mengasihi yang lain., sedangkan yang sebenarnya terjadi ialah bahwa mereka menginginkan secara fisis.
Cinta kasih dapat merangsang keinginan untuk bersatu secara seksual. Dalah hal ini hubungan fisis tadi tidak memperlihatkan sifat-sifat yang rakus dan serakah dalam keinginannya untuk menaklukkan atau untuk ditaklukkan, tetapi akan tercampur dengan kehalusan bertindak serta kemesraan. Apabila keinginan untuk penyatuan fisis tidak dirangsang oleh cinta kasih, apabila cinta kasih erotis tidak juga merupakan cinta kasih kesaudaraan, ia hanya akan membawa kita kepada penyatuan yang bersifat orgiastis (pesta pora) dan sementara saja. Daya tarik seksual untuk sementara waktu menimbulkan khayalan penyatuan. Namun, tanpa cinta kasih, sebenarnya cinta kasih ini membiarkan dua orang asing tetap berjauhan yang satu dengan yang lain seperti sebelumnya. Kadang-kadang hal itu menimbulkan rasa malu diantara mereka, bahkan menimbulkan rasa benci yang satu terhadap yang lain karena, apabila khayalan telah hilang, merasa lebih-lebih merasakan keasingan mereka yang satu terhadap yang lain. Kemesraan bukan sama sekali merupakan sublimasi naluri-naluri seksual seperti yang diyakini oleh Freud, melainkan merupakan hasil langsung dari cinta kasih kesaudaraan, dan terdapat baik dalam bentuk-bentuk cinta kasih fisis maupun psikis.
Dalam cinta kasih erotis terdapat eksklusivitas yang tidak terdapat dalam cinta kasih kesaudaraan dan cinta kasih keibuan. Ciri-ciri eksklusif dalam cinta kasih erotis disalahtafsirkan dan diartikan sebagai ikatan hak milik. Sering kita jumpai sepasang orang yang sedang saling mencintai tanpa merasakan cinta kasih terhadap setiap orang lainnya. Cinta kasih mereka sebenarnya merupakan semacam egoisme dua orang – mereka merupakan dua orang yang saling menemukan kesamaan dan yang telah mengatasi keterpisahannya dengan cara “satu individu mewakili dua individu”. Mereka mempunyai pengalaman mengatasi keterpisahan. Namun, karena mereka sendiri terpisah dari sisa kemanusiaan itu, mereka tetap terpisah yang satu dari yang lain, dan tetap asing terhadap diri sendiri. Pengalaman mereka tentang penyatuan merupakan suatu ilusi. Cinta kasih erotis itu eksklusif, tetapi di dalam cinta kasih kepada seseorang dapat menyatukan dirinya secara lengkap dan intensif dengan satu orang lain saja. Cinta kasih erotis mengeksklusifkan cinta kasih terhadap orang lain hanyalah dalam segi-segi fusi erotis dan keikutsertaan selengkapnya dengan semua aspek kehidupan orang-orang lain, tetapi bukan dalam arti cinta kasih kesaudaraan yang mendalam terhadap orang lain.
Cinta kasih erotis, apabila ia benar-benar cinta kasih, mempunyai satu pendirian, yaitu bahwa seseorang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya. Pada hakikatnya semua makhluk manusia itu identik. Kita semuanya merupakan bagian dari Satu; kita merupakan Satu. Karena demikian halnya, maka sebenarnya tak usahlah kita ambil pusing siapa yang kita cintai dan kasihi. Cinta kasih pada hakikatnya merupakan suatu perbuatan kemauan, suatu putusan untuk mengikat kehidupan dengan kehdiupan seseorang lain. Hal ini memanglah merupakan dasar gagasan bahwa suatu pernikahan tradisional, yang kedua mempelainya tidak pernah memilih jodohnya sendiri , tetapi telah dipilihkan untuknya oleh orang lain, yang diharapkan ialah bahwa mereka akan saling mencintai dan mengasihi. Dalam kebudayaan Barat zaman sekarang, gagasan ini ternyata tidak dapat diterima sama sekali. Cinta kasih dianggap sebagai hasil suatu reaksi emosional dan spontan, seolah-olah kita dengan tiba-tiba tercekau oleh perasaan yang tidak dapat dielakkan. Menurut pandangan ini, orang hanya memperhatikan dan mengabaikan fakta bahwa semua lelaki merupakan bagian dari Adam, dan bahwa semua wanita merupakan bahagian dari Hawa. Ada pula orang yang memandang bahwa faktor yang penting di dalam cinta kasih erotis itu adalah keinginan.
Mencintai dan mengasihi seseorang bukan hanya merupakan yang kuat, melainkan merupakan suatu putusan, suatu penilaian, suatu perjanjian. Apabila cinta kasih hanya merupakan perasaan saja, tidak ada dasarnya untuk saling berjanji akan mencintai dan mengasihi untuk selama-selamanya. Perasaan itu dapat timbul tenggelan pula. Bagaimanakah saya dapat memastikan bahwa itu akan menetap selama-lamanya bila perbuatan saya tidak mengandung suatu penilaian dan putusan.
Dengan memperhatikan pandangan-pandangan ini , orang dapat sampai kepada pendapat bahwa cinta kasih hanyalah merupakan perbuatan kemauan dan mengikat diri saja sehingga pada dasarnya tidak usah diperdulikan siapa-siapa kedua orang yang terlibat ataukah mereka merupakan hasil pilihan individual, hal itu bukan menjadi soal. Yang terpenting sesudah pernikahan itu dilangsungkan ialah bahwa perbuatan kemauan seharusnya menjamin kelangsungan sinta kasih. Pandangan in rupa-rupanya mengabaikan ciri paradoks hakikat manusiawi dan cinta kasih erotis. Kiata semuanya Satu, namun tiap-tiap diantara kita merupakan mahkluk unik yang khas yang tidak ada “diplikat”-nya. Dalam hubungan kita dengan orang-orang lain, paradoks itu juga berlaku. Sejauh itu merupakan Satu, kita dapat mencintai dan mengasihi tiap-tiap orang lain secara sama dalam arti cinta kasih kesaudaraan. Tetapi sejauh kita dalam pada itu juga berbeda, cinta kasih erotis menurut adanya unsur-unsur sangat khas dan individual yang terdapat di antara beberapa orang tertentu saja, tetapi tidak pada semua orang.
Dengan demikian maka, baik pandangan bahwa cinta kasih erotis merupakan atraksi individual belaka maupun pandangan bahwa cinta kasih erotis itu tidak lain dari pada perbuatan kemauan, kedua-duanya benar, atau lebih tepat jika dikatakan bahwa kebenaran tidak terdapat pada yang satu, juga tidak pada yang lain. Oleh karena itu, gagasan bahwa hubungan bersukses di dalamnya, merupakan gagasan bahwa hubungan pernikahan musah saja dapat diputuskan apabila orang tidak bersukses di dalamnya, merupakan gagasan yang sama sekali keliru dengan gagasan bahwa hubungan semacam itu, di dalam keadaan bagaimana pun, tidak boleh diputuskan.

Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s